
Tubuh Luna meremang saat merasakan sentuhan tangan Dimas merajai tiap inci permukaan kulitnya. Tak pernah Luna rasakan energi yang begitu meluap keluar dari tubuhnya. Persatuan yang biasanya terasa menjemukan kini terasa begitu indah dan memabukkan.
Tetesan peluh memenuhi sekujur tubuh Luna, menguar bersamaan dengan suhu tubuh keduanya yang meningkat drastis. Menjadi uap panas yang menguarkan aroma tubuh. Pheromon yang mempengaruhi indra.
"Aaahhh...." Lengguhan keras terdengar dari bibir Luna saat Dimas mulai menggigit ujung ranum di atas bukit kembarnya. Menggigit secara bergantian.
Dimas duduk diam, hanya bagian atasnya yang bekerja karena bagian bawah tubuhnya masih terluka. Luna yang lebih banyak bekerja, ia duduk di pangkuan Dimas sembari menggali rasa nikmat yang terus menghantamnya naik turun. Menekan, menusuk, mendesak, dan memenuhi rongga tubuhnya dengan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ah, kamu hebat sekali, Ma." Dimas memuji kepiawaian Luna dalam memuaskan gairah mereka berdua.
Luna tak peduli dengan pujian Dimas, akal sehatnya tertutup oleh rasa indah yang sedang bergelora di bawah sana, dopamin dan endrofin memenuhi otaknya. Meledakkan kebahagiaan yang selama ini selalu ia dambakan.
Dimas bisa merasakan sedotan pelan dari keindahan yang Luna tengah rasakan. Dimas membiarkan Luna menggali sisa-sisa pleasure peak-nya sebelum kembali meminta hal yang sama.
"Hah ... hah ..." Luna terengah. Gaya ini cukup menguras tenaganya.
Dimas kembali merasakan bagian tubuhnya terhimpit oleh cengkraman Luna. Wajah Dimas langsung menegang begitu merasakan deburan rasa indah yang sebentar lagi akan meledak.
"Akkhh!!" Seru Dimas begitu pelepasannya terjadi.
Luna rebah di dalam pelukan Dimas. Dengan mesra Dimas memeluk Luna, mengelus lembut punggungnya yang putih dan berkeringat. Sesekali Dimas mengecup kening Luna. Luna masih terengah, namun meski pun lelah, ia sangat bahagia. Kala itu merupakan persatuan Luna yang paling indah selama hidupnya, dan sampai detik ini, Luna sama sekali tidak menyesalinya.
Luna memejamkan mata, merasakan detak jantung Dimas yang terdengar begitu merdu ditelinganya. Luna merasa aneh, ia tak lagi peduli dengan statusnya sebagai ibu tiri Ardimas, tak lagi peduli dengan suaminya. Luna ingin berada di dalam pelukan Dimas lebih lama lagi. Luna ingin merasakan indahnya cinta ini lebih lama lagi.
Kebahagiaan yang Luna inginkan, yang tadinya hanya ingin dirasakan satu kali, nyatanya lusut. Luna menjadi serakah, ingin merasakan kebahagiaan bersama dengan Dimas lebih dan lebih.
Setiap hari tak berakhir tanpa persatuan indah. Tubuh Dimas bagaikan candu bagi Luna begitu pula sebaliknya. Keduanya tenggelam dalam dosa yang memabukkan. Tenggelam dalam kenikmatan semu yang menuntun mereka pada jurang maut sedikit demi sedikit. Sebuah dosa yang terbalut indah dalam sebuah rasa yang disebut CINTA.
"Aku mencintaimu, Luna." Dimas mengecup bibir Luna.
__ADS_1
"Aku juga Dimas." Luna tersenyum, ia menggigit bibir Dimas dengan lembut dan tersenyum berdua.
Hari demi hari berlalu, menumbuhkan rasa cinta yang semakin kuat mengakar di hati mereka. Tiap hari Luna dan Dimas mencuri-curi kesempatan untuk bersatu. Di mana pun, bahkan mereka melakukannya di dalam mobil saat perjalanan ke kampus.
