Terjerat Pesona Ibu Tiri

Terjerat Pesona Ibu Tiri
Curiga


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Luna melihat Dimas sedang membereskan pakaiannya, ia melihat Dimas dengan tatapan sendu. Sungguhkah ia harus pergi dari rumah untuk mengurangi kecurigaan Surya atau siapa pun di sekitar mereka??


Cinta memang rumit. Sudah tahu mereka bermain api akan terbakar, namun bukannya mundur malah nekat masuk ke dalam kobarannya. Panasnya bara asmara membuat mereka nekat dan tak bisa berpikir panjang.


Dimas berusaha membangun hidup dan kerajaannya sendiri supaya ia mampu menghidupi Luna saat nanti bercerai dengan papanya.


"Sungguhkah kamu harus pergi, Dim?" Luna memeluk Dimas.


"Cuma satu jam berkendara, dan setengah jam dengan kereta. Naiklah kereta tiap kali kamu merindukanku." Dimas ikut memeluk Luna dengan mesra. Itukat Dimas untuk memiliki Luna sudah sangat bulat. Dia akan membuat Luna menjadi miliknya segera mungkin.


"Aku akan merindukanmu setiap hari, Dimas." Luna berbisik lembut, senyumannya yang manis membulius Dimas, dengan lembut Dimas mengecup bibir Luna. Mereka lupa kalau masih ada di dalan rumah, dan ada papanya.


"Sudah siap, Dim??" Suara Surya membuat keduanya tersentak dan langsung menjaga jarak. Surya masuk ke dalam kamar, melihat Luna berdiri tak jauh dari Dimas, Luna tentu saja berpura-pura membantu Dimas beres-beres.


"Su ... sudah, Pa." Dimas menyahut dengan gelagapan.


"Kamu yakin nggak mau minta papa bicara sama Om Yanuar? Dia teman papa saat masih kuliah dulu."


"Nggak usah, Pa. Dimas nggak mau di anak emaskan karena embel-embel nama papa. Nanti Dimas nggak bisa pinter." Dimas bergeleng, saat mengangkat wajah, di bibir Dimas ada sedikit warna merah. Sisa lipstik Luna yang menempel saat mereka berciuman tadi.


Luna kaget, ia syok, bagaimana kalau Surya tahu ia berciuman dengan Dimas?


"Dim," senggol Luna.


"Heung??" Dimas melirik. Luna membuat gerakan isyarat dengan menunjuk-nunjuk bibir, namun Dimas malah bingung.


"Dim, itu bibir kamu kena apa? Ada belepotan merah?" Surya menoleh pada anaknya.


"Eehh?? Merah??" Dimas tersentak, pasti karena lipstik Luna menempel di bibirnya. Dimas langsung mengusap bibirnya. Luna memejamkan mata tak berani mendengar jawaban Dimas. Jantungnya berdebar sangat keras, takut ketahuan.


"Ini ... Oh ... Dimas tadi minum f*nta, Pa. kan warnanya merah, mungkin mengecap di bibir Dimas." Dimas menyeka bibirnya.

__ADS_1


"F*nta? Kamu masih minum soda terus, Dim?" Surya bergeleng. Debaran jantung Luna sedikit melambat karena takut mulai berangsur-angsur tenang. Luna lega sekali karena ia berhasil lolos dari tatapan Surya.


"Em ... aku ke dapur dulu." Luna pergi dari antara mereka.


"Tapi ngomong-ngomong, kenapa warna f*antanya mirip dengan lipstik mamamu yang papa beliin kemarin?" Surya mencekal sikut lengan Luna.


Degh!!


Hati Luna ambles. Wajahnya pucat sekali, keringat dingin menetes.


Dimas juga sama, namun berusaha tenang. Saat ini perang mental dengan Surya. Kalau nggak bisa tenang dan menyangkal maka dia akan kalah. Hubungan mereka akan ketahuan dan menyakiti hati papanya.


"Maksud papa apa?? Apa papa menuduhku mencium mama??" Dimas maju ke depan, ia menyahut minuman kaleng yang ada di atas nakasnya. "Ini, kalau nggak percaya minum saja." Dan memberikan soda berwarna merah pada Surya.


Ternyata Dimas memang punya minuman kaleng bersoda itu, ia tak sembarangan membuat alasan. "Papa mengira aku melakukan hal tak senonoh terhadap mama?? Mama kemari hanya untuk membantuku membereskan tas, Pa. Masa papa tega menuduh mama yang tidak-tidak??" Dimas menghela napas panjang.


Surya menatap Luna, istrinya itu sudah menangis. Surya merasa bersalah, namun juga tak dipungkiri ia cemburu saat melihat istrinya membantu sang anak mengepak barang. Ah ... padahal Surya sudah jauh lebih dewasa, namun tingkahnya mirip anak remaja yang di mabuk cinta.


Surya cemburu pada putranya sendiri tanpa alasan yang jelas. Ia bahkan cukup senang saat putranya pergi meninggalkan rumah hingga sang istri tak bisa berduaan dengan putranya. Padahal Dimas sedang membodohi Surya, justru dengan kepindahannya ini Surya tak akan bisa mengendus perselingkuhan yang ia lakukan dengan Luna.


"Papa sih, Mama jadi ngambek kan!" tandas Dimas membuat Surya semakin bersalah.


"Ck, sudah sana berangkat. Om Ruslan sudah minta sopir nganterin kamu." Surya merasa kesal karena menerima wejangan dari anak bau kencur. Tahu apa jomblo ini tentang rasa cemburu. Padahal Dimas adalah orang yang paling berpengalaman tentang rasa cemburu karena melihat kekasihnya memadu kasih dengan pria lain setiap hari.


"Dimas berangkat dulu, Pa." Dimas mengecup punggung tangan Surya.


"Hati-hati ya, hubungi papa kalau kamu butuh sesuatu." Dimas mengangguk saat Surya menawarkan bantuan, namun dalam hati Dimas menolak, ia tak akan menjadi pria dewasa dan merebut Luna bila terus menerima bantuan.


"Baik, Pa. Sehat-sehat, ya." Dimas memeluk papanya dan keluar dari rumah. Di tengah jalan menuju je mobil, Dimas menoleh ke arah jendela kamar, Luna mengintip di celah gorden sembari memberikan kiss bye pada Dimas.


Dimas tersenyum dan masuk ke dalam rumah. Ini bukanlah perpisahan, melainkan awal dari usaha mereka untuk meraih cinta.


"Aku pasti akan mendapatkan Luna kembali," gumam Dimas.

__ADS_1


Selama perjalanan Dimas banyak merenung dan juga mencari cara terbaik agar ia bisa segera mengumpulkan uang. Memang tugas akhirnya telah selesai, Dimas hanya tinggal menunggu sidang saja sebelum sarjana. Dimas ingin lekas mandiri, banyak hal yang sudah ia rencanakan untuk menghasilkan banyak uang. Semoga Tuhan merestui usahanya.


.


.


.


Di tempat lain.


Luna tengah menyiapkan makan malam, Surya menanti makan malam itu dengan sabar sembari membaca berita dari tablet pintarnya.


"Mas ..."


"Gimana?" tanya Surya.


"Papa gimana? Apa sidah naik bandingnya akan segera di laksanakan??" Luna belum sempat menemui sang ayah akhir-akhir ini karena terus berduaan dengan Dimas. Terakhir yang ia tahu, pengacara yang disewa oleh Surya sudah berhasil mengajukan banyak pengurangan masa tahanan dan kini menaikkan sidang banding untuk lebih menekan lagi hukuman yang harus dijalani Benny.


"Kenapa nanya sama Mas? Bukannya kamu sering pergi mengunjungi papamu?" Surya mengeryit, Luna kelabakan, ia lupa kalau selama ini ia meminjam nama papanya untuk digunakan sebagai alasan ia pergi dengan Dimas.


Gluk!!


Luna salah bertanya.


"Ehm...."


"Harusnya aku yang bertanya padamu, Luna. Bagaimana jalannya sidang mertuaku?!" Surya menatap tak mengerti ke arah wajah Luna yang pucat pasi.


...-- BERSAMBUNG --...


...MAAF BARU UPDATE!! ...


...Terima kasih sudah menunggu ^^...

__ADS_1


...Minta Like dan Commentnya ...


__ADS_2