
Di tangga menuju ke lantai dua gedung fakultas mereka berdua mengobrol. Karina terlihat sangat penasaran dengan hubungan antara Dimas dan Luna. Sudah sejak Dimas galau karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan dengan Luna. Apakah Dimas dan Luna punya hubunngan khusus sekarang? Semacan kekasih?
"Dimas yang anterin ke kampus?" tanya Karina basa basi.
"Iya." Angguk Luna. Karina semakin curiga, Dimas juga terlihat berubah, jauh lebih ceria dan produktif dari biasanya. Luna yang sering sedih dan melamun juga terlihat ceria. Ia bahkan terlihat masa bodoh dengan semua teman-teman di kampus yang membullynya. Luna seakan tak lagi peduli dengan omongan orang lain karena hidup dalam dunianya sendiri. Dunia yang penuh dengan kebahagiaan.
"Kalian dekat ya."
"Hm ...?"
"Iya, seperti pasangan kekasih. Nggak kayak ibu dan anak." sindir Karina.
DEGH...!
Jantung Luna berdegup kencang. Nggak kayak ibu dan anak. Sepintas bahkan Luna lupa kalau ia adalah ibu tiri dari Dimas. Sepintas, Luna Lupa kalau ia bukanlah seorang yang pantas untuk pergi mau pun boncengan dengan pria lain.
"Ah ... masa sih?? Hm ... mungkin karena kami seumuran. Jadi jauh lebih nyambung saat ngobrol."
"Oh, gitu. Hati-hati hlo. Nanti kesetrum. Namanya cewek dan cowok kalau berduaan kan yang ketiga setan." celetuk Karina.
"Jadi lo setannya donk, Rin," sahut Dimas yang barusan datang ikut nyambung.
"Sialan lo!! Bikin gue kaget aja." Karina mengelus dada, wajah tampan Dimas nyengir ke arahnya dan membuat jantung Karina meloncat.
"Lagi ngomongin gue sama Mama gue ya?" Dimas menggandeng Luna. Luna langsung menarik tangannya dari gandengan Dimas. Dia tak mau Karina salah paham, well ... meski pun benar hubungan mereka jauh lebih dekat dari pada sekedar ibu dan anak, tetap saja Luna enggan untuk mengakui aibnya itu di depan orang lain. Apa lagi di kampus ini, Karina adalah satu-satunya teman Luna.
"Dim, lepasin," bisik Luna.
"Enggak akan. Di rumah kamu emang mama, di kampung nggak ada yang tahu kalau kita keluarga. Jadi kita bisa bebas pacaran," jawab Dimas.
"Tapi ... Karina tahu."
__ADS_1
"Biarin, dia kan sahabatmu. Nggak perlu sembunyi di depan Karina. Ya kan, Rin?" Dimas meminta dukungan Karina.
"Apa maksudnya??" Karina menatap keduanya dengan tatapan separuh tak percaya. Jadi tebakannya benar, kalau mereka ...
"Yes, kita pacaran!! Please, cuma elo yang tahu hal ini, jadi jangan bilang siapa-siapa! Kitakan sahabatan udah lama. So ..."
"Wait ... wait!! Jadi kalian minta gue buat diem aja ngelihat amoralitas kalian?? WTF, Dim. Luna itu istrinya bokap elo!! Dan lo Lun, dia itu anak tiri elo!!" Karina melipat tangan di depan dada, masih tak menyangka kalau Dimas bisa blak-blakkan memintanya untuk mendukung hubungan mereka. Hubungan yang menentang norma agama, moralitas, dan juga tatanan masyarakat. Hubungan penuh aib dan dosa. Apa lagi, Dimas tahu bagaimana perasaan Karina padanya.
"Bu ... bukan begitu. Kami ..." Luna mencoba meluruskan arti dari hubungan tidak sehatnya dengan Dimas pada Karina. Namun gadis itu menepis tangan Luna seakan merasa jijik dengan apa yang telah ia perbuat.
"Oke, gue bakalan diem! Tapi sory, gue nggak mau temenan lagi sama elo, Lun!" Karina tak hanya jijik, dia juga cemburu buta pada sosok Luna yang dengan mudahnya bisa menggaet hati Dimas.
Karina sudah empat tahun menyukai Dimas dan hubungan mereka sama sekali tidak lebih dari sekedar teman. Karina bahkan menolak banyak pria lain yang menyatakan cinta kepadanya demi Dimas. Tapi pria itu jangankan mbalas cintanya, melirik pun tidak.