Luna sudah lupa total dengan perannya sebagai istri, apalagi semenjak mendapatkan proyek di luar pulau, Surya jarang pulang ke rumah. Luna selalu menghindar saat Surya mengajaknya ikut ke sana dengan alasan kuliah. Padahal ia berduaan dengan putra tirinya untuk berpeluh bersama.
Dimas pun sama, ia sudah bebal dengan suara hatinya yang berbisik akan dosa yang ia lakukan bersama dengan sang ibu tiri. Dimas tak lagi peduli dengan perasaan Surya, tak lagi peduli bila ia harus menjadi seorang anak durhaka, asalkan ia tetap boleh berada di sisi Luna untuk berbagi perasaan dan cinta.
.
.
.
Dua bulan kemudian.
"Baik, Bi. Berapa lama?"
"Mungkin satu minggu, Nona. Bibi usahain lebih cepat."
"Nggak usah terburu-buru, Bik. Santai saja. Temanin suaminya bibik dulu sampai sembuh." Luna tersenyum lembut, membuat hati Jaenap tersentuh.
"Ini uang saku buat bibik. Jangan lupa jaga kesehatan selama di desa ya."
"Baik, Non. Terima kasih banyak." Jaenap mengangguk penuh haru.
Sepeninggalan Jaenap, rumah semakin terasa kosong hingga Dimas dan Luna semakin bisa terang-terangan memadu kasih. Mereka bercinta di mana saja. Ruang keluarga, dapur, ruang gym, kolam renang, dan bahkan di kamar sang ayah. Dimas dan Luna sungguh di mabuk oleh cinta. Mereka lebih mirip dengan pasangan pengantin baru dari pada ibu dan anak.
Dimas bahkan sengaja merusak sambungan cctv agar Surya tak bisa memantau aktifitas panas mereka berdua.
__ADS_1
"Kamu minum apa?" tanya Dimas saat Luna menggeledah laci nakasnya. Pil-pil kecil yang Luna minum setiap hari tanpa jeda. Luna tak boleh telat meminumnya atau perutnya bisa melendung nanti.
"Pil KB. Aku nggak mau hamil, Dim." Luna kembali fokus pada Dimas.
"Oh, begitu. Pantas saja kamu nggak pernah nolak meski aku buang dalam terus ya." Dimas terkikih.
"Iya, perjanjian dengan Papamu. Aku nggak mah hamil sebelum lulus kuliah." Luna mengangguk.
"Papa setuju?"
"Tentu saja. Dia orang yang baik. Hah ... aku kadang merasa sangat bersalah karena terus membohonginya." Luna menundukkan kepalanya. Wanita itu memeluk lututnya sendiri.
Dimas menghela napas panjang juga. Memang apa yang mereka lakukan ini salah. Amat sangat salah, melanggar norma agama, susila, dan juga seperti binatang. Tapi hasrat dan cinta mereka ini sungguh amat sangat nyata dan susah untuk di tolak.
"Kita pikirkan hal ini nanti, Luna. Pasti akan ada jalan keluar untuk cinta kita bisa bersama selamanya." Dimas menyelimuti tubuh polos Luna dengan selimut.
Luna mengangguk pelan, Dimas memeluk tubuh langsing gadis itu. Sesekali mengecup keningnya. Kecupan ringan itu berpindah, ke hidung, pipi, pundak, dan terakhir bersarang di mulut Luna dan berubah menjadi deep kissing yang amat sangat mesra. Menggugah hasrat berpeluh untuk kembali terjadi.
Luna memeluk tubuh Dimas dengan erat, merasakan tiap sentuhan jemari besar Dimas merajai lekukan tubuhnya. Padahal baru saja mereka selesai berpeluh, tapi hanya sentuhan kecil saja sudah mampu kembali membangkitkan gairah. Cinta sungguh teramat sangat dahsyat.
Ditengah-tengah cum buan Dimas ... mendadak, handle pintu kamar di tekan.
GLEK!!
Dimas dan Luna melepaskan bibir dengan mata saling pandang. Siapa yang datang???
...-- BERSAMBUNG --...
Bagi-bagi like dan juga commentnya donk readers yang budiman. Dukungan kalian bikin sy semangat baca. Ada masukan tidak untuk novel ini?? Tolong diskusikan ya ❤️❤️ makasih
__ADS_1