
"Kita mau kemana Dim??" Pertanyaan Luna sangat sulit untuk Dimas jawab, pasalnya ia sama sekali tak punya tujuan lain selain apartemennya saat ini. Namun sang ayah sudah tahu di mana letak apartemen Dimas dan bisa saja langsung menemukan Luna di sana.
Dimas terpaksa membawa Luna ke hotel terlebih dahulu sebelum mencari sebuah rumah kontrakan atau apartemen yang bisa Luna tinggali.
Langit mendung menyambut kedatangan Luna dan Dimas di kota sebelah. Keduanya diam tanpa kata, namun sangat jelas kegundahan terpancar di wajah mereka yang kusut. Dimas menyetir mobilnya ke sebuah hotel.
"Dimas, dari pada kabur lebih baik kita bicara baik-baik dan aku akan menceraikan papamu." Luna mendadak mengeluarkan suara.
"Itu bukan ide yang baik, Luna."
"Kenapa?"
"Apa kamu tahu pasal perzinahan?? Kalau papaku tahu kamu berselingkuh denganku bahkan sampai tidur bersama, apa kamu pikir beliau tak akan marah?? Beliau bisa saja menggugat mu dengan pasal perzinahan. Kamu bisa di penjara Luna. Kamu harusnya paham karena papamu adalah seorang jaksa." Dimas menolak ide Luna. Perceraian memang jalan keluar bagi Luna, namun kalau saat ini, sudah pasti Surya akan mengamuk kalap.
"Lantas bagaimana? Aku bingung sekali." Luna mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa masalahnya begitu pelik ya, Tuhan?! Salahkan Luna bila ia ingin bahagia juga?!
__ADS_1
"Tenanglah, Sayang. Tenang." Dimas menepikan mobilnya sesaat, berusaha menjaga agar Luna tenang.
"Bagaimana aku bisa tenang, Dim?? Semuanya berubah dengan sangat cepat. Semua orang tahu aku berselingkuh denganmu. Semua orang tahu kalau aku telah menikah dengan papamu lalu berpacaran denganmu. Pandangan masyarakat terhadapku sangatlah buruk. Dalam satu hari kebahagiaan terakhir kita langsung hilang, ludes tak bersisa," tutur Luna panjang lebar. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang tak berdaya, menyalahkan dirinya yang terjatuh pada jurang dosa bersama dengan Dimas anak tirinya. Luna begitu malu dengan dirinya yang mudah terperdaya oleh iming-imingan kebahagiaan. Luna lupa dengan statusnya sebagai seorang ibu tiri.
"Ssshhh ... tenang, Sayang." Dimas menarik tubuh Luna dan memeluknya. Mengelus perlahan rambut panjang Luna sembari sesekali mengecup kepalanya. Dimas berusaha membuat Luna tenang, menangis tak akan menyelesaikan masalah pelik mereka ini.
"Pandangan masyarakat tentang perselingkuhan sudah sangat tabu. Dan aku berselingkuh dengan anak tiriku sendiri, apa menurutmu itu hal sederhana, Dim?? Itu hal memalukan. Sangat memalukan!" Luna terisak dalam dekapan Dimas, membuat Dimas ikut menangis tertahan.
"Aku nggak bisa tenang, Dim. Aku sungguh takut!! Takut!!" Luna mempererat pelukkannya dan langsung menangis sejadi-jadinya. Dimas membiarkan Luna menangis, memberi waktu pada Luna untuk mengatur emosinya.
"Dan mengakui kesalahan untuk mu dipenjara?? Tidak Luna. Aku nggak mau kamu menanggung semua dosa kita sendirian. Nggak akan!!" Dimas bergeleng. Ia memutar kemudianya dan langsung melesat pergi ke hotel terdekat.
.
.
__ADS_1
.
Di rumah.
Surya terlihat sangat kebingungn. Luna tak bisa dihubungi, ponselnya mati, satu lemari baju menghilang, semua surat-surat penting pun hilang. Surya mulai frustasi saat ia tak berhasil melacak keberadaan Luna lewat aplikasi find my phone. Luna tentu saja tidak bodoh, ia mematikan lebih dulu ponselnya sebelum berangkat.
"Dimana dia?? Apa sudah ketemu, Rus?" surya membentak sekretarisnya. Luna pergi tanpa pamit alias kabur dari rumah. Tak ada satu pun yang tahu, bahkan Ruslan juha kualahan dalam menemukan Luna.
"Tuan, maaf, Nona Luna tidak bisa ditemukan. Namun ada yang aneh." Lapor Ruslan.
"Heung?"
"Tuan muda Dimas datang ke rumah sesaat sebelum nyonya meninggalkan rumah, laporan cctvnya terkendala karena tak bisa mendownload lebih dari ini. Sepertinya ada yang berusaha menghapus filenya hingga cracking." Ruslan menunjukkan gambar dari kamera ccvt.
"Apa?? DIMAS?"
__ADS_1
...-- BERSAMBUNG --...