Bagi Dimas, Karina tak lebih dari sekedar teman. Karina merasa bodoh, selama ini ia bahkan menuruti semua keinginan Dimas. Bahkan saat Dimas meminta Karina mendekati Luna agar bisa menjebak wanita itu pun Karina menurut.
Bagi Dimas, Karina adalah sosok wanita penurut. Padahal, Karina begitu demi cintanya pada Dimas. Dan bila Dimas sudah tak lagi bisa di gapai, haruskan Karina mulai memberontak? Mulai melangkah untuk menghancurkan hubungan mereka berdua?
"Jangan bermain api kalau nggak mau kebakar!! Mungkin pribahasa itu cocok buat kalian." Karina berkelakar sebelum meninggalkan sejoli itu pergi.
"Stop! Katanya mau bantuin aku cari bahan untuk TA?" Dimas menghentikan langkah kaki Luna.
"Tapi ..."
"Karina gadis yang baik kok, dia tak akan mengadukan kita ke orang lain. Santai aja, dia paling cuma kaget saat tahu hubungan kita. Tapi setelah tenang juga dia bakalan baik lagi." Dimas tersenyum lalu menggandeng Luna masuk ke perpustakaan.
Mereka berdua ingin mencari bahan untuk tugas akhir Dimas yang bertajuk seni dan sastra. Dimas merancang sebuah gedung seni dan sastra dengan konsep aristokrat kuno. Lewat simbol-simbol dan bahasa sastra kuno ia ingin mengulik tentang sejarah yang bisa membawanya menuju ke jaman dahulu. Membayangkan keindahan arsitektur lewat tulisan sastra.
"Iya, ayo."
Luna dan Dimas masuk ke perpustakaan. Dimas begitu antusias saat melihat Luna membaca buku. Gadis itu seakan tenggelam dalam alur ceritanya, tenggelam dalam keindahan literasinya. Luna merasa hidup karena selama ini hanya buku-bukulah teman bermainnya. Menenggelamkan Luna dalam lautan imajinasi dan juga jutaan ide.
__ADS_1
"Kapan lanjut menulis? Mau sampai kapan hiatus?" tanya Dimas.
"Eh?? Kamu baca bukuku?"
"Iyalah, milik kekasih. Mana mungkin aku melewatkannya. Aku akan memberikan dukungan untukmu tiap hari. Like, comment, dan juga vote. Pokoknya agar novelmu bisa terangkat di beranda." tutur Dimas.
"Hahaha ... ceritanya membosankan tidak?"
"Tidak, seru kok. Aku bisa melihat kita di sana. Menjadi sebuah hubungan nyata, tanpa ada beban dan juga dosa yang harus di tanggung." Dimas menyadari kalau tiap tokoh buatan Luna mirip dengannya, begitu pula dengan tokoh wanitanya yang lemah lembut, sama seperti Luna.
"Jadi kamu sudah tahu semuanya?"
"Sejak kapan kamu suka sama aku, Lun?"
"Sejak masuk SMA, Dim."
"Kenapa baru bilang?? Harusnya kamu temui aku sejak SMA! Harusnya, kamu bisa menjadi kekasihku sejak lama!! Kenapa baru bilang sekarang Luna??" Dimas terlihat menyesalinya. Sekarang Luna sudah menjadi milik sang ayah, Dimas hanya memperoleh sedikit saja waktu Luna. Mengetahui hal itu semakin membuat Dimas dan Luna merana. Sungguh sudah terlambatkah untuk meraih cinta mereka ini??
Luna dian saja, Dimas beranjak untuk mengembalikan buku yang ia pinjam. Dimas butuh ketenangan. saat itu pula Karina datang dan mendekati Lunas
"Kenapa, Rin."
"Putusalah dari Dimas, Luna! Jangan buat kalian berdua hancur!! Apa kamu mau membuat Om Surya membenci anak kandungnya sendiri??"
"Tentu saja tidak, Rin, tapi aku ..."
"Kamu egois!!"
"Rin ..."
"Apa kamu mau tahu kenapa aku mau temenan sama kamu yang notabene anak seorang koruptor??" Wajah Karina merah menahan amarah, wajah Luna pucat.
__ADS_1
"Kenapa, Rin?"
...-- BERSAMBUNG--...