Terjerat Pesona Ibu Tiri

Terjerat Pesona Ibu Tiri
Kamu Menjijikan, Luna!


__ADS_3

Sebelum mulai baca, tolong di like dan comment dulu ya. Biar semangat, tolong di vote juga 😘


Happy Reading Bellecious.


******


Luna diam saja, Dimas beranjak untuk mengembalikan buku yang ia pinjam. Dimas butuh ketenangan karena suasana hatinya lumayan buruk dan saat itu pula Karina datang mendekati Luna.


"Kenapa, Rin." Luna beranjak dari bangkunya.


"Ikut aku!!" Karina menggeret tangan Luna. Luna mau tak mau ikut dengan Karina.


Karina membawa Luna ke kamar mandi wanita, tempat di mana mereka bisa bercakap tanpa gangguan Dimas. Luna terlihat pucat, seperti pesakitan yang akan di adili karena kesalahannya.


"Putusalah dari Dimas, Luna! Jangan buat kalian berdua hancur!!" Karina mengskak mat Luna. Luna diam, ia tak bisa melakukannya.


"Apa kamu mau membuat Om Surya membenci anak kandungnya sendiri??"


"Tentu saja tidak, Rin, tapi aku ..." Luna ingin mengatakan kalau ia mencintai Dimas dengan segenap hatinya, namun suaranya tercekat di tenggorokan.


"Kamu egois, Luna!! Kamu itu seorang istri, dan suamimu adalah ayah dari Dimas. Apa kamu nggak malu?? Apa kamu nggak takut aibmu ini tersebar dan membuat nama keluarga Prasetya menjadi bahan candaan? Kamu nggak takut sama dosa? Sama karma??" cercanya dengan nada tinggi. Luna sudah paham betul konsekuensi atas tindakannya, tapi ... rasa cintanya pada Dimas memang menutupi hati nuraninya.


"...."


"Ayolah Luna, aku tahu kamu tak sebodoh itu sampai jauh lebih memilih Dimas daripada Om Surya!!" sahut Karina.

__ADS_1


"Rin ..."


"Jangan bilang kamu bakalan milih Dimas?!" Karina bergeleng lemah.


"Maafin aku, Rin."


"Gila kamu, Lun!!"


"Iya, aku memang gila Rin. Aku suka sama Dimas udah lama, sejak SMA, kalau bukan masalah papaku, aku juga nggak akan mau nikah sama Mas Surya." Luna menitikkan air matanya, Luna memang tak punya banyak pilihan, meski pun ia tahu kalau sebenarnya ia bisa menolak lamaran Surya saat itu. Tapi bagaimana dengan nasib ayahnya?


Karina terhenyak, jadi Luna juga menikahi Surya karena embel-embel uang, bukan karena tulus mencintai pria itu?? Jadi Dimas benar, Luna hanyalah gadis matre yang memanfaatkan Surya. Memang buah tak jatuh jauh dari pohonnya.


"Apa kamu mau tahu kenapa aku mau temenan sama kamu yang notabene anak seorang koruptor??" Wajah Karina merah menahan amarah, wajah Luna pucat.


"Kenapa, Rin?" Luna menggengam erat jemarinya yang terasa dingin.


"Dimas!!! Jauhi dia!! Kamu tak pantas untuknya!!! Dasar wanita munafik!! Dimas benar, kamu tak lebih dari wanita murahan! Kamu sungguh menjijikan, Luna!!" Karina mendorong bahu Luna hingga membentur dinding kamar mandi.


"Harusnya kamu malu, Dasar murahan!!" Karina mengumpat lalu pergi dari kamar mandi. Luna terperosot ke bawah dan menangis sesunggukan.


Luna memeluk lututnya sendiri, ternyata Karina selama ini tak pernah tulus saat menjadi sahabatnya. Luna juga tak pernah menyangka kalau Dimas pernah merencanakan hal sekeji itu padanya. Luna tahu Dimas membencinya, namun tak pernah menyangka akan begitu dalam.


Kini, haruskah Luna tetap mempercayai Dimas??


Dalam derai air matanya Luna banyak berpikir. Ucapan Karina benar, Luna harusnya malu, ia terlalu serakah hingga ingin memiliki semuanya. Cinta Dimas, harta Surya, kebebasan ayahnya. Luna yang semula hanya ingin mendapatkan sedikit kebahagian mulai lupa dengan jati dirinya. Kebahagiaan itu membuatnya tamak, membuatnya lupa siapa dirinya?

__ADS_1


Luna menangis semakin keras ... menangisi hidupnya. Sebenarnya siapa dia?


Istri Surya?


Kekasih Dimas?


Anak Benny??


Istri yang baik?


Mama yang pengertian?


Anak koruptor?


Ataukah hanya seorang wanita bodoh yang terperdaya oleh kebahagiaan semu yang tercipta karena dosa??


Dosa yang ia rajut bersama Dimas perlahan lahan menelan jati dirinya. Luna tak lagi menjadi sosok wanita solehan, baik hati yang lembut, namun berubah menjadi wanita nakal tukang selingkung. Luna semakin frustasi, ia semakin menggila karena merasa sangat kotor. Luna menyiramkan banyak air dari closet kamar mandi. Ia tak kuasa menahan kegelisahan hatinya. Nurani yang semula terkubur menjadi bangkit dan kini menggerogoti hatinya. Menggelayuti pikirannya dengan rasa bersalah.


"Huuuaaa!!" Luna menjerit, menangis di dalam bilik toilet. Ia mengguyur terus tubuhnya dengan air dari hand shower. Luna hanya berharap ia bisa menjadi bersih kembali saat air mengguyur tubuhnya.


Keheningan menyertai Luna, ia mulai lelah dan terperosot ke bawah. Tatapannya kosong seperti orang linglung. Luna sudah berhenti merancau, namun tubuhnya mulai bergetar karena kedinginan. Luna merasa pandangan di sekitarnya mulai kabur. Luna pun pingsan.


Bang!! Bang!! Bang!! Suara dentuman saat Dimas menggedor pintu bilik dengan telapak tangannya.


"Luna!!" Panggilan suara Dimas terdengar sangat panik.

__ADS_1


...-- BERSAMBUNG--...


__ADS_2