
Suara ******* Luna dengan sang ayah terdengar dari balik pintu kamar utama. Dimas yang lewat di depan kamarnya terpaku. Hatinya sakit sekali mendengar suara rintihan Luna.
[Apa kamu sungguh bahagia bersama dengan papaku?] batin Dimas.
Dimas mengepalkan tangannya menahan kemarahan. Ia harus lekas pergi dari sana atau hatinya akan semakin teriris oleh kesesakkan ini.
Dimas melangkah ke garasi, mengambil motor sportnya dan pergi dari kediaman Prasetya. Garasi besi besar terbuka sendiri, satpam menundukan kepala saat Dimas lewat.
"Kemana Den Dimas malam-malam gini?"
Dimas pergi ke club. Tak biasanya Dimas yang sifatnya lurus berinisiatif untuk pergi ke tempat penuh mak-siat itu. Dimas ingin menghabiskan malam bersama dalam luapan alkohol. Ingin meredam hatinya yang terus bergemuruh.
Hujan turun rintik-rintik. Membasahi jalanan di sepanjang jalur utama menuju ke pusat kota. Dimas menutup helm dan mengebut semakin kencang, ia tak ingin perjalanannya tertunda karena hujan deras.
.
.
.
Hingar bingar khas suasana diskotik langsung menyambut kedatangan Dimas. Aroma alkohol berbaur dengan asap rokok. Beberapa pasangan sibuk bercum-bu, sementara yang lain berbaur di lantai dansa untuk menari dengan penuh semangat. Tak ada batasan, yang penting mereka bisa menyalurkan hobi dan keinginannya.
Dimas mulai berbaur dengan kerumunan. Wajahnya yang tampan dan bodynya yang tinggi kekar membuat banyak pasang mata menatap kehadirannya. Beberapa wanita bahkan sengaja lewat dan menyentuh dada bidang Dimas seakan menggodanya. Siapa tahu mereka bisa beruntung menjadi pasangan cinta satu malam dimas hari ini.
Namun sayang, Dimas sama sekali belum menemukan wanita yang tepat. Semua wanita cantik itu tak ada yang bisa menandingi pesona bidadari bernama Luna.
"Very Berry satu." Suara yang terdengar tidak asing menyita perhatian Dimas.
"Karina?" Dimas melihat teman kampusnya itu tengah duduk di depan meja bar sembari memesan gelas keduanya.
"Dimas?? Ngapain lo di club??" Karina tak menyangka Dimas bisa nakal juga.
__ADS_1
"Pesen satu, sama dengan dia." Dimas duduk di depan Bar lalu menyulut rokoknya. setelah meniupkan hisapan pertamanya, Dimas menjawab pertanyaan Karina, "Ck, gue nggak cupu-cupu banget kali! Ini bukan pertama kalinya gue ke club. Cuman ya memang dulu gue nggak suka ke club. Ngabisin duit doang."
"Ck, bercanda lo!! Anaknya Om Surya kok kehabisan duit!" Karina bergeleng. Dimas bukan berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Surya punya banyak duit, dia kaya raya.
"Yang kaya bokap gue! Gue cuma dapat jatah saku bulanan." Dimas terkikih pelan.
"Semua harta bokap lo juga bakalan jadi milik lo! Nggak usah sok miskin!!" ledek Karina.
"Nggak kalau Luna punya anak lagi. Warisannya di bagi dua." Dimas terkikih lebih keras, namun ada kesedihan di balik tawanya yang renyah.
"Luna, apa kabar dia?"
"Entahlah."
"Lo berhasil bikin bokap lo pisah sama Luna?" Karina merebut rokok dari tangan Dimas dan ikut menghisapnya.
"Nggak. Luna masih jadi ibu tiri gue. Dan gobloknya lagi, gue jatuh cinta sama Luna." Dimas menghela napas, ia menenggak habis coctail di depannya dan memesan satu lagi yang jauh lebih keras.
"Sory, gue dulu marah-marah sama elo. Nggak seharusnya gue emosi." Dimas menepuk pelan tangan Karina yang ada di dekat gelas.
"No prob." Karina tersenyum simpul.
