Terjerat Pesona Ibu Tiri

Terjerat Pesona Ibu Tiri
Bermain Di Belakang Suami


__ADS_3

Luna memeluk tubuh Dimas dengan erat, merasakan tiap sentuhan jemari besar Dimas merajai lekukan tubuhnya. Padahal baru saja mereka selesai berpeluh, tapi hanya sentuhan kecil saja sudah mampu kembali membangkitkan gairah. Cinta sungguh teramat sangat dahsyat.


"Kamu cantik, Luna. Aku tak bisa berpaling darimu." Dimas menggoda Luna.


"Jangan bohong! Kamu sering dikerumunin para gadis di kampus. Paling juga sebentar lagi kamu bosan sama aku dan membuangku." Luna membalas godaan Dimas.


"Kamu cemburu ya, Sayang??" Dimas terkikih pelan.


"Enggak," sahut Luna dengan wajah merahnya yang cantik. Dimas merasa gemas dengan wanita imut ini, ia pun me remas kedua gunung kembar Luna semakin kencang sangking gemasnya.


"Aaakkhh!!" lengguh Luna.


Ditengah-tengah cum buan Dimas ... mendadak, handle pintu kamar di tekan.


"Luna?? Kamu di dalam? Kenapa pintunya di kunci sih??" Suara Surya mengagetkan mereka berdua. Bukankah seharusnya pria itu baru pulang besok?? Kenapa hari ini sudah kembali.


GLEK!!


Dimas dan Luna melepaskan bibir dengan mata saling pandang. Bagaimana ini?? Bagaimana kalau mereka ketahuan sedang bermain di belakang Surya.

__ADS_1


Wajah Luna berubah pucat, Dimas juga sama pucatnya.


"Cepet keluar dari jendela, Dim!!" Luna mengangkut semua pakaian Dimas dan membuangnya lewat jendela. Dimas yang hanya memakai boxer langsung meloncat keluar jendela juga. Beruntung kamar utama ada di lantai satu. Coba kalau di lantai dua, Dimas harus berjuang untuk bisa turun dari jendela.


Luna membereskan pakaiannya juga dan menaruhnya di keranjang cucian. Wanita itu langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Pintu akhirnya terbuka, syukurlah tepat pada waktunya. Surya masuk dan Dimas sudah pergi. Untung saja ia terus mengunci pintu saat mereka sedang *** ***, pintu yang terkunci cukup memberi jeda waktu bagi Luna untuk beberes.


"Luna? Sayang?" Surya masuk ke kamar, kosong, ranjang sedikit berantakan dan jendela kamar terbuka.


"Sayang?" Panggil Surya lagi saat masuk lebih dalam/ ia melemparkan ponsel ke atas ranjang dan mulai duduk untuk melepaskan sepatunya.


"Ah, dia sedang mandi rupanya," gumam Surya saat gemericik air terdengar.


"Waa!!" seru Luna pura-pura kaget.


"Maaf, kaget ya."


"Habis, tiba-tiba aja Mas peluk Luna dari belakang." Luna mengelus dada. Surya melihat kedua gunung kembar istrinya menggantung dengan sangat indah. Pemandangan spektakuler itu tentu saja langsung membuat hasratnya meluap. Surya langsung menggenggam keduanya dan mengaduknya seakan sedang menguleni adonan donat.


Luna menggelinjing karena sentuhan Surya, efek dari cum buan Dimas sebelumnya belum hilang sepenuhnya sehingga Luna masih dalam mode on. Mendapatkan sedikit saja sentuhan sudah membuatnya basah.

__ADS_1


"Perasaan tambah besar ya? Padahal Mas jarang pulang hlo." Surya merasakan ada yang berbeda dari genggaman tangannya.


"Masa sih, Mas? Oh ... mungkin karena Luna mau Menstruasi jadinya agak besar dan keras gitu, ujungnya juga jadi sensitip." Luna mencari alasan, padahal selama ini ada Dimas yang membantu Luna memperbesar ukurannya.


"Ah, iya," ucap Surya percaya, Luna memang masih muda, jadi sirklus datang bulan mempengaruhi bentuk tubuhnya. Dulu Johana juga begitu, tapi setelah melahirkan tubuhnya berubah. Menjadi lebih gemuk dan juga penuh strechmark.


"Kamu kangen nggak sama, Mas? Mas kangen banget sama kamu, Sayang."


"Ya kangen lah, Mas. Masa nggak kangen sama suami sendiri?" Luna tersenyum namun hatinya dipenuhi dengan kebohongan. Senyumannya begitu tulus padahal hatinya begitu palsu. Entah sejak kapan Luna begitu fasih dalam berbohong? Ia juga menjadi sangat lugas dalam mengatakan kata-kata cinta yang penuh kepalsuan.


"Hahaha ... iya, mulutmu ini manis sekali." Surya mengecup bibir Luna. Mereka berdua bermain di bawah guyuran air shower.


Saat menggali kepuasan bersama, Surya yang semula berada di depan kini beralih memasukki Luna dari belakang. Luna berpegangan pada dinding seakan sedang mendorongnya. Surya mulai menghujam maju dan mundur. Luna merasa bosan, ia ingin Surya segera menyudahi kegiatan mereka. Surya hendak mendapatkan pelepasannya, ia menyibakkan rambut panjang Luna agar bisa mengecup pipinya, namun ...


"Apa ini, Luna?? Bekas merah apa ini??" Surya melihat adanya kissmark di leher Luna. Padahal Luna sudah menutupinya dengan rambut. Oh kenapa masih kelihatan juga??


Wajah Luna memucat, tak mungkin ia mengaku pada sang suami kalau ia sering bermain di belakang suaminya, bermain dengan anak tirinya. Lalu kalau Luna tak bisa jujur, ia harus menjawab apa????


...-- BERSAMBUNG --...

__ADS_1


Bagi-bagi like dan juga commentnya donk readers yang budiman. Dukungan kalian bikin sy semangat baca. Ada masukan tidak untuk novel ini?? Tolong diskusikan ya ❤️❤️ makasih, happy Reading guys.


__ADS_2