
Dimas nggak pernah menyangka kalau Luna akan datang menjenguknya dengan wajah pucat dan tangan gemetaran. Ketara sekali betapa wanita ini begitu mengkhawatirkan keadaannya. Belum lagi dengan wajah cantiknya yang bersimba keringat karena terus berlari.
Dimas tak tahu harus bersyukur atau sedih akan hal ini. Mengetahui kalau Luna punya perasaan yang sama terhadapnya membuat Dimas bersyukur. Namun mengetahui kalau Luna tak bisa diraih juga membuat Dimas sangat sedih.
Dimas sampai kecelakaan juga karena memikirkan Luna. Dimas yang terbawa pengaruh alkohol mulai merancau dan bertekat untuk merebut Luna dari dekapan papanya sendiri. Dimas terlalu bertekat untuk mempertahankan perasaannya. Sampai detik ia kecelakaan, Dimas sadar betul kalau tekatnya itu bukanlah hal yang benar. Apa yang ia lakukan melanggar norma yang ada. Melanggar tatanan norma di kalangan masyarakat. Hal yang tabu, bahkan untuk sekedar dibicarakan.
Sadar akan cintanya yang menyeramkan, Dimas hanya mampu kembali menepis perasaan itu. Dia kembali mengubur cinta dan mengikis tekatnya. Dimas tak boleh egois karena Luna bukan lagi wanita single yang layak diperebutkan. (Apalagi diperebutkan oleh Ayah dan Anak.) Entah bagaimana pandangan masyarakat bila mendengar hal ini.
Namun, saat melihat kedatangan Luna dengan wajah cantiknya yang cemas. Dimas sadar, bahwa debaran di hatinya itu nyata. Tak seperti yang dikatakan oleh Karina kalau Dimas hanya terbawa perasaan saja. Dimas tak akan mungkin bisa menumbuhka cinta ya baru saat cintanya pada Luna baru saja bermekaran dengan subur.
"Hiks ... untunglah kamu nggak papa, Dim." Luna memeluk Dimas erat, tubuhnya gemetaran. Luna takut sekali, takut sesuatu hal yang buruk menimpa Dimas.
Para perawat meninggalkan ruang rawat inap itu, mereka kira Luna adalah kekasih Dimas, jadi memberi ruang bagi mereka untuk bercengkrama.
Dimas bisa merasakan jantung Luna berdebar dengan cepat, juga air mata yang luruh membasahi dada Dimas. Dimas dengan gerakkan patah-patah mengelus kepala Luna, turun ke rambutnya yang lembut dan panjang. Dimas berusaha menenangkan Luna dengan tangannya yang tidak terluka.
"Ini hanya luka kecil. Jadi jangan nangis ya." ucap Dimas.
"Luka kecil?? Sampai harus pakai gips dan juga penyangga tangan?? Kamu itu kenapa bisa nggak hati-hati sih! Gimana ... hiks ... gimana kalau terjadi sesuatu sama kamu?!!" Luna terisak-isak.
"Iya, iya, maaf. Maaf sudah buat kamu khawatir." Dimas mengusap rambut Luna lagi.
Saat itu, tiba-tiba Surya masuk ke dalam. Luna dan Dimas berjengit kaget. Luna bergegas melepaskan pelukannya dan mengusap air mata, sementara itu Dimas bergegas merapikan lagi posisinya duduk.
"Dimas?? Kamu nggak papakan??" Surya menyibakkan tirai, beruntung masih ada tirai pembatas yang membuat Surya tak langsung melihat keduanya tengah berpelukan.
"Nggak papa kok, Pa. Buktinya masih bisa urus administrasi sendiri."
"Dasar kamu ini bikin khawatir saja!! Di beliin mobil juga cuma jadi pajangan dan pilih naik motor." Surya mengomel, ia mulai memarahi putranya, "lagian kemana kamu malam-malam?? Kamu mabuk ya?? Dasar!! Mau jadi berandalan??" geram Surya.
"Nggak lah, Pa. Dimas cuma minum dikit kok." Dimas menggaruk kepalanya. Gara-gara kalian seneng-seneng di kamar bikin nyut-nyutan.
"Sekarang bagaimana ini?? Kakimu di gips juga!" Surya mengeluhkan kondisi putranya yang mengenaskan.
"Cuma retak sedikit, tangan juga cuma meleset dikit kok Pa. Kata dokter nggak perlu sampai operasi. Di tahan dengan gips dua minggu nanti juga sembuh," jawab Dimas menyepelekan. Sebenarnya dia hanya malu dan tak ingin kelihatan mengenaskan karena ulahnya sendiri, jadi Dimas menahan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Terus dokter bilang apa lagi?"
