Terjerat Pesona Ibu Tiri

Terjerat Pesona Ibu Tiri
Kepindahan Dimas


__ADS_3

Mohon maaf slow update karena saya lagi liburan di bikini bottom. Nanti kalau sudah pulang bakalan update reguler lagi ya gengs.


Maacih, Happy reading


...*****...


Kisah cinta yang manis sampai membuat diabetes, apakah hanya ada di novel novel saja??


Luna menutup laptopnya, ia baru saja menyelesaikan update novelnya. Hubungannya dengan Dimas membuat Luna punya banyak inspirasi. Gadis itu menulis jauh lebih banyak dari biasanya. Berada dua hari di rumah sakit membuatnya punya cukup waktu untuk menulis.


"Sudah bangun?? Aku kira masih tidur." Dimas masuk dengan sekantong belanjaan minimarket.


"Mana pesananku?" Luna menyahut tas belanjaan Dimas.


"Ck, sabar kenapa sih?? Lagian udah tahu sakit, masih aja suka makan snack snack micin begini," ucap Dimas.


"Aku nggak sakit, Dim. Aku sehat!! Kapan aku bisa pulang??" Luna terlihat bosan berada di rumah sakit. Apa lagi Dimas tak bisa menemaninya selama 24 jam karena harus kuliah mengejar target tugas akhirnya.


"Hari ini mungkin. Tunggu dokter visit dulu." Dimas duduk, ia mencomot snack asin gurih bermicin banyak dan langsung mengunyahnya sekaligus dengan lahap. Luna bergeleng, siapa tadi yang bilang nggak mau micin?


"Sudah makan belum??" tanya Luna.


"Sudah, tadi makan di kantin kampus bareng Bobby sama anak-anak basket." Dimas mengangguk.

__ADS_1


"Kamu udah ketemu sama Karina belum?"


"Belum, aku coba kirim pesan juga cuma di read doang. Nanti aja setelah kamu sembuh, aku akan ke rumah Karina buat minta maaf dan minta tolong tutup mulut." Dimas membuka sekaleng jus untuk Luna.


"Perasaanku nggak enak, Dim." Luna mengusap punggung tangannya cemas.


"Santai aja, Lun. Nanti kamu pingsan lagi karena syok!! Jangan mikir yang belum pasti terjadi." Dimas mengingatkan Luna sekali lagi. Gara-gara terlalu syok dan tertekan, Luna sampai kehilangan kesadarannya dan pingsan di kamar mandi dengan tubuh kedinginan.


"Oke." Luna memeluk lututnya sendiri. Luna beralih ke arah layar televisi yang menyiarkan tentang pembangunan ibu kota baru. Surya mendapatkan sebagian dari proyek mega besar itu. Proyek yang membuat Surya sangat sibuk belakangan dan sering pergi ke luar pulau.


"Sudah seminggu papamu kerja, besok dia pasti akan pulang. Aku harus lekas keluar dari RS atau papamu akan curiga." Luna menoleh pada Dimas yang masih asyik mengunyah kripik kentang.


"Besok papa pulang? Ah ... Lebih baik aku nggak dirumah saja, Lun. Akhir-akhir ini aku nggak bisa nahan cemburu tiap kali lihat kamu sama Papa." Dimas terlihat malas.


"Mungkin nginep di rumah Bobby, atau sewa apartemen aja ya?? Bisa jadi markas kita bersama?? Atau apa aku cari di luar kota jadi Papa nggak curiga dengan hubungan kita. Tiap awal week end kita bisa ketemuan?" Dimas membayangkan banyak hal yang bisa mereka lakukan tanpa ada siapa pun dengan Luna.


"Jangan, Dim." Luna bergeleng, tak mengijinkan Dimas pergi kerja ke luar kota.


"Ck, nggak bisa nahan rindu ya?" Dimas menggoda Luna. Gadis itu pun tertawa dengan candaan Dimas yang memang tidak salah.


.


.

__ADS_1


:


Satu minggu kemudian. Dikampus, jurusan seni. Karina baru saja keluar dari kelasnya. Dimas yang melihat Karina langsung mengejarnya.


"Rin!!" Dimas mencekal tangan Karina.


"Lepasin!"


"Ck, kok lo galak banget sih sekarang??" Dimas menarik tangannya dari tangan Karina.


"Mau apa?? Jangan bilang kamu mau ketemu aku buat nutupi dosa kamu itu?!" Karina melipat tangan di depan dadanya.


"Kok tahu?!" Dimas belum bicara apa pun.


"Sudahlah, gue juga nggak masalah kalau elo memang mau nerusin hubungan lo sama Luna. Tapi hati-hati, Dim. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti pernah jatuh juga." Karina memberi peringatan.


"Tupainya bakalan hati-hati kok, Rin."


"Oke terserah kamu, lakuin hal yang kamu anggap benar." Karina berpaling.


Dimas menggaruk kepalanya yang tiak gatal. Satu masalah selesai. Kini tinggal mencari tempat tinggal baru. Dimas akhirnya memutuskan memilih pindah san membangun keluarga sendiri,


...-- BERSAMBUNG --...

__ADS_1


__ADS_2