
Deretan foto-foto Luna menikah dengan Surya tersebar di setiap sudut fakultas sastra. Semua foto mesranya dengan Dimas ada di samping foto pernikahannya. Banyak anak sastra yang tahu kalau Luna sering jalan dengan Dimas. Banyak anak sastra yang menganggap mereka pacaran, namun tak pernah menyangka kalau nyatanya Dimas juga adalah anak tiri Luna. Luna adalah istri dari Surya, papanya Dimas.
"Sudah anak koruptor, surgar baby, kini tukang selingkuh. Rakus banget sih, bapak sama anaknya diembat. Gila plcr berkelas ini ma."
"Bener banget, sialan gue jadi ngerasa kasihan sama bapaknya Dimas. Dibohongi sama istri muda."
"Mungkin Luna kurang puas sama burung suaminya, lagian tetap enak kan sama yang lebih muda donk."
Sunggingan miring langsung memenuhi fakultas sastra, membuat Luna sontak menghentikan langkahnya dan gemetaran. Tubuh Luna melemas, pergunjingan mereka membuat hati Luna ambles. Tikaman demi tikaman kata-kata membuat jantung Luna nyut nyutan, tanpa sadar keringat dingin membanjiri pelipis sampai ke telapak kakinya.
Luna mencabuti semua foto-foto yang memuat perselingkuhannya itu dengan cepat. Namun foto itu terlalu banyak. Terpajang di sebua sudut dinding ruang kelas, terpajang di tiap dinding pengumuman, terpajang di setiap pojok papa berita.
Luna menangis dengan tubuh terus bergetar, Luna ketakutan, belum pernah ia merasakan ketakutan yang begitu besar selama ia hidup. Ketakutan itu menggerogoti pikiran Luna.
Kata-kata jijik, plcur, tukang selingkuh, pezinah, sampai sampah masyarakat terus terngiang di telinga Luna. Ia merasa sangat kotor dan hina.
"WAAAA!!" Luna berteriak dan langsung pergi meninggalkan kampus. Luna menghentikan sebuah taxi. Di dalam ia terus menangis sepanjang perjalanannya pulang.
Dengan jemarinya yang gemetaran Luna langsung menghubungi Dimas dan bukan Surya.
"Dim, Dimas ..."
__ADS_1
"Luna, kenapa menangis??" Dimas yang tengah berada di proyek pembangunan terpaksa menghentikan pekerjaannya dan sedikit menjauh ke tempat yang lebih sepi. Ia menerima panggilan Luna dengan cemas karena suara Luna terdengar sengau. Sepertinya gadis itu menangis kencang.
"Aku takut, Dim. Takut!!" Luna menangis, ia mengusap air matanya yang terus luruh.
"Kenapa, Luna?? Apa yang terjadi, ceritakan pelan-pelan padaku. Kalau kamu terus menangis aku tak bisa melakukan apa pun." Dimas melihat ke sekeliling, panas matahari menyengat membuatnya banjir keringat. Apa lagi setelah mendengar semua penjelasan dari Luna tentang kejadian hari ini. Entah kenapa keringat mengucur dengan sangat deras, panasnya matahari kalah dengan kegundahan hatinya.
Jantung Dimas tak hanya tersentak, sekujur tubuhnya juga sangat terintimidasi dengan gelora rasa yang berbaur menjadi satu. Dimas terhenyak sesaat, berpikir dengan keras.
Dimas mengusap wajahnya yang penuh keringat. Apa yang harus ia lakukan??
.
.
.
Anak koruptor.
Tukang selingkuh
Plcr
__ADS_1
Semua hal kotor melekat pada namanya yang indah. Luna sampai sesak napas karena depresi. Tekanan batin ini terlalu sulit untuk Luna tahan lagi.
"Luna!!" Dimas terengah-engah, secepat kilat ia berusaha menemui Luna. Dimas mengebut dengan kecepatan ektra untuk kembali ke rumahnya. Hari sudah senja, matahari tampak menguning di ujung kaki cakrawala.
"Dimas!!" Luna bangkit ia langsung berlari dan memeluk Dimas.
"Beresin barang-barangmu Luna. Bawa saja yang perlu. Juga uang cash. Kita kabur saja dari rumah, tinggalkan semua ini. Tinggalkan dunia ini. Turuti saja kata-kataku untuk kawin lari." Dimas menggenggam tangan Luna.
"Tapi ..." Luna masih gagam.
"Cepat atau lambat papa akan tahu hubungan kita. Cepat atau lambat aku akan menghadapi papa. Lebih baik aku di hajar dan dianggap anak durhaka, namun aku bisa membebaskanmu dan mengejar cinta kita, Luna. Aku nggak mau menyesal seumur hidupku dan jadi seorang pecundang yang hanya bisa bersembunyi dan lari dari kenyataan." Dimas mengepak pakaian Luna ke dalam koper.
"Dimas..."
Dimas langsung menangkup dan mengecup bibir Luna, melu matnya dengan sangat dalam dan penuh tenaga. Dimas tak tahan lagi melihat Luna bersedih, tak tahan lagi melihat gadis itu ketakutan dan menangisi nasibnya yang buruk. Dimas ingin menjadi alasan Luna bahagia dan tersenyum, bukannya malah menjadi alasan Luna menangis dan ketakutan begini.
"Ayo kita pergi! Percayalah padaku! Aku akan menanggung semua hukumannya." Dimas mendorong koper Luna, ia menggenggam erat tangan mungil kekasihnya.
Sore itu Luna mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya, meninggalkan rumah kediaman Prasetya dan mengikuti kekasihnya pergi. Luna melupakan jati dirinya sebagai istri dari Surya.
"Kita mau ke mana, Dim?"
__ADS_1
...-- BERSAMBUNG --...