
Tangan Dimas kembali mencekalnya dan menarik tubuh Luna hingga terjatuh dalam pelukannya.
"Kayaknya nggak bisa, Luna. Aku nggak bisa cuma anggap kamu sebagai Mama. Maaf ... aku nggak mau kamu cuma jadi ibu tiri saja!!" Selesai berucap, Dimas langsung mengecup lembut bibir Luna.
"Dimas!!!" Luna mendorong Dimas. Ia mengusap bibirnya dengan kasar. Luna merasa kembali di le-cehkan dengan perbuatan Dimas. Air mata mulai menggenang di mata bulatnya. Hati Dimas berdenyut sakit saat melihat air mata di wajah cantik Luna. Luna terlihat sangat menderita karena kelakuannya.
"Ma ... maaf, Luna, aku minta maaf." Dimas langsung menarik tangan Luna, berusaha membuat gadis itu tetap tinggal untuk mendengar alasannya. "Aku menyukaimu, Luna. Maaf, aku sungguh tak bisa menahan luapan perasaanku sendiri."
"Bohong!! Jangan bohong, Dim!! Kamu membenciku! Tiap kali bertemu kamu selalu mengatakan kalau aku adalah wanita murahan yang bisa dipakai oleh sembarang pria. Yang bebas digilir di atas ranjang!!" Luna berseru, air matanya menetes dengan sangat deras.
"Tidak, Luna. Aku salah!! Saat itu aku salah menilaimu. Aku terlalu terbawa emosi, terbawa oleh rasa cemburu. Ya, sepertinya aku memang menyukaimu jauh sebelum kita bertemu di restoran itu." Dimas mengutarakan isi hatinya pasa Luna. "Aku cemburu Luna. Aku tak suka kamu bersama dengan papaku. Dan mungkin semua amarahku padamu hanyalah alasan karena ketidakmampuanku memilikimu." Dimas menyesal telah mengatakan hal-hal buruk tentang Luna. Ia merasa bersalah. Kalau bisa Dimas ingin mencabut semua ucapannya.
Luna kaget mendengar penuturan Dimas. Bintang yang selama ini hanya bisa ia lihat di langit malam. Yang tak tergapai oleh tangannya itu menyatakan cinta. Luna merasa syok, kenapa baru sekarang?? Kenapa baru sekarang saat ia sudah resmi menjadi istri orang lain??
Tapi Luna diam, ia tak mau menjawab pernyataan cinta Dimas. Tak mau mengungkapkan kalau ia juga punya rasa yang sama. Luna tak mau mengkhianati suaminya, mengkhianati kebaikan hati Surya yang telah banyak membantunya, membantu ayahnya keluar dari penjara. Luna tak ingin menjadi kacang lupa kulitnya.
"Tidak!! Jangan bicara sembarangan Dimas! Aku sekarang adalah mamamu!! Meski hanya mama tiri, aku tetap adalah orang tuamu." Luna terengah-engah saat menasehati Dimas.
"Tapi Luna!!"
"Panggil aku mama, Dim!! Dan, jangan ulangi hal ini lagi!! Kali ini aku akan menganggapmu tak pernah mengatakannya padaku." Luna mendorong Dimas pergi menjauh darinya. Tak ada makan malam, Luna tak melanjutkan memasak, hatinya terasa berat karena beban ini.
"Luna!! Please, dengerin dulu!!" Dimas mencekal sikut lengan Luna.
__ADS_1
"Tolong, Dim, jangan buat aku menderita dengan perasaan ini!" Luna mengusap air matanya.
"Jadi kamu ..." Dimas kehabisan kata-kata, Luna ternyata punya perasaan yang sama dengannya.
"Benar!! Tapi itu dulu!! Sekarang, cuma papamu yang aku cintai." Luna menepis tangan Dimas.
"Kenapa kamu membohongi perasaanmu sendiri, Luna. Aku tahu kamu juga suka sama aku!!" Dimas hendak kembali mencekal tangan Luna, tapi kedatangan Jaenap dari pintu belakang membuat Dimas mengurungkan niat.
"Ada apa ini, Den? Non Luna? Saya dengar ada suara ribut-ribut." Jaenap dengan tanpa rasa bersalah mengiterupsi keduanya. Tangannya sampai masih terlilit sabun, sepertinya dia sedang mencuci pakaian.
"Nggak ada apa-apa, Bik. Tadi saya nggak sengaja keiris pisau, Dimas pengen kasih obat, tapi saya takut perih." Luna berbohong, Dimas hanya bisa diam saja.
"Oh, gitu, Non. Ya ampun kenapa masak sendiri sih, Non. Kan bisa minta tolong Bibik untuk bantuin meracik sayurnya." Jaenap merasa bersalah.
"Hanya baju saya lima potong saja, Non. Sebentar juga kan kelar." Jaenap menimpali.
Dimas yang mendongkol karena perasaannya hanya bisa pergi dari sana dan masuk ke kamarnya. Luna tersenyum pada Jaenap, beruntung wanita tua itu tak mendengar pembicaraan mereka berdua. Kalau dengar, sudah pasti Surya akan marah besar pada Luna. Dimas enak aja karena selamanya tak akan pernah ada mantan anak atau mantan ayah. Sedangkan Luna, ia bisa jadi mantan istri.
.
.
.
__ADS_1
Pukul sembilan malam. Dimas tak kunjung bisa meredakan rasa sakit di dalam hatinya. Hati kecilnya dikuasai dengan rasa bersalah dan juga kekecewaan. Andai saja ia satu langkah lebih cepat mengenali Luna, mungkin saja Luna akan menjadi miliknya. Andai saja Dimas jauh lebih paham akan perasaannya sendiri, mungkin dia tak akan sampai hati berkata-kata kasar pada Luna.
Yah, nasi sudah menjadi bubur, memangnya apa lagi yang bisa Dimas perbuat?
"S*alan!! Nggak bisa tidur!" kesal Dimas.
Sejak tadi Dimas hanya mengurung diri di dalam kamarnya. Tak ingin bertemu dengan Luna, takut kalau ia kembali terpesona dengan sang ibu tiri. Dimas tahu tak selamanya ia bisa menghindari Luna. Mereka tinggal dalam satu atap yang sama. Tapi bagaimana? Bagaimana caranya Dimas bisa melupakan cintanya pada sang ibu?
"Mending ke club!!" Setelah berganti pakaian yang lebih casual. Dimas bergegas menyahut kunci motornya.
Dimas ingin melupakan Luna dengan cara minum-minum dan mencari perempuan. Ya, siapa tahu ada perempuan yang bisa diajak one night stand dan mampu menghilangkan perasaannya. Menggeser keberadaan Luna di hati Dimas.
Saat Dimas berjalan pergi keluar, ia melewati kamar Papa dan Mamanya. Suara de-sahan Luna terdengar dengan sangat jelas dari balik pintu.
Siiirre ... hati Dimas langsung berdesir, bagaikan di sayat dengan pisau yang tajam.
...-- BERSAMBUNG --...
Suka nggak?? Kalau suka langsung pijet like
Penasaran nggak?? Kalau iya langsung di masukin ke rak biar dapat notifikasi updatenya tiap hari.
Gemesh? Yuk tulis komentar, di banyakin ya. Biar author semangat nulisnya.
__ADS_1
Update tiap hari pukul 9 malam ^^