
Surya hendak mendapatkan pelepasannya, ia menyibakkan rambut panjang Luna agar bisa mengecup pipinya, namun ...
"Apa ini, Luna?? Bekas merah apa ini??" Surya melihat adanya kissmark di leher Luna. Padahal Luna sudah menutupinya dengan rambut. Oh kenapa masih kelihatan juga??
Wajah Luna memucat, tak mungkin ia mengaku pada sang suami kalau ia sering bermain di belakang suaminya, bermain dengan anak tirinya.
"Ini?? Memang kenapa dengan leherku, Mas?" Luna justru berpura-pura tidak tahu. Surya mengusap noda merah biru keungunan, kiss mark pemberian Dimas.
"Ini seperti ..."
"Ah ... iya!! Ini pasti karena tadi aku kejatuhan tongkat pel, Mas. Makanya lebam." Luna berseru, berbohong.
"Tongkat pel??"
"Iya, tadi Luna bersih-bersih, soalnya Bibik Jaenap pulang kampung."
"Ya ampun!! Kenapa mesti bersih-bersih sendiri?? Kamu bisa memanggil pembantu infal, atau cleaning servis? Sampai terluka begini." Surya mengecup pundak Luna lembut. Tak ingin melihat istrinya terluka.
"Ya ampun Mas. Cuma ngepel saja, kalau bukan karena tadi ada Luna berjongkok untuk mengambil obat pel, tongkatnya juga tak akan mungkin kena ke Luna. Mas nggak usah khawatir ya."
"Iya."
Luna tersenyum, ia bisa bernapas lega karena suaminya percaya. Memang kiss mark itu mirip luka lebam, jadi mudah bagi Luna untuk membelitkannya sebagai luka benturan benda tumpul.
"Ayo dilanjutin lagi Mas. Dingin nih, lagi pula nanggung sudah separuh jalankan." Luna mengalihkan pembicaraan.
"Iya."
__ADS_1
Surya kembali menghujam Luna. Luna bersandar pada dinding kamar mandi. Ia bernapas lega karena Surya percaya dengan alibinya.
[Dasar Dimas! Besok lagi awas kalau ninggalin jejak.] batin Luna kesal.
.
.
.
"Sudah pulang, Pa??" Dimas berpura-pura tidak tahu tentang kepulangan Surya.
"Iya. Kamu baru pulang kuliah?"
"Yup."
"Mama baru masak. Padahal sudah papa bilang untuk tidak memasak karena Jaenap pulang kampung. Nggak ada yang akan cuci piring kotor. Tapi mama kamu nekat. Katanya papa baru saja pulang, jadi harus makan makanan rumahan yang bergizi." Surya menunjuk Luna yang sibuk memasak sup ayam kampung di dapur. Terlihat cantik dengan apron berwarna pink dan rambut yang dikuncir ala ekor kuda.
"Dimas bantuin, Ma." Dimas beranjak ke dapur, Surya masih menonton televisi sembari sesekali membetulkan kaca mata bacanya.
"Kapan kamu keluar, Dim?"
"Tadi, pas mama usir Dimas."
"Ck, memangnya kamu mau ketahuan Papamu?"
"Ya enggak. Tapi sedih juga rasanya kalau harus diam-diam bermain di belakang papa. Lebih baik mama ceraiin papa dan menikah denganku," ucap Dimas, perasaannya tulus, ia menggenggam tangan Luna dengan erat sementara sorot matanya menembus ke iris mata Luna dengan penuh kesungguhan.
__ADS_1
"Maaf, Dim. Aku nggak bisa."
"Kenapa?? Kalau memang mama nggak pernah mencintai papa kenapa harus takut untuk meninggalkannya??" Dimas terlihat kesal, habis dia cemburu karena Surya menyentuh kekasihnya.
Luna berhenti mengiris wortel, ia menaruh kembali pisau dan menoleh pada Dimas.
"Memangnya kalau aku sudah bercerai dengan Mas Surya kamu mau menikahiku?? Kamu tak peduli dengan perasaan papamu? Kamu tidak takut dengan suara-suara sumbang orang?? Hubungan kita ini bukanlah hubungan yang wajah Dimas. Hubungan kita ini tabu, bahkan untuk sekedar dibicarakan!! Kamu siap dengan konsekuensinya?? Temanmu, tetangga, keluarga besar, dan semua circle mu akan menghakimi kita, Dimas. Mereka akan mempergunjingkan amoralitas kita sebagai pasangan ibu dan anak yang menjalin hubungan gelap di belakang papanya." Tutur Luna. Ia menjabarkan semuanya, meski mereka tenggelam dalam gelombang cinta tetap saja mereka tak sebaiknya bersam.
"I dont care!! Aku tak peduli apa kata orang, Luna. Aku mencintaimu dan aku akan memperjuangkan hubungan kita." Dimas mengambil pisau dan membantu memotong wortel.
"Dim ... kamu jangan gegabah!! Jangan berbuat macam-macam!!" Luna mencegah Dimas berlaku implusif. Luna masih membutuhkan Surya untuk kebebasan sang ayah, sidangnya masih terus berlangsung. Dan Luna sendiri juga masih tidak yakin dengan hubungan mereka. Seperti yang tadi Luna bilang, tak ada kepastian dari hubungan mereka berdua karena memang melanggar norma dan pandangan masyarakat.
"Lantas apa maumu? Kamu mau aku pergi mencari wanita lain gitu?" selah Dimas. Dimas sangat mencintai Luna dan ingin segera menyudahi permainan kucing-kucingan dengan papanya. Namun Luna menolak seakan-akan dia yang tak pernah serius mencintai Dimas. Dimas menjadi lelah dengan hubungan mereka meski pun Dimas tahu kalau ucapan Luna tidak sepenuhnya salah.
"Dim ..." Luna mendengus, lalu tak melanjutkan ucapannya.
"Kita bisa pergi ke luar kota Luna. Membangun keluarga kecil yang bahagia. Kita akan menikmati indahnya kehidupan dengan penuh luapan cinta tanpa takut ketahuan seperti sore tadi." Dimas mencoba menggenggam tangan Luna namun wanita itu menolaknya.
"Kenapa?"
"Papamu datang." Luna menunjuk Surya yang datang dengan wajah heran.
"Kalian bicara apa, hm?"
...-- BERSAMBUNG --...
Bagi-bagi like dan juga commentnya donk readers yang budiman. Dukungan kalian bikin sy semangat baca. Ada masukan tidak untuk novel ini?? Tolong diskusikan ya ❤️❤️ makasih, happy Reading guys.
__ADS_1