Terlambat

Terlambat
Sebaiknya aku harus bagaimana?


__ADS_3

"Alhamdulillah ya Alloh atas rejeki yang Engkau berikan untuk hamba." Ucap syukur Adrian saat melihat uang yang ada di tangannya yang setelah dihitung total uangnya sebesar lima ratus ribu rupiah.


"Mimpi apa aku semalam. Bisa-bisanya mendapat rejeki nomplok seperti ini." Ucap Adrian lirih.


Adrian termasuk salah seorang anak yang sangat berkompeten di sekolahnya. Hanya saja karena tidak memiliki biaya, sehingga dia tidak dapat melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi lagi.


Pernah bercita-cita ingin menjadi seorang petani sayur yang sukses. Akan tetapi hanya sedikit pengetahuannya tentang pertanian. Ada keinginan untuk mengikuti pelatihan khusus tentang cara bertani sayuran.


"Apa sebaiknya uang ini aku gunakan untuk ikut pelatihan tata cara bercocok tanam sayuran ya?" ucapnya sambil melihat uang yang ada digenggamnya.


Adrian pun berpikir cukup lama, karena masih bingung dipinggir jalan yang terdapat pohon yang sangat rindang. Adrian duduk berteduh dibawah pohon itu sembari terus memikirkan langkah yang seharusnya dia ambil.


"Tin...."


Terdengar suara klakson sepeda motor yang tiba-tiba berhenti tepat didepan Adrian. Dan terlihat dua sepeda motor berhenti didepannya. Seseorang turun dari sepeda motornya dan menghampiri Adrian.


"Eh, ada anak miskin disini, kok bisa pas banget ya gue bisa ketemu sama Lo. Kalo gue perhatiin, sejak dulu gini-gini aja ya hidup Lo," cemoohnya sambil tertawa terbahak bersama Romi temannya. Orang itu tidak lain adalah teman sekolah Adrian sewaktu SMP yang diketahui namanya adalah Syarif Jamaludin yang sering dipanggil Arif.


Arif ini dikenal seorang anak yang memang sering mem bully teman-temannya. Terlebih jika bertemu dengan Adrian yang sejak dulu memang hidup dengan kehidupan yang sederhana.


"Eh, ini beneran kamu Rif. Aku pikir siapa. Hebat banget kamu Rif, bisa beli motor bagus gini, pasti mahal ini harganya." Ucap Adrian.


"Ya pastilah! Emang gue pernah pake barang-barang murahan. Jangan samai sama Lo dong? Kita kan beda..." ucap Arif yang semakin terpingkal-pingkal.


"Bedanya aja jauh banget malah bro, kayak langit sama bumi. Ya gak sih?" imbuh Romi yang ikut mem bully Adrian.


Adrian yang bukan tipikal orang mudah emosi, hanya menanggapi Arif dan Romi dengan sangat santai.


Bahkan, karena tidak ada respon dari Adrian mereka berdua pun pergi meninggalkan Adrian sembari melempar cemoohan padanya. Adrian hanya menggelengkan kepalanya keheranan.


"Alhamdulillah kalau kalian sudah sukses, saya ikut senang melihatnya." Batinnya setelah temannya pergi.

__ADS_1


Dikarenakan waktu yang semakin siang, Adrian memutuskan untuk pulang. Dengan harapan, sesampainya di rumah ada waktu bersama bapak dan ibunya untuk di mintai pendapat.


Dengan sepeda motor yang masih terparkir di pinggir jalan, akhirnya Adrian berjalan menuju sepeda motornya dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.


Setelah beberapa lama perjalanan, sampailah Adrian di rumah tercinta. Meskipun tak sebagus milik yang lainnya, tapi rasa syukur tak pernah lupa selalu diucapkan.


"Assalamualaikum, Adrian pulang Bu?" yang menjadi kebiasaan Adrian saat pulang selalu memberi salam. Sembari melangkah masuk kedalam rumah dan menghampiri ibunya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Murni dari dalam rumah.


"Kok sepeda motornya tidak kedengaran Nak, tahu-tahu sudah datang aja anak ibu." Ucap Bu Murni.


"Sengaja Adrian matiin kontaknya Bu, biar irit bahan bakar." Jawab Adrian sembari tersenyum tipis.


"Owh ya, Bapak mana Bu?" tanya Adrian.


"Tadi bapak keluar sama Pak Darman, tapi ibu juga kurang tahu mau pergi kemana. Mungkin saja mau beli bibit yang bagus di toko pertanian milik Pak Sholeh." Jawab Bu Murni.


Bu Murni melemparkan senyumnya sembari mengangguk sebagai jawaban dari ucapannya.


Adrian pun segera pergi masuk kedalam kamarnya. Didalam kamarnya Adrian tidak langsung berganti pakaian, melainkan melihat kartu nama yang diperolehnya dari seseorang yang dibantunya.


"Owh iya, tadi Pak Jafar memberiku kartu nama. Coba kulihat dulu lah, siapa tahu nanti aku bisa tanya-tanya lowongan pekerjaan." Ucapnya lirih.


Diambilnya kartu nama yang ada disaku celananya yang disimpan bersama dengan uang lima ratus ribu rupiah pemberiannya.


"Muhamad Sholeh Jafarudin, PT. MSJ Agromulyo." Ucap Adrian membaca kartu nama yang dia peroleh dari pak Jafar.


Adrian tak menyangka bahwa orang yang di tolong itu adalah seorang pengusaha yang bergerak di bidang pendistribusi sayuran ke seluruh supermarket yang ada di Jawa Tengah.


"Ternyata beliau ini pemiliknya, tapi tampilannya mengapa jauh berbeda sekali." ucapnya lirih.

__ADS_1


"Apa aku coba telepon saja ya? Barangkali ada lowongan pekerjaan disana. Tapi lebih baik tanya sama ibu dulu, bagaimana pendapatnya nanti," Imbuhnya.


Setelah selesai berganti pakaian, Adrian keluar dari kamarnya dan kembali menemui ibunya yang masih sibuk memasak didapur.


Tanpa basa-basi Adrian menceritakan tentang kegagalannya untuk mendapatkan pekerjaan.


"Bu, Adrian minta maaf ya Bu. Tadi Adrian pergi ke tempat yang dulu pernah masukin lamaran pekerjaan. Tapi, ternyata lowongan sudah ditutup. Lagi-lagi Adrian tidak diterima Bu." Ucapnya sambil tertunduk lesu dihadapan ibunya.


"Ya tidak apa-apa Nak, kenapa harus minta maaf sama ibu. Anggap saja itu memang bukan rejeki kamu. Mungkin dibalik itu semua, akan ada sesuatu yang lebih baik untukmu. Jangan patah semangat." Balas sang ibu yang mencoba tetap memberinya semangat.


"Iya Bu, terimakasih ya Bu sudah mengerti keadaan Adrian. Oh ya Bu, tadi dalam perjalanan pulang kerumah, Adrian bertemu dengan bapