Terjerat Pesona Ibu Tiri

Terjerat Pesona Ibu Tiri
Luna Menghilang


__ADS_3

Surya merasa aneh, untuk apa Dimas datang ke rumah?? Dan kenapa rekaman cctv di rumah mati begitu ia datang? Apa yang terjadi?? Apa ada hubungannya dengan hilangnya Luna??


Ponsel keduanya juga tidak aktif, bagaimana Surya bisa menghubungi Dimas dan Luna?? Melacak ponselnya juga percuma karena tak ada sinyal ditemukan.


"Kita pergi ke tempat Dimas, Rus." Surya bangkit dari tempatnya duduk dan langsung masuk ke dalam mobil. Sepanjang jalan Surya banyak melamun, ia terus merasa tidak nyaman dengan perasaannya. Bila memang benar Luna berselingkuh dengan Dimas bagaimana?


Surya memang cemburu, tapi pria yang mengambil istrinya itu adalah anaknya sendiri. Kalutnya hati Surya sungguh membuat perutnya diaduk-aduk. Ingin muntah rasanya membayangkan perbuatan tak terpuji itu.


"Menurutmu apa benar Luna pergi ke tempat Dimas?" Surya bertanya pada Ruslan yang sedang mengemudi.


Ruslan melirik bosnya dari kaca tengah mobil dengan alis mengerut dalam, ia juga tak ingin percaya, Dimas adalah anak yang baik, entah setan apa yang merasukinya bila memang hal itu benar terjadi.


"Mungkin Non Luna hanya ingin sendiri, Pak. Tak mungkin dia berselingkuh dengan Dimas. Non Luna pastilah akan menjaga nama baiknya. Berhubungan dengan anak tiri pasti akan menjadi aib baginya," ujar Ruslan menolak percaya.


Surya menatap keluar jendela, apa semua ini salahnya karena memaksa Luna untuk hamil? Harusnya Surya menepati janjinya untuk menunggu sampai Luna wisuda. Sebelum menikah ia memang berjanji, namun seiring berjalannya waktu, Surya tak bisa menunggu lagi. Dua tahun waktu yang lama dan dia juga akan segera menua. Mungkin saat itu Surya tak lagi mampu melihat anak keduanya tumbuh besar dan dewasa.


"Kita sampai, Pak." Ruslan melaporkan pada Surya, dengan sigap ia membuka pintu mobil untuk bosnya itu.

__ADS_1


Jantung Surya kembali berdetak dengan cepat tak kala ia menaiki tangga satu demi satu menuju ke lobby apartemen. Tiap langkahnya terasa begitu berat, bahkan berada di dalam lift sempit membuat dadanya semakin tertekan. Hingga tiba di depan kamar putranya pun, Surya belum bisa menghilangkan rasa sesaknya.


"Pak?? Anda tidak apa-apa?" tanya Ruslan yang langsung bergegas menolong Surya saat tubuhnya mulai sedikit limbung. Surya merasa dadanya sesak sekali, hingga napasnya yang sedikit tercekat mempengaruhi keseimbangan tubuh.


"Nggak apa, cepat pencet bel pintunya." Surya meminta Ruslan lekas bertindak, sebenarnya Surya tahu passcode masuk apartemen Dimas. Surya hanya ingin lari dari kenyataan barang sekejap mata. Surya ingin menunda sedikit lebih lama.


TING TONG!!


"Ya?" Dimas keluar sesaat bel berbunyi, ia menatap heran pada Surya dan Ruslan.


"Papa? Om Ruslan?" sapa Dimas. "Kok tumben nggak telepon atau kasih tahu dulu?" tanya Dimas seraya membuka pintu lebar-lebar.


"Kamu tadi pulang ke rumah?" tanya Surya.


"Iya, mengambil barang-barangku yang ketinggalan." Dimas mengangguk.


"Papa kenapa sih?? Memangnya aneh bila Dimas pulang ke rumah??" Dimas balas bertanya, satu hal tajam yang ia gunakan untuk menggoyahkan pemahaman Surya.

__ADS_1


"Tentu saja tidak," jawab Surya.


"Kenapa ponselnya nggak aktif, Dim? Bapak cariin kamu sejak siang tadi." Ruslan ikut mengintrograsi Dimas.


"Eh?? Nggak ada telepon masuk kok." Dimas mengambil ponselnya, ternyata batrenya habis.


"Waduh, maaf, Pa, batre Dimas habis. Dimas keluapaan chas sejak tadi soalnya banyak kerjaan. Dimas lagi ngerjain gambar kerja untuk presentasi besok lusa. Ini juga sampai Dimas bawa pulang kerjaannya." Dimas menunjukan gambarnya dindalam laptop.


"Ya sudah kalau begitu." Surya menghela napas panjang.


"Sebenarnya kenapa sih Pa? Ada apa? Kenapa wajah papa kusut sekali? Apa papa sakit?" Dimas menoleh ke arah Ruslan sebelum kembali fokus pada Surya.


"Nggak, papa nggak sakit. Papa cuma mau tahu apa mamamu ada di sini?"


"Memangnya mama kenapa, Pa??" Dimas sok bodoh.


"Mamamu pergi Dim, pergi dari rumah. Ponselnya tak bisa dihubungi. Luna menghilang." Surya menghela napas dan duduk di sofa.

__ADS_1


"Hah?? Papa serius??" seru Dimas.


...-- BERSAMBUNG --...


__ADS_2