"Dimas cuma harus istirahat total sampai tulangnya pulih semua. Dan nggak boleh banyak bergerak dulu."
"Hufft ... bagaimana ini?? Papa sudah harus berangkat ke luar kota besok. Ada tender besar di sana." Surya menyugar rambutnya ke belakang.
"Biar Luna yang ngerawat Dimas di rumah sakit, Mas. Mas Surya berangkat saja." Luna menawarkan diri.
"Tapi kamu masih harus kuliah juga, Luna."
Luna memang tak mau ikut menemani Surya ke luar kota karena ia sibuk dengan kuliahnya. Dan kini, Dimas malah sakit dan Luna harus merawatnya.
"Kalau pas Luna kuliah, biar Bibi Jaenap yang nemenin Dimas, Mas. Pokoknya Mas Surya nggak usah khawatir dan pergi saja ke Luar kota." Luna tersenyum.
"Ya sudah. Mas titip Dimas, ya. Maafin Mas malah ngerepotin kamu, Sayang." Surya mengelus dagu Luna. Dimas membuang muka, enggan melihat kemesraan mereka.
"Ngerepoti apa sih, Mas? Dimas kan juga anakku. Kita sekarang ini keluarga." Luna menggelengna kepalanya tanda tak keberatan sama sekali.
"Baiklah, Mas bisa pergi bekerja dengan tenang karena ada kamu."
"Iya, Mas."
Keesokan harinya.
Hujan turun rintik-rintik, membasahi pucuk ranum dedaunan dan luruh sampai menetes ke tanah. Luna memeluk dirinya sendiri karena hawa dingin. Ia masuk ke dalam kamar rawat inap VIP tempat Dimas di rawat.
"Hai, feeling better?" Sapa Luna.
Dimas mengagguk, wajahnya jauh lebih cerah dari kemarin. Bibi Jaenap bangkit berdiri.
"Bibi makan dulu gih, ini uang buat beli makanan di kantin. Habis itu bibi pulang sama Pak Toyo ya. Beliau nungguin di kantin juga." Luna menyerahkan dua lembar uang ratusan ribu.
"Baik, Non. Bibi pamit ya." Jaenap mengangguk, "Mari, Den Dimas. Cepet sembuh ya."
"Makasih, ya, Bi," ucap Dimas.
__ADS_1
Sepeninggalan Jaenap, Luna duduk di kursi sebelah Dimas dan mulai mengupas apel. Dimas melihat wajah cantik Luna yang tengah serius mengupas apel.
"Cantiknya mamaku," goda Dimas.
"Jangan aneh-aneh deh, Dim. Ini di makan!" Luna menyerahka potongan apel.
"Akkkhh ... suapin." Dimas membuka mulutnya dan meminta dengan nada manja. Luna memutar bola matanya karena anak tirinya manja sekali.
"Ck, makan sendiri donk."
"Tangannya sakit."
"Sebelah kanan enggak sakit."
"Yang sebelah kanan buat nyayang kamu, Ma." Goda Dimas.
"Aneh-aneh aja!! Ini makan sendiri," sergah Luna dengan wajah merona kemerahan. Ucapan Dimas sungguh membuatnya berdebar.
Luna menaruh piring berisi irisan apel ke pangkuan Dimas dan bangkit berdiri. Luna melihat pemandangan taman rumah sakit dari ketinggian ruang VIP. Memang pemandangan di ruang VIP jauh lebih indah karena harga yang dibayar untuk satu malamnya juga cukup fantastis.
Dimas menatap tubuh indah Luna dari belakang. Andai saja ia tidak sedang dalam proses penyembuhan, sudah pasti Dimas akan memeluknya dari belakang sembari mengecupi tengkuknya yang selalu beraromakan bunga. Dimas tersenyum, ia jadi ingin mengerjai Luna.
"Mama ..." panggil Dimas.
"Heung??" Luna menoleh, ingin tahu kenapa Dimas memanggilnya.
"Sini deh, Ma." Dimas pura-pura meringis kesakitan.
"Kenapa?? Apa ada yang sakit??" Luna lekas mendekati Dimas.
"Kebelet pi?pis, Ma. Pegangi donk!" Dimas menaik turunkan alisnya.
"Dimas!!" seru Luna malu.
Dimas nakal banget sih!!! Awas nanti kalau tit*tnya di cubit sama Luna hlo! Kapok entar.
__ADS_1