
Cinta memang indah. Sampai karena cinta orang bisa buta, bisa lupa, bisa tuli, bisa menjadi bebal. Memang begitulah cinta, pesonanya susah untuk di tolak, tiap detiknya terasa bagaikan menghisap nikotine, sensasinya membuatmu ketagihan.
Drit ... drit ...
Deritan kursi sofa saat tubuh menggeliat bersama di atasnya. Suara itu mengimbangi suara detak jantung juga suara tarikan napas yang berat dan juga putus putus.
"Dimas!! Ugh!! Dimas!!!" Luna menyerukan nama Dimas saat mereka tengah menikmati indahnya persatuan.
"Tahan sebentar, Luna. Sudah hampir nyampe, ayo barengan." Dimas mengecup punggung Luna yang terbuka.
"Arghh!!!" Luna mencakar permukaan sofa, ia merasakan ledakkan penuh pleasure yang membuat hormon kebahagiaan menguasai otaknya.
"Uummmm ... Luna!!" Dimas juga mengalami hal yang sama, keduanya berkedut. Luna bisa merasakan lahar hangat memenuhi rahimnya. Luna terus berharap ia akan hamil anak Dimas.
Dimas memeluk Luna dari belakang, menikmati istirahat mereka di sofa. Sempit-sempitan namun justru terasa sangat nyaman.
Luna terengah dalam pelukan Dimas, sementara itu tangan Dimas mengelus perut Luna, berdoa supaya terisi dengan buah cinta mereka.
Luna melihat ke sekeliling apartemen Dimas. Rapi dan bersih, hanya ranjangnya yang kusut karena badai percintaan mereka barusan. Porak poranda hingga membuat salah satu spreinya terlepas.
"Kamu hidup dengan baik, Dim." Luna memuji Dimas.
"Baru juga satu minggu, Beb. Entah kalau nanti satu tahun, mungkin kamarnya kayak kapal pecah." Dimas terkikih.
"Aku membayangkan bisa tinggal di satu rumah mungil seperti ini denganmu, Dim. Pasti asyik ya." Luna berkhayal.
__ADS_1
"Sabar, Sayang. Kita pasti akan meraih kebahagiaan," tandas Dimas menenangkan Luna lagi.
"Semoga secepatnya, Dim. Aku ingin kita selalu bersama selamanya."
Dimas mengecup leher Luna dalam-dalam, menghirup wangi aroma bunga yang tak pernah berubah. Selalu sama. Tipekal setia dengan satu produk.
"Aku bahagia saat bersaamu, Luna. Kamulah kebahagiaanku," bisik Dimas.
Luna paham, mereka saling mencintai dan memberi kebahagiaan. Selama satu minggu ini mereka berdua memadu kasih. Menggelontorkan terus benih benih cinta untuk di tanam di dalam kehangatan tubuh seorang turunan Hawa.
Kebahagiaan yang tak pernah ada habisnya. Luna menghargai tiap detiknya dan Dimas menghargai tiap tarikan napas Luna di sisinya. Terlalu indah hingga Dimas bahkan sudah Lupa dengan posisi dan juga kodratnya sebagai anak tiri.
Berbagi peluh setiap hari.
Berbagi oksiden setiap gari.
Berbagi ranjang yang sama setiap hari.
Oh, Tuhan, Luna ingin menukarkan jiwanya bila waktu bisa dibeli. Sayangnya tidak. Liburan satu minggu yang ia habiskan bersama dengan Dimas terasa begitu cepat berlalu. Tiba-tiba saja sudah tiba saatnya Luna kembali ke rumah mereka di ibu kota.
Luna enggan berpisah, namun apa daya, Surya akan kembali ke ibu kota besok. Bila Luna tidak kembali tehtu saja Surya akan curiga.
"Aku berangkat dulu," pamit Luna.
"Hati-hati. Kabari kalau sudah sampai rumah." Dimas mengecup dalam kening Luna lalu mengecup bibirnya singkat.
__ADS_1
"Iya, iya." Luna mengagguk. Tanpa di suru dia juga pasti akan menghubungi Dimas.
Dimas dan Luna berpisah begitu kereta menuju ibu kota datang. Dimas hanya bisa melihat Luna dari sisi luar tralis pembatas antara pengantar dan penumpang kereta. Dari jendela Luna bisa melihat Dimas tersenyum manis. Luna pun membalasnya dengan lambaian singkat. Keduanya merasa berat berpisah, namun tetap melakukannya karena di dorong keadaan.
"Stay strong, My Love. Kita pasti akan melaluinya." ucap Dimas.
Luna terlihat jauh lebih tenang di bandingkan saat pertama kali ia datang ke kota ini. Saat itu dia begitu galau dan penuh kecemasan. Dimas berharap kalau Luna bisa menjadi semakin kuat setiap harinya hingga tiba saat mereka bersama.
.
.
.
Namun sayangnya. Cinta yang dalam dan stay strong tak akan cukup menahan badai kehidupan yang akan menerpa mereka sebentar lagi.
"Lihat dia, apa betul dia selingkuh??"
"Dengan anak tiri. Katanya selingkuh dengan anak tirinya. Namanya Dimas. Anak arsitektur semester akhir yang saat ini tengah magang di kota sebelah."
Gosip dan juga pembicaraan sumbang terdengar di belakang Luna saat ia masuk kuliah keesokkan harinya.
"Bapaknya koruptor, anaknya plcur!! Dasar, keluarga bobrok."
"Eh??" Luna menoleh ke belakang. Semuanya menatap jijik kepadanya.
__ADS_1
A ... ada apa ini??
...-- BERSAMBUNG --...