Terjerat Pesona Ibu Tiri

Terjerat Pesona Ibu Tiri
Semakin Berani


__ADS_3

"Pertanyaanmu ini aneh. Coba kalau papa balik, bila kamu ditanya mana yang lebih kamu sayang? Kamu jawab apa? Papa atau Mama??" Surya menatap tajam putranya dan bertanya balik.


"Siapa ya?" Dimas mengggosok dagunya menimbang-nimbang. Luna menghindari tatapan mata Dimas dan fokus untuk menyendok sup nya masuk ke dalam mulut. Dimas melihat ke arah Luna lantas membuka mulutnya, ia sudah punya jawabanZ


"Tentu saja lebih sayang sama mama," tandas Dimas.


"Uhuk!! Uhuk!!" Luna tersedak, bisa-bisanya Dimas mengatakan di depan Surya kalau ia lebih sayang kepada Luna. Begitu tersirat tanpa embel-embel apa pun. Dimas menyeringai, ia berhasil mengambil atensi gadis berlesung pipi itu.


"Kamu lebih sayang mama?" Surya mengeryit, sementara Luna tangannya menepuk dada agar gatalnya hilang.


"Iya donk. Mama yang ngelahirin Dimas, kasih minum susu, gantiin popok, cebokin, madiin, semuanya mama. Papa cuma bisanya kerja cari duit mulu. Ya sudah pasti Dimas lebih sayang sama Mama donk." Dimas menyangga kepala di telapak tangan.


"Ck, dasar. Papa cari uang juga buat kamu tahu!! Kalau nggak cari uang kamu makan apa?" Surya mengusik kepala Dimas.


Luna bisa bernapas lega, ia pikir mamanya yang disebut oleh Dimas adalah Luna. Bisa-bisa rencana Luna untuk menyelamatkan papanya lewat bantuan Surya runyam. Dimas melirik Luna yang sudah berhasil menghentikan batuknya lalu membuat tanpa V dengan jarinya, membuat Luna kembali membuang wajahnya jauh-jauh.


Keluarga besar itu mulai makan malam dengan lahap, masakan rumahan memang yang terbaik. Apa lagi masakan Luna sungguh enak. Surya sudah jenuh memakan masakan luar pulau yang tidak cocok bergoyang di lidahnya. Rindu masakan istrinya yang selalu menggunakan bahan segar dari pasar.


Dimas mencuri pandang ke arah Luna, sesekali ia mengelus betis Luna dengan kakinya. Membuat Luna merinding.


"Dimas!!" Tegur Luna saat Surya berpaling sesaat untuk menengok ponselnya.


"Ssssttt!!" Dimas mengedipkan sebelah mata.


Luna mulai lelah dengan sikap Dimas yang kekanak kanakan. Cemburu sih cemburu, tapi bukan begini caranya menyalurkan rasa cemburu. Sikapnya bisa membuat mereka berdua kena masalah.


.


.


.

__ADS_1


Keesokkan harinya.


Week end. Luna dan Dimas libur, begitu pula Surya. Ia memilih menikmati liburannya dengan santai bersama keluarga. Mungkin menonton tivi atau mengurus taman. Karena hari ini hujan turun sejak tadi pagi, maka Surya memutuskan untuk menonton film saja.


Setelah sarapan pagi mereka bertiga duduk di sofa ruang keluarga. Menonton film bersama, cerita superhero yang belum sempat mereka tonton karena dulu sibuk merawat mama Johana. Dimas memang sangat mencintai wanita itu, menyayanginya hingga tak pernah pergi sedetik pun dari sisinya. Kuliah terbengkalai, jadwal pertandingannya ikutan kacau, dan setelah apa yang ia korbankan, kangker itu tetap saja merenggut nyawa sang mama.


"Film ini bagus."


"Yup, namanya juga fantasi. Kalau kenyataan juga tak akan mungkin bisa berjalan seindah ini." Dimas menimpali.


"Yup."


Mereka melanjutkan menonton televisi. Luna datang, dengan senampan penuh berisi minuman dan camilan. Teh hangat dengan madu dan lemon, juga beberapa kudapan manis dan asin dalam toples kaca.


"Nggak bilang sih, Ma. Kan Dimas bisa bantuin."


"Nggak usah, Dim. Santai aja." Luna menaruh nampan dan menuangkan teh lemon ke cangkir untuk suami dan anak tirinya.


