Terjerat Pesona Ibu Tiri

Terjerat Pesona Ibu Tiri
Beralih Ke Sisi Tergelap


__ADS_3

“Dim … Dimas?? Kamu nggak apa kan Dim??” Luna sangat panik melihat kondisi Dimas. Kakinya terluka parah dan kini malah terjatuh.


“Aduh … sakit, sakit sekali!!!” keluh Dimas.


Jaenap datang bersama dengan Mang Dadang, satpam di kediaman Prasetya. Dadang langsung membantu Dimas berdiri dan memapahnya kembali ke kamar. Jaenap membawakan tongkat Dimas dengan tatapan yang tak kalah cemas dari Luna.


"Bikinin Den Dimas minum, Bik." Perintah Luna.


"Baik, Non."


"Yang hangat ya Bik!!" Imbuh Luna.


"Iya, Non."


"Makasih ya, Mang Dadang."


"Iya, sama-sama, Non. Kalau ada apa-apa panggil saya lagi saja." Dadang pamit untuk kembali ke pos. Luna mengangguk.


"Ini Non minumnya."


"Makasih, Bik."


"Saya keluar dulu ya, Non. Tadi baru nyetrika."


"Iya, Bik."


Sepeninggalan Jaenap, Luna membantu Dimas untuk meminum airnya. Dimas pasti kaget karena jatuh, dan air hangat bisa membantunya tenang. Dimas berbaring dengan keadaan setengah duduk. Luna menyangga punggungnya dengan bantal supaya bisa minum dengan nyaman.


"Gimana? Ada yang sakit?? Apa perlu aku panggilin Mas Surya, Dim??" Wajah Luna terlihat cemas, Dimas menjadi sangat bahagia melihat Luna menaruh perhatian khusus padanya.


"Nggak usah, Ma. Tadi cuma kaget aja kok." Dimas mengelus pipi Luna, membuat wanita itu tersentak.

__ADS_1


"Dimas."


"Sssttt ... bentar aja, Ma. Dimas pengen melihat wajah mama sebentar." Dimas tersenyum, rencananya untuk pura-pura jatuh berhasil membuat Luna ada di sisinya.


Semenjak satu minggu Luna menjaganya di rumah sakit, cinta Dimas justru bersemi semakin dalam. Dimas tak kuasa membendung hasratnya sendiri yang mencintai istri sang ayah. Benar, Dimas memilih menjadi anak yang durhaka, membuang nuraninya, membuang segalanya demi candu yang dinamakan CINTA.


Wajah Dimas semakin mendekati wajah Luna. Luna merasa canggung dengan tatapan mata Dimas. Luna pasti akan terjatuh ke dalam pesonanya bila ia tak segera membuang muka menghindari tatapannya.


"Jangan aneh-an--"


Cup!!


Luna terdiam saat mendadak Dimas mendaratkan bibirnya ke atas bibir Luna. Dengan gerakan lembut Dimas meng-ulum bibir ibu tirinya ini. Luna yang masih kaget hanya bisa terpaku. Rasa basah dan hangatnya bibir Dimas membuat Luna tak mampu berpikir tentang apa pun. Luna tak menolak namun juga tak membalas.


Luna bingung, bagaimana ia harus menyikapi perbuatan Dimas, karena ternyata separuh hatinya pun menginginkan hal ini. Luna terombang ambing di antara benar dan salah. Mana yang harus dia pilih, menyikapi perbuatan anak tirinya dan mengkhianati suaminya, atau ... menolak perbuatan anak tirinya dan meratapi nasibnya dalam kesedihan karena tak bisa menggapai cintanya.


