Terjerat Pesona Ibu Tiri

Terjerat Pesona Ibu Tiri
Perasaan Yang Meluap


__ADS_3

Yuk sebelum baca, ada baiknya langsung di masukkin ke rak buku, like, dan koment. Jangan lupa votenya ya biar semangat berkarya 😘😘 makasih Bellecious.


...********...


Sekembalinya dari rutan, Luna langsung pulang ke rumah, seperti biasanya, Luna lekas menyiapkan makan malam. Luna saat ini begitu bahagia karena mendengar cerita papanya yang sebentar lagi akan melaksanakan sidang pertamanya. Hakim bersedia memberikan keringanan masa hukuman karena sogokan uang dari Surya. Luna ingin memasak hidangan istimewa untuk suaminya sebagai ucapan terima kasih.


Ring ...


[Dering ponsel Luna terdengar.]


"Halo," sapa Luna.


"Halo, Sayang. Maaf, Mas kayaknya bakalan pulang telat. Ada masalah di proyek." Surya mengabari sang istri kalau mungkin dia tak akan pulang tepat waktu.


"Iya, Mas. Mas hati-hati ya, jangan telat makan malam." Luna terlihat sedikit kecewa, namun apa daya, Surya adalah seorang pekerja keras. Ia tak mungkin meninggalkan proyek saat di proyek sedang ada masalah.


"Iya, Mas bakalan makan tepat waktu. Kamu juga ya. Nanti Mas telepon lagi. Kamu ingin oleh-oleh apa?" tanya Surya.


"Nggak usah, Mas. Yang penting Mas pulang dan nemeni Luna malam ini." Luna sedikit menggoda Surya, ia sangat ingin memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih pada suaminya. Kalau masakan tidak bisa, mungkin urusan ranjang bisa menjadi solusi.

__ADS_1


"Ah, dasar gadis nakal. Baiklah, Mas akan segera menyelesaikan urusan proyek dan menemanimu malam ini. Mas akan bikin kamu bahagia sampai pagi." Surya berkelakar dan membuat keduanya tertawa gembira.


Di belakang Luna, Dimas yang baru saja pulang dari kampus tak sengaja mendengar pembicaraan kedua orang tuanya itu. Hati Dimas berdenyut sakit. Padahal Dimas sudah memutuskan untuk menjaga hatinya agar tidak jatuh hati pada ibu tirinya. Namun pesona Luna sangat sulit Dimas tolak. Apa lagi setelah tahu kalau Luna adalah cinta pertamanya saat masih kecil dulu. Argh ... Dimas ingin mencabik-cabik dadanya yang terus bergemuruh semenjak tadi.


"Dimas?" Luna kaget saat memutar tubuh, Dimas berdiri di belakangnya, mengamati Luna dengan tatapan kosong seakan Luna adalah bulan yang tak tersentuh. Yap, bagi Dimas, sekarang Luna adalah sosok bulan yang indah, yang menyinari gelapnya malam. Menyinari gelap dan suramnya rumah keluarga Prasetya setelah sepeninggalan mamanya. Luna berhasil memikat hati siapa pun, termasuk Ardimas.


"Baunya harum, masak apa??" Dimas lekas membuang pikirannya jauh-jauh dan bersikap biasa saja.


"Oh, tadinya mau masak ayam telur asin sama cap jay. Tapi papamu pulang malam, nggak bisa join makan malam dengan kita. Jadi mingkin aku akan masak tumis sayuran ini saja." Luna menunjuk sawi hijau yang baru selesai di potong.


"Butuh bantuan?"


"Kalau itu sudah pasti." Dimas memakai celemek masak, mulai menjalankan perintah Luna untuk menggeprek bawang putih dan menjalankan aktifitas memasak sawi.


"Hahaha ... bagus. Aku tadi sempat bingung bagaimana cara menghabiskannya kalau kamu tidak datang."


"Kebetulan sekali, aku baru saja selesai basket. Jadi lapar sekali." Dimas mengambil pisau untuk mengupas bawang putih. Sementara itu Luna berkutat dengan pisau untuk memotong sayuran menjadi porsi yang lebih pas masuk ke dalam mulut.


"Ach!!" Pekik Luna karena tangannya teriris pisau, kebanyakan mengobrol membuatnya tidak hati-hati sampai teriris.

__ADS_1


"Kenapa?" Dimas kaget, ia semakin kaget saat melihat jari telunjuk Luna tergenang darah segar.


"Teriris, tapi nggak apa kok. Sebentar ju-- akh!!"


Tanpa menunggu Luna selesai bicara, Dimas sudah mengulum jemarinya agar pendarahan kecil itu bisa segera berhenti. Rasanya hangat dan basah, Luna bahkan merasakan seakan tubuhnya tersengat aliran listrik yang sangat besar. Bergetar dan memacu jantungnya: Tatapan mata keduanya kembali bertemu dan mengunci. Jantung Luna kian berdebar sementara Dimas mulai merasakan perasaannya yang meluap.


"Dim!!" Luna menarik tangannya dari cekalan tangan Dimas karena tak mau membuat kesalah pahaman. Masih ada bibi Jaenap di rumah itu.


"Kenapa??"


"Nanti ada yang lihat!"


"Aku hanya mengobatimu." Dimas melepaskan cekalan tangannya. Luna kualahan, ia pun bergegas mengambil napas sepanjang mungkin guna menenangkann hatinya. Namun saat hendak melingsut pergi. Tangan Dimas kembali mencekalnya dan menarik tubuh Luna hingga terjatuh dalam pelukannya.


"Kayaknya nggak bisa, Luna. Aku nggak bisa cuma anggap kamu sebagai Mama. Maaf ... aku nggak mau kamu cuma jadi ibu tiri saja!!" Selesai berucap, Dimas langsung mengecup lembut bibir Luna.


"Dimas!!!"


...-- BERSAMBUNG --...

__ADS_1


__ADS_2