"Iya, Mas. Luna kasih sedikit bubuk cinamon biar relaks." Luna menyeduh air teh dengan sebatang kecil kayu manis, resep andalan mamanya saat masih hidup. Papanya sering bekerja siang dan malam sampai kelelahan, dan mamanya selalu membuat teh ini agar suaminya tetap relaks. Mungkin kehilangan istri tercintalah yang membuat Benny menyimpang dari jalannya yang lurus. Ah ... memang peran seorang istri itu begitu besar dalam keberhasilan suami. Istri sungguh penolong yang sejati.


"Minum ini, Dimas. Kamu juga pasti lelah dengan kegiatan semester akhirkan." Luna menimpali.


"Yup, makasih, Ma."


Surya senang melihat Dimas dan Luna bisa akur. Dulu Surya sempat berpikir dia akan hidup di neraka setiap harinya karena penolakan Dimas. Tapi pikirannya salah, keduanya justru terlihat saling menghormati selayaknya ibu dan anak sungguhan.


"Sini!" Surya menepuk sofa di sampingnya, meminta Luna untuk duduk bersamanya menonton film. Luna menurut, ia duduk di antara Surya dan Dimas.


Jemari Dimas bergerak ke tangan Luna, mereka berdua bergandengan tangan di bawah bantal sofa. Terlihat jarak mereka sedikit jauh namun lewat tangan mereka terasa begitu dekat.


Rasanya mendebarkan, namun juga sangat nyaman di saat yang bersamaan. Selingkuh di depan suaminya sendiri sungguh tak pernah terbesit dalam benak Luna. Tapi, rasa yang ditawarkan dari perselingkuhan itu sungguh membuat Luna tak mampu menahan hasratnya sendiri. Luna tak bisa menolaknya, sensasinya terlalu mendebarkan, adrenalinnya membuat Luna mengalami eforia yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

__ADS_1


Di kala tangan kanan berkelung di lengan kekar Surya, tangan kirinya tertaut erat dengan jemari Dimas. Di kala kepalanya bersandar di pundak sang suami matanya sibuk menatap ke arah anak tirinya yang tampan. Bila ada yang tahu, orang mungkin sudah menganggapnya sebagai wanita bejad dan juga perempuan gatal, tapi sekali lagi Luna tak peduli. Selama ia bisa mendapatkan kebahagiaan yang telah lama ia idam-idamkan.


Dosa yang membuatnya kecanduan itu begitu sulit untuk di tolak. Dimas yang melihat sorot mata cantik Luna menjadi semakin berani untuk menyentuh Luna di depan papanya.


"Dingin?" tanya Dimas?


"Lumayan." Luna mengangguk.


"Mau Mas ambilin selimut?" tanya Surya.


"Biar Dimas aja, Pa." Dimas bangkit, tak lama Dimas kembali dengan bed cover warna pink bergambar bunga-bunga. Dimas memberikannya pada Luna.


"Makasih, Dim."


Dimas pergi ke kamar kecil sementara Luna menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Ia tahu, itu selimut hanyalah kode dari Dimas supaya bisa semakin erat memadu cinta tanpa ketahuan oleh Surya.


Sensasi mendebarkan inilah yang membuat mereka berdua kecanduan. Luna menelan ludah dengan berat begitu Dimas kembali duduk di sampingnya.


Sementara Surya menikmati filmnya. Dimas dan Luna justru menikmati adegan panas yang mulai terjadi di antara mereka berdua.


Dimas yang semakin berani menunjukan ungkapan sayangnya membuat Luna semakin tak berdaya dan jatuh dalam candunya. Luna mengigit bibir bawahnya, memejamkan mata dengan erat saat tangan besar Dimas perlahan masuk ke balik selimut, mengelus lembut paha Luna.


Luna menggerakkan kakinya sen-sual saat Dimas mulai masuk ke dalam roknya. Jemari Dimas yang hangat mulai mengusap inti tubuh Luna yang masih berbalutkan clna dlm.


Dimas memanjakan Luna. Membuat wanita itu kelimpungan sendiri karena saat ini ia tak bisa bergerak apa lagi men-de-sah. Wajah Luna sudah sangat merah karena menahan kenikmatan yang diberikan oleh Dimas tanpan bisa merancau.


Sekejap kemudian, Luna merasakan energy mulai meluap dari bagian inti tubuhnya.


Bagaimana ini?? Luna akan pelepasan!! Bagaimana kalau sofanya basah semua??


...-- BERSAMBUNG--...

__ADS_1


__ADS_2