Dimas menarik bibirnya lalu tersenyum, sorot matanya yang teduh membuat Luna malu. Luna menundukkan wajahnya yang memerah. Aneh sekali, dalam keheningan itu, Luna justru merasa begitu nyaman. Dalam keheningan itu Luna justru merasakan kedamaian. Dalam keheningan itu Luna justru merasakan kebahagiaan. Inikah rasanya bila cinta terbalaskan?? Perasaan bahagia ini sungguh meluap dalam hatinya, meski pun Luna tahu kalau sesungguhnya hal ini sangat tabu untuk di lakukan oleh seorang wanita bersuami sepertinya.


Bahagia karena anak tirinya ...


Bahagia karena sentuhan yang tak seharusnya menjadi miliknya ...


Bahagia karena melanggar norma masyarakat ...


Bila Luna melangkah satu langkah saja, apa yang akan terjadi??


Bolehkah ia mencobanya? Menemukan setitik kebahagiaan saja??


Hanya setitik, tidak lebih, tidak kurang. Hanya setitik saja, begitu mendapatkan kebahagiaannya, Luna akan berhenti. Tapi ... masa iya begitu merasakan kebahagiannya ia bisa berhenti?? Apakah mungkin kebahagiaan bisa tidak menjadi candu?


"Kamu cantik, Luna." Dimas mencubit dagu Luna lantas mengarahkan wajahnya untuk menatap Dimas.

__ADS_1


Netra keduanya kembali saling mengunci, menatap lekat seakan saling mengungkapkan perasaan masing-masing.


Dimas mendekatkan wajahnya, begitu pula dengan Luna. Bibir mereka saling menyentuh sampai akhirnya mulai tertaut. Luna mulai melangkah, melangkah ke sisi gelap guna memperoleh kebahagiaan. Perasaan yang terus ia tekan itu kini meluber keluar, membeludak, meluap-luap dan berriak dengan sangat banyak. Luna tak tahan lagi, ia merangkul leher Dimas dan mengulum bibirnya lekat.


Keduanya berpanggutan dengan sangat panas, kasar, tak beraturan, seakan sepasang kekasih yang sudah tak pernah bertemu sekian lama. Luna merasakan luapan kebahagiaan begitu pula Dimas. Akhirnya, pertahana sang ibu tirinya ini runtuh juga.


Dimas bahagia, tak sia-sia ia berpura-pura jatuh. Rasa sakitnya sepadan dengan apa yang ia dapatkan. Well ... cinta memang butuh pengorbanan kan.


"Dimas ..." lirih Luna.


"Luna, uuhmm ...," lirih Dimas diantara sela-sela panggutan mereka. Keduanya berjibaku dalam menggali kenikamatan akan rasa manis dalam rongga mulut mereka.


Dimas mulai memindahkan tangannya ke leher dan kemudian mengangkat kaos Luna naik, menggulungnya ke atas sebelum akhirnya melepaskannya dari tubuh Luna. Luna tak menolaknya, ia berkompromi dengan akal sehatnya, untuk merasakan kebahagiaan satu kali saja.


"Ahh!!" de sah Luna saat Dimas mulai menyentuh kulit sensitif di pucuk dadanya.


"Kamu sungguh menggairahkan, aku terpesona padamu, Luna." Dimas membuka kait celan Luna.


"Em, Dim ... bukankah kakimu sakit?" Luna menahan tangan Dimas agar tidak membuka kait celananya. Memangnya cowok itu bisa begituan dikala kakinya tak bisa menopang tubuhnya sendiri.


"Makanya, kamu yang diatas, Mamaku sayang." Seringai Dimas membuat wajah Luna menghangat.


"Di ... atas?"


"Yup. Kita punya banyak waktu sampai papa pulang. Jadi, perlahan-lahan aku pasti akan membuatmu terbang ke awan, Ma. Banyak jurus yang bisa kita coba."


Luna merasa aneh, dia bahagia mendengar penuturan vul gar sang anak tiri. Tanpa menunggu lagi Dimas membantu Luna melepaskan seluruh kain yang masih menempel pada tubuh indahnya.


"Are you ready, Mommy??"


...— BERSAMBUNG —...

__ADS_1


__ADS_2