
Luna baru saja selesai membersihkan diri saat tiba-tiba ponsel milik suaminya berdering.
"Mas, ada telepon."
"Dari siapa?" Surya dengan malas-malasan bangkit. Ia sudah hampir terlelap karena lelah setelah bercinta dengan Luna.
"Dari Dimas, Mas."
"Ck, bocah itu nggak dirumah? Pakai acara telepon segala."
"Diangkat gih, sudah hampir jam dua belas malam, pasti ada sesuatu yang penting." Luna menyarankan agar Surya menerima panggilan dari Dimas.
"Halo, kenapa Dim?"
"Maaf, apa benar ini kediaman Ardimas Eka Prasetya." Suara yang asing terdengar, membuat Surya langsung melek, tak lagi mengantuk. Siapa yang menghubunginya dengan ponsel sang putra? Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Putranya? Belum apa-apa hati Surya sudah tak tenang.
"Kenapa, Mas?" Luna paham gelagat suaminya yang mulai panik, Luna ingin tahu, apa terjadi sesuatu dengan Dimas? Mereka baru saja bertengkar Magrib tadi, masakah terjadi sesuatu pada Dimas? Kalau iya, Luna pasti akan merasa amat sangat bersalah.
"Halo, iya benar, ini siapa ya?? Kenapa bertanya perihal anak saya?"
"Kami dari rumah sakit daerah Pak," jawabnya.
__ADS_1
DEGH
"Rumah sakit???" Kenapa?? Ada apa dengan rumah sakit?? Apa ternjadi sesuatu dengan Dimasnya?
"Iya, Pak. Anak bapak mengalami kecelakaan dan saat ini sedang dirawat di RSUD."
"Hah?? Dimas kecelakaan??" Surya terperanjat, begitu pula Luna. Matanya melebar saat mendengar penutturan Surya. Dimas kecelakaan, apa semua ini karenanya??
Dimas berada di rumah sakit, Surya Dan Luna langsung menginjakakn kaki seribu karena pergerakan mereka yang terlalu cepat. Otak mereka langsung ngeblank karena Dimas kecelakaan. Jadi hanya kecepatan yang mereka punya saat ini.
"Ayo, Mas." Luna menggandeng tangan Surya masuk ke dalam mobil. Sopir mereka melajukan kendaraan ke rumah sakit. Selama perjalanan, dalam hatinya Luna terus berdoa supaya tak terjadi apa pun pada Dimas.
.
.
.
Resepsionis UGD mengatakan bahwa pasien atas nama Dimas sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.
"Maaf, kalau boleh tanya apakah statusnya gawat??" tanya Luna.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Saya baru saja tiba dari ganti shift malam saat Tuan Dimas di pindahkan. Jadi ... data dan juga rencana pengobatannya masih di bawa oleh perawat yang menghantarnya ke bangsal. Coba Nona susul ke bangsalnya saja." Pinta sang FO.
Luna mengangguk paham , ia langsung bergegas menuju ke kamar 2E di lantai tiga.
[Please be save, Dim. Gue nggak tahu mesti gimana kalau elo kenapa-kenapa.] Batin Luna, a merasa sedih karena sudah membentak dan menolak Dimas mentah mentah. Padahal Dimas hanya menyatakan kalau ia tak bisa melepaskan Luna atau menerimanya sebagai ibu tiri.
"Aaakkkhh!!" jeritan kesakitan membuat Luna yang berjalan langsung tersentak. Ia hapal betul dengan suara Dimas.
"Dimas?? Dim ... Dimas!!" Panggil Luna. Ia langsung mempercepat langkah kaki pendeknya menuju ke bangsal rawat inap.
Dugaannya benar, suara rintihan itu berasal dari Dimas saat perawat memberikan suntikan pada selang infusnya. Pemuda itu kecelakaan. Ia masuk ke got saat menghindari truk besar dari arah seberang. Beruntung begitu Luna langsung membuka gerai Dimas ada di depan matanya bukan orang lain. Ia Menatap balik Luna dengan rasa bersalah.
Kaki Dimas sudah di gips karena ada keretakan tulang sementara tangannya terlilit perban dan selang infuse. Salah satu tangannya harus di sangga dengan perban karena engsel punggung dengan lengan sempat terlepas. Dokter baru saja meminta suster melakukan beberapa rangkaian rotgen supaya terlihat apakah ada patah tulai lain.
"Dimas!!!" Luna langsung berlari dan memeluk Dimas. Ia tak peduli lagi dengan beberapa pasang mata suster yang ada di sana. Mereka kira Luna adalah kekasih Dimas.
"Luna?"
"Kamu nggak apa-apa kan??" Luna serius khawatir.
"Iya, baik. Ga papa." Dimas mengelus rambut Luna dengan tangannya yang tidak terluka.
__ADS_1
"Dimas!!" seruan Surya mengagetkan kedua insan manusia yang duduk di satu ranjang yang sama. keduanya menoleh bersamaan, menelan ludahnya dengan berat. Bagaimana kalau Surya tahu apa yang tengah mereka bicarakan?
...-- BERSAMBUNG --...