
Dimas sampai di apartemen barunya. Sebuah apartemen yang lumayan luas dengan satu kamar tidur. Tak pernah ia sangka akan tiba waktunya meninggalkan rumah untuk hidup mandiri. Dimas memperjuangkan cintanya tanpa sadar kalau saat ini Luna dalam kendali papanya.
"Ck, belum apa-apa aku sudah rindu." Dimas menatap langit-langit kamar, nampak putih bersih.
Dimas pun bangkit untuk membereskan barang-barangnya. Ia menunda keinginan untuk menghubungi Luna karena takut ketahuan oleh papanya. Saat ini Surya ada di rumah, belum jadwalnya pergi ke pulau seberang. Dan itu berarti Dimas sama saja menggali kuburannya sendiri bila menghubungi Luna. Yang ada Dimas hanya bisa menunggu sampai Luna menghubunginya.
.
.
.
"Sudah larut, kenapa Luna nggak menghubungiku?" Dimas merogoh koceknya lagi untuk mengambil ponsel. Belum ada tanda-tanda Luna mengirimkan pesan. Dimas menjadi frustasi, ia langsung membanting ponsel dan juga tubuhnya ke atas ranjang.
"Argh ... sial!! Kenapa jadi begini??"
Dengan langkah gontai Dimas menelusuri bangunan apartemennya. Mulai dari berjalan, berlari, loncat, bahkan memanjat. Entahlah, pokoknya segala macam ia lakukan untuk membuang tenaganya hingga bisa tidur dan melupakan Luna barang sejenak.
.
.
.
Sementara itu, Luna menangis sendirian di dalam kamar mandi. Ia membekap mulutnya supaya Surya yang sudah tertidur tak menyadari tangisannya lalu terbangun. Luna sangat takut bila ia harus hamil anak Surya. Padahal Dimas sudah berjanji akan menikahinya, kenapa mendadak justru Surya menuntut untuk memiliki momongan. kepergian Dimas mungkin menyadarkan Surya arti kata kesepian.
"Hiks, maaf aku nggak bisa menghubungimu, Dim. Aku belum siap." Luna bergeleng, ia mengguyur tubuhnya yang mulus dengan air dan sabun berharap rasa kotornya bisa segera menghilang.
Luna ingin bertindak egois dengan meninggalkan Surya dan kabur saja dengan Dimas, namun hati kecilnya terus memikirkan sosok Benny yang semakin kurus penuh penderitaan di balik jeruji besi. Luna tak bisa mengabaikan papanya begitu saja. meski pun bersalah, pria itu tetaplah ayahnya, satu-satunya darah dan daging Luna.
__ADS_1
Luna menangisi ketidakberdayaannya. Ia menangisi nasibnya yang harus menanggung beban berat sang ayah sampai tak bisa meraih cintanya sendiri.
...*****...
Satu minggu kemudian.
Luna menaiki kereta menuju ke kota seberang tempat Dimas mulai meniti karirnya. Luna menatap kosong ke luar jendela, sudah satu minggu ini ia tak meminum pil KB karena permintaan Surya.
Luna melihat pohon dan juga pemandangan alam yang terus bergerak, seperti hidupnya yang juga terus bergerak maju, Luna sadar sudah tak ada lagi kata untuk mundur. Luna telah naik ke dalam kereta bertajuk dosa, sudah terlanjur basah, lebih baik dia berenang bersama Dimas mencari tepian untuk istirahat sejenak.
Kereta yang membawa Luna sudah mulai memperlambat lajunya, tanda sudah hampir sampai di stasiun tujuan. Luna membuyarkan lamunannya dan mulai membereskan barang bawaan. Ia membawa banyak oleh-oleh untuk Dimas. Pasti Dimas tak makan dengan teratur karena hidup sendirian.
"Halo, Manis!!" Dimas memeluk Luna saat gadis itu muncul di hadapannya. Bagaikan drama film masa lalu yang memisahkan sang kekasih karena perang, begitulah dramatisasi Luna dan Dimas siang itu.
"Aku kangen, Dim." Luna memeluk erat tubuh kekar Dimas, membaui aroma maskulin yang segar. Tampaknya pemuda itu sengaja pakai parfum agak banyakan untuk menggoda Luna. Dimas mengecup kening Luna dalam-dalam.