"Gue nggak tahu mesti bilang apa ke elo, Rin. Elo baik banget ke gue. Bahkan setelah gue maki-maki elo aja elo masih mau nyapa gue," ujar Dimas.
"Kalau gue bilang gue suka sama elo, elo percaya nggak??" Karina menggenggam tangan Dimas.
Keduanya saling bersitatap sesaat, Dimas melihat wajah cantik Karina. Karina tipe wanita kota dengan dandanan yang bold, dia berjiwa bebas dan sangat percaya diri. Tipe wanita mandiri, pintar, dan cantik. Di kampus pun Karina adalah seorang primadona.
"Jangan bercanda, Rin. Kita sahabatan udah lama!" Dimas mengangkat tangannya, satu gelas lagi.
"Gue nggak pernah bercanda masalah perasaan, Dim. Gue tahu elo saat ini pasti lagi galau karena Luna. Tapi sadar, Dim, Luna bukan milik elo dan selamanya elo nggak akan bisa jadi kekasihnya. Dia itu ibu tiri lo, Dim, istri bokap lo!!" tutur Karina tangannya menggenggam erat tangan Dimas. Berusaha menyadarkan pemuda itu kalau perasaannya sia-sia, cintanya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Dimas terdiam, mungkin merenungkan kata-kata Karina. Dimas menenggak lagi minuman di atas meja yang baru saja di sodorkan oleh bartender. Kepala Dimas mulai pusing dan tubuhnya merasa ringan. Eforia dari efek alkohol mulai terasa.
"Sudah jangam minum lagi!!" larang Karina, namun Dimas tetap menenggaknya. Alis Karina menyatu karena iba. Tatapannya penuh cinta dan ia merindukan sosok Dimas yang penuh keceriaan.
"Lo bener, Rin," lirih Dimas.
"Gue bisa kok bantu lo ngelupai Luna. Mungkin dengan punya kekasih, lo bisa belajar untuk menumbuhkan cinta yang baru." Karina tersenyum manis.
Dimas mengangguk, keduanya saling mendekat, wajah mereka semakin dekat sampai bisa merasakan hembusan napas masing-masing. Dimas dengan perlahan dan penuh penekanan mengecup bibir Karina. Dimas bergerak pelan saat menikmati alunan bibir Karina yang melu-mat bibirnya.
Mereka berdua saling *******, menggali rasa manis dan juga madu dari bibir pasangan masing-masing. Di tengah ciuman mesra itu, Dimas justru membayangan wajah Luna. Hanya Luna yang muncul di dalam benak Dimas. Kemunculan Luna membuat Dimas semakin tersiksa. Ia merasa telah terlampau jauh dalam mencintai gadis itu dan tak ingin mundur. Tak ingin mengalah akan perasaannya. Cintanya juga sama besarnya dengan cinta yang dimiliki sang ayah untuk Luna. Dimas akan memperjuangkan cintanya meski itu berarti ia harus menjadi anak durhaka.
"Maaf, Rin. Gue nggak bisa!!" Dimas bangkit meninggalkan Karina yang mematung seorang diri. Setelah ciuman yang cukup intens, Dimas pergi meninggalkannya demi cinta seorang ibu tiri?? Memangnya apa pesona Luna sampai Dimas begitu tergila-gila kepadanya?
.
.
.
Dimas terpengaruh efek alkohol, jalan saja miring-miring, tapi ia nekat menyetir motornya kembali ke rumah. Banyak yang telah menasehati Dimas agar menggunakan jasa pengawal atau menggunggu sampai efek pegarnya menghilang, namun Dimas tak bergeming. Ia terus menolak.
Dimas merasa kepalanya begitu berat, pandangannya kabur dan banyak fantasi liar terbayang di benaknya. Itulah efek alkohol yang baru saja ia habisakan.
Saat Dimas bergeleng untuk memikirkan track mana yang harus ia ambil untuk bisa tiba di rumahnya, bamun tiba-tiba dari arah yang berlawanan, sebuah truk besar mengagetkan Dimas.
"TIIIINNNN!!!" Bunyi klakson membuat Dimas oleng, ia terjatuh dan motornya.
BRRUUUKKK !!
...-- BERSAMBUNG --...
__ADS_1