Terjerat Pesona Ibu Tiri

Terjerat Pesona Ibu Tiri
Sepi


__ADS_3

"Harusnya aku yang bertanya padamu, Luna. Bagaimana jalannya sidang mertuaku?!" Surya menatap tak mengerti ke arah wajah Luna yang pucat pasi.


Luna terdiam, otaknya berputar untuk mencari alasan yang terbaik supaya suaminya tidak curiga.


"Kalau ke sana Luna nggak pernah bertanya pada Papa tentang sidang, Mas. Luna cuma bicara tentang hal-hal ringan dan menyenangkan bersama dengan Mas Surya dan Dimas. Luna nggak mau membebani pikiran papa perihal sidang." Dan Luna pun berhasil berbohong.


"Hmm ... kamu benar. Pasti sangat berat bila tiap hari papamu harus memikirkan tentang jalannya sidang.


"Ayo makan, Mas. Keburu dingin kaldunya. Lagian apa Mas nggak kangen sama Luna?" Luna menyiapakan hidangan untuk Surya. Luna sengaja mengalihkan pikiran Surya pada hal lain.


"Ayo, lalu aku ingin melepas rinduku denganmu, Sayang." Surya mengangguk, ah ... istrinya paham dengan keinginannya.


Keduanya duduk, ruang makan yang besar dan mewah itu tampak sepi karena Dimas sudah tak ada di sana. Biasanya celotehan Dimas yang akan menemani mereka bercakap-cakap.


"Sepi, ya." Surya melirik ke arah kursi.


"Belum juga satu hari Mas udah kangen sama Dimas. Gimana kalau sebulan dan bahkan setahun. Kalau Mas begitu sayang sama Dimas, kenapa sering bertengkar?" Luna ikut melirik ke arah bangku yang kosong.


"Semenjak kehilangan mamanya Dimas memang sangat sensitif. Aku sendiri tak bisa menahan emosinya. Pikiran Dimas tak lagi bisa kuselami." Surya merasa sayang dengan Dimas yang pergi meninggalkan rumah. Apa alasan Dimas pun Surya tak tahu. Surya cenderung tak pernah memikirkan masa depan Dimas karena baginya hanya ada satu masa depan, yaitu menjadi pewaris bagi perusahaan Eka konstruksi.

__ADS_1


"Mas adalah papa yang baik buat Dimas." Luna menelan minumannya. Ia merasa bersalah telah hadir di antara dua insan manusia itu.


"Seumur-umur aku hanya hidup untuk bekerja dan tak pernah memperhatikannya, tahu-tahu dia sudah beranjak dewasa." Surya tersenyum kecut. Banyak momment kebersamaan yang hilang dengan Dimas. Apa karena itu pula Surya merasa terbebani dengan kepindahan Dimas yang mendadak ini?


Luna diam saja, Dimas pindah karena dirinya, karena cinta tabu mereka. Tak ingin siapa pun tahu dan mempergunjingkan kisah cinta mereka yang ubnormal ini.


"Ah, aku jadi ngelantur ke mana-mana. Mungkin dari pada memikirkan Dimas yang sudah dewasa, lebih baik kita pikirkan saja anak kita kelak Luna. Kapan kamu bersedia mengandung, hm? Aku sudah tak sabar untuk memiliki momongan. Ayo kita isi rumah yang sepi ini dengan canda tawa dan tangisan selusin bayi." Surya menggenggam tangan Luna.


"Luna belum siap, Mas. Kuliah dengan merawat bayi, pasti sangat repot." Luna menolak dengan alasan yang sama.


"Ayolah Luna. Umur Mas sudah nggak muda lagi. Mas pengen punya anak lagi dari kamu, kalau kamu terus menundanya bisa-bisa malah kita tak punya keturunan." Surya mendesak Luna untuk melepaskan pil Kb yang selama ini rutin Luna komsumsi.


"Tapi ..."