"Papamu terus menempel padaku. Aku tak berkutik, Dim ... dan aku ingin cerita sesuatu." Luna menunduk, ia memilin jarinya, susah bagi Luna menceritakan pada Dimas keinginan Surya untuk memiliki momongan. Tapi Luna harus menceritakan semuanya pada Dimas bila ia ingin hubungan mereka tetap maju dan berhasil.
"Kenapa, Sayang?" Dimas terihat penasaran.
"Kita cari tempat yang nyaman yuk." Ajak Luna.
Dimas setuju, mereka berdua pergi ke kedai kopi di area stasiun terlebih dahulu. Dimas menatap wajah cantik Luna yang terlihat lesu. Luna merasa lidahnya kelu, bahkan setelah kopi di suguhkan, Luna tetap terlihat enggan bicara.
"Kalau masih berat, mending kamu minum dulu, Sayang. Setelah tenang baru bicara." Dimas menggenggam tangan Luna, meski terlihat tenang, hati Dimas kacau bak balonku ada lima meletus satu tinggal empat. Bergemuruh hebat, Luna tak biasanya bersikap murung saat mereka bersama, apa ada hubungannya dengan papa Surya?
Glup glup, Luna menenggak es americano. Tak ada yang lebih segar di bandingkan americano dingin di --menjelang-- sore hari yang terik.
"Apa ada hubungannya sama Papa?" tanya Dimas.
__ADS_1
Luna mengangguk, "Papamu minta aku hamil, Dim. Dia minta aku lepas pil KB supaya bisa lekas mendapatkan momongan."
"APA??" seru Dimas, semua mata menatap ke arahnya.
"Lalu, kamu bilang apa?? Kamu nggak nolak?? Bukannya dulu kamu bilang Papa kasih ijin nggak hamil sampai lulus kuliah??" Dimas melotot tak percaya, ia langsung mencerca Luna dengan beragam pertanyaan.
"Iya, dulu memang begitu perjanjiannya. Tapi setelah kamu pergi dari rumah dan rumah terasa sepi dia berubah pikiran, Dim." Luna menatap Dimas resah.
Dimas terhenyak, padahal dia pergi supaya bisa lekas memperjuangkan hubungan mereka, namun yang ada malah menjadi pedang bermata dua. Waktu dua tahun yang seharusnya menjadi tenggat waktu kini malah menghilang, Surya sudah menekan Luna supaya hamil. Dimas menggosok wajahnya, muncul lagi masalah dalam hubungan mereka.
Baru saja masalah dengan Karina berakhir, malah keluar masalah dengan Papanya. Dimas mulai memutar otak, berpikir bagaimana caranya agar Luna tidak hamil anak Papanya. Bagaimana pun Luna harus menjadi istrinya, ia harus mengandung anaknya.
"Aku harus bagaimana, Dim? Aku nggak mau hamil anak papamu. Aku juga masih ingin kuliah dan wisuda. Aku tak bisa mencuri minum pil KB karena papamu membawaku ke dokter kandungan." Luna menitikkan satu tetes kristal bening, lalu lekas menghapusnya karena sungkan dengan semua penghuni cafe.
Dimas mengeryitkan dahinya dalam, berusaha memahami pemikiran papanya. Ternyata papanya begitu mendambakan keturunan lagi, bukan hanya sekedar mencari istri untuk memenuhi kebutuhan biologisnya saja.
"Bagaimana kalau kita kawin lari saja, Luna?" usul Dimas, wajahnya mengeras tanda serius dengan ucapannya. Luna melongo dengan penuturan Dimas yang begitu nekat. Kawin lari???
Maksudnya Luna harus meninggalkan segalanya untuk bisa bersama Dimas??
"Kawin lari, Dim?" ulang Luna lagi mencerna ucapan Dimas.
"Iya, aku bisa kok membuang semuanya demi dirimu." Dimas menggenggam tangan Luna. Mata bulat yang berair masih menatap Dimas lekat, tampak pantulan wajah Dimas yang menanti jawaban Luna.
"Bagaimana, Lun?"
...-- BERSAMBUNG --...
...Maacih sudah baca, dukung terus kisah cinta Luna dan Dimas dengan vote dan kasih like plus komen yang membangun, makasih bellecious...
__ADS_1