
Satu minggu kemudian.
"Hati-hati, Dim!" Surya dan sopir keluarga memapah putranya masuk ke dalam mobil. Hari ini Dimas sudah diperbolehkan pulang. Engsel sendi bahunya sudah kembali ke tempat semula, sedangkan kakinya masih harus di gips.
"Kapan jadwal kontrol lagi?" tanya Luna pada perawat yang tadi mendorong kursi roda Dimas.
"Minggu depan. Dokter bilang bahunya belom boleh dipakai terlalu banyak bergerak dulu, dan masih harus menjalani fisioterapi beberapa kali lagi." Perawat itu menyerahkan berkas rekam medis salinan milik Dimas pada Luna.
"Terima kasih ya." Luna mengagguk.
Setelah menyamankan diri di dalam bangku penumpang, Luna dan Surya masuk ke dalam. Surya terlihat lelah karena ia baru saja terbang dari luar pulau tadi pagi. Seminggu ini Surya memang pergi ke luar kota untuk meeting tender besar. Pembangunan ibu kota baru untuk negeri ini. Kebetulan beberapa proyek di bagi ke perusahaan konstruksi swasta.
"Lelah?" tanya Luna sembari menggosok lengan Surya.
"Lelah, Sayang. Tapi lelahnya terbayar saat melihatmu." Surya tersenyum dan mengecup pipi Luna.
"Ehem, mesra-mesraannya di rumah saja kenapa sih?? Memangnya kita patung apa?" Dimas berdehem, sopir di sampingnya juga sama tersipunya karena melihat kemesraan sang tuan.
"Hahaha!! Kalau kamu iri, lekas lulus kuliah dan cari istri, Dimas." Surya menggulung lengan kemejanya yang memang sudah kusut.
__ADS_1
"Gampang banget cari istri? Memangnya ada yang buang?" Dimas mendengus, jatuh cinta saja susah, sekali jatuh cinta malah jadi milik papanya.
"Hahaha ... cari wanita yang cantik dan pengertian kek mamamu ini, Dim." Surya memuji kepiawaian dan ketundukan hati Luna sebagai seorang istri.
Luna hanya diam saja, sedangkan Dimas, jangan ditanya hatinya terasa sehancur apa. Luna sudah menempati bagian terbesar di dalam hatinya saat ini.
"Ah ... aku lelah sekali, ingin segera merebahkan diri." Surya menghenyakkan punggungnya ke sandaran, ia terus menggenggam tangan Luna dengan erat seakan wanita itu adalah charging batre tenaganya.
"Apa tendernya berhasil?" Dimas ingin tahu.
"Yup, papa menang, Dim. Kedepannya papa akan sering pergi ke luar kota. Kamu jangan nakal lagi ya!! Memangnya enggak kapok sampai kaki tangan rampal semua??" Surya memperingatkan putra sematawayangnya agar tidak berbuat onar selama ia pergi bekerja.
Dimas sungguh terlalu tenggelam di dalam cintanya pada sosok sang ibu tiri sampai ia lupa dengan norma dan juga nurani.
"Ingat, Dim! Kamu harus cepet lulus dan bantuin papa. Perusahaan itu kelak juga akan menjadi milikmu!! Jadi kamu harus lekas belajar terjun ke lapangan!" tandas Surya.
"Oke, Pa. Tenang aja, Dimas akan ingat wejangan Papa." Dimas mengagguk.
Luna tak banyak bicara, ia memilih diam untuk mendengar ocehan ayah dan anak itu. Mereka sangat dekat dan Luna berada di tengah-tengah mereka. Bagaimana hubungan mereka bila Luna meneruskan hubungannya dengan Dimas?? Bisa-bisa hubungan ayah dan anak itu retak dan akhirnya hancur.
__ADS_1
Luna tak mau hal itu terjadi. Maka sekuat mungkin Luna harus menjaga hatinya supaya tidak jatuh pada jeratan pesona Dimas. Semenjak menjaga Dimas di rumah sakit, Luna sadar betul kalau perasaannya tidak berubah. Ia masih mencintai pemuda itu, sangat-sangat mencintainya. Meski pun sekuat tenaga Luna menolak Dimas saat Dimas memberikan rayuan rayuan kecil, namun hati Luna merasa begitu bahagia.
"Ngomong-ngomong, katanya mama bikin novel ya, Ma?"
"I ... iya," jawab Luna terbata.
"Serius istriku ini penulis??" Surya juga kaget saat mendengarnya. Luna selama ini tak pernah menceritakan hobinya pada siapa pun. Ia bahkan menulis dengan nama pena yang jauh berbeda dari namanya.
"Iya, Mas." Angguk Luna.
"Boleh Dimas baca?"
"Papa juga mau baca."
Luna menelan ludahnya dengan berat, isi dari novel-novelnya adalah curahan hatinya dan juga ketidakberdayaannya meraih cinta. Dan sosok main charakter pria nya selalu adalah Dimas. Karena bagi Luna, Dimas selalu menjadi muse-nya.
Bila Dimas membaca novel itu, apakah Dimas akan mengetahui isi hatinya? Dan kalau Surya membaca novelnya, apakah dia akan sadar kalau istrinya selalu membayangkan orang lain?
"Gimana, Ma? Boleh apa nggak Dimas baca??"
__ADS_1
...-- BERSAMBUNG --...