
Kamu menjijikan!!
Dasar murahan!!
Jauhi Dimas!!
Dasar anak koruptor!
Kamu tidak pantas bahagia!!
"Hah!!!" Mata Luna terbuka lebar dan langsung terduduk. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Luna begitu ketakutan dengan suara-suara dan juga cercaan semua orang. Luna terengah-engah karena napasnya tercekat.
"Luna ... Luna, ini aku." Dimas beranjak dari kursi dan langsung memeluk tubuh Luna, berusaha menenangkan gadis itu. Luna pun memeluk Dimas dengan erat, sangat erat.
"Di mana aku?" tanya Luna saat menyadari ia tidak di rumah atau pun kampus.
"Di rumah sakit, kamu pingsan di dalam kamar mandi karena kedinginan. Sebenarnya apa yang terjadi?? Siapa yang menyakitimu? Apa ada yang merundung mu, hm? Katakan padaku??" Dimas sangat marah, ia mendapati Luna tergeletak mengenaskan di lantai kamar mandi yang dingin. Sepintas Dimas sangat takut kehilangan Luna.
Luna pingsan hampir sepuluh jam, dan selama itu pula Dimas berjaga di sampingnya sampai dia siuman. Luna terus menggigau seakan bertemu dengan hantu. Sementara Dimas hanya bisa menggenggam tangannya dengan erat.
__ADS_1
BRAK!!
Luna mendorong tubuh Dimas agar menjauh darinya. Teringat ucapan Karina tadi, dia bilang kalau Dimas merencanakan hal buruk kepadanya.
"Kenapa?"
"Aku yang seharusnya tanya, kenapa, Dim?? Kenapa kamu meminta Karina pura-pura menjadi sahabatku?? Kenapa kamu membuat sekenario untuk memisahkanku dengan papamu??" Luna terisak sembari mencerca Dimas dengan beragam pertanyaan yang membuatnya kecewa. Tak ada sahabat yang tulus, apakah cinta Dimas ternyata juga hanya kepura-puraan?
"Dulu aku memang membencimu, Luna. Aku membencimu karena aku cemburu. Tapi sekarang tidak lagi. Aku tulus sangat mencintaimu." Dimas mencoba menenangkan Luna. Meski dunia mengkhianatinya, hanya Dimas yang akan tetap setiap berada di sisinya. Luna tertunduk, ia pun menangis hebat.
"Jangan menangis, aku minta maaf. Sekarang istirahatlah lagi. Aku ada di sini." Dimas tersenyum.
"Jadi Karina yang membuatmu ketakutan dan depresi?" Dimas mengepalkan tangannya.
"Jangan marah pada Karina, Dim. Dia benar. Cinta kita tak akan pernah di restui oleh siapa pun. Aku adalah ibu tirimu, Dim. Bayangkan pendapat orang tentang hubungan kita?"
"Sudah kubilang ratusan kali, Luna. Aku tidak peduli apa kata orang. Bagiku hanya ada kamu, hanya ada kita." Dimas menghela napas panjang. Cinta tak butuh pendapat orang lain, hanya butuh imbal balik dari dua orang yang saling berbagi kasih.
"Kalau pendapat papa mu? Apa kamu peduli?" tanya Luna lagi.
__ADS_1
.... Dimas diam, tak bisa menjawab. Mungkin juga ia tengah berpikir.
"Karina mengatakan kalau aku harus memutuskanmu. Sepertinya dia benar sih, karena aku kalian bisa bertengkar. Aku tak mau hal itu terjadi." Luna menitikkan air matanya.
"Aku tak mau putus denganmu tapi juga tak akan membuat hubungan kita ketahuan, pokoknya, kita tak boleh sampai ketahuan, Luna." Dimas menarik Luna, mereka saling menatap.
"Tapi ... sampai kapan Dimas?" Luna mulai terisak.
"Sebelum bisa menjawab sampai kapan kita akan backstreet, bolehkan aku menanyakan sesuatu padamu, Luna?"
"Apa?"
"Kenapa kamu mau menikahi papaku?? Kenapa?! Kamu tahu papaku seumuran dengan papamu, bahkan sahabat papamu? Apa alasannya adalah uang??" tanya Dimas. Luna tercekat, akhirnya Dimas bertanya akan hal ini.
"Jawablah, Luna. Aku tak akan marah. Apa kamu memang menyukai uang papaku?"
"Aku ..."
...-- BERSAMBUNG --...
__ADS_1
Halo, jangan lupa comment dan juga kasih like dan votenya ya gengs. Jangan lupa di follow othornya. Terus di masukkin ke daftar buku kalian. 😘🥰