Luna menjalani dua pasangan dalam satu kehidupan, istri Surya dan kekasih Dimas. Akan sangat membingungkan bila ia hamil tanpa tahu siapa yang menyumbangkan benihnya. Dan lagi ... Luna sangat ingin rahimnya diisi oleh anak Dimas, bukan Surya.


"Mas, tolong jangan memaksa Luna. Luna masih ingin berkuliah, lulus dengan cepat. Luna janji nggak akan nunda momongan lagi begitu wisuda." Luna memohon pada suaminya, ia merenggek dengan nada sendu. Namun keputusan Surya sudah bulat, ia sangat menginginkan kehadiran seorang anak agar rumah besar itu tak terasa suram.


"Tidak! Mas semakin hari semakin sibuk! Kita juga semakin jarang berhubungan badan, kalau terus di tunda nanti malah terlambat." Surya bergeleng.

__ADS_1


"Mas, kenapa mas berubah? Jadi pemaksa begini? Dulu saat menikahi Luna Mas bilang kalau Luna boleh hamil setelah lulus." Luna mulai melawan. Alhasih, Surya mengeluarkan senjata andalannya untuk menekan jiwa pembangkang sang istri.


"Aku sudah melakukan banyak hal untuk papamu, Luna. Masakah kamu melakukan satu hal mudah ini saja tidak mau?? Apa kamu tak mau mengandung anakku?? Kalau begitu untuk apa aku susah payah mengeluarkan uang dan tenaga untuk mengeluarkan papamu dari penjara." Surya menyekak mat Luna. wanita itu kalah, tak bisa bergerak lagi bila Surya sudah mengungkit tentang papanya.


Luna tertunduk, ia mengerti betul kalau selama ini penolongnya adalah Surya. Tanpa Surya Luna akan menjadi gadis gelandangan, anak koruptor, dan tak bisa lagi menemui papanya sampai waktu yang belum ditentukan. Jadi, Luna bisa apa lagi untuk menolaknya?


"Ayolah, Sayang. Mas cuma ingin anak, bukan hal yang muluk. Anak yang tampan atau cantik sepertimu. Anak yang manis dan juga pintar. Kita akan membesarkannya berdua." Surya memeluk Luna.


Luna diam saja, hatinya sangat gundah. Ia lebih memilih untuk diam dari pada menjanjikan sesuatu yang tak bisa ia turuti.


"Berhenti minum pil KB. Aku akan minta Ruslan mencari dokter kandungan yang bagus untuk persiapan kehamilan. Kamu harus benar-benar siap secara fisik dan mental. Karena konon katanya healty mom healty baby. So ... aku akan menemanimu juga besok." Surya mengelus pipi mulus Luna sebelum mengecupnya.


Luna diam, kecupan itu terasa dingin dan menyesakkan. Luna tak bisa membantah satu patah kata pun lagi. Ia kini tinggal pasrah saja. Mau tetap minum obat pun percuma karena Surya mencari dokter kandungan yang bisa mengetahui kadar esterogen dalam tubuh Luna, ia bisa ketahuan kalau minum pil itu diam-diam.


"Ayo kita ke kamar." Surya menggandeng Luna.


Luna bagaikan kerbau yang di colok hidungnya, ikut kemana pun Surya menggandengnya. Luna masuk ke dalam kamar, bersiap untuk menerima cum buan panas Surya. Surya tengah bersiap untuk menjalani ritual penuh gairah bersama istrinya yang penurut. Luna menggigit bibirnya sembari mengepalkan tangan meremas sprei. Bayangan wajah tampan Dimas terus muncul di dalam benaknya hingga menumbuhkan nestapa tersendiri dalam hati Luna.


[Bagaimana ini, Dimas??] batin Luna merana. Sebentar lagi, setelah efek pil kontrasepsi berakhir, anak siapa yang akan Luna kandung? Surya?? Atau Dimas?? Dan bagaimana dengan Dimas bila ia tahu sang ayah memaksa Luna untuk hamil??

__ADS_1


...-- BERSAMBUNG --...


...Jangan Luna di like dan Comment bestie ... maacih, akoe sayang kalian ...


__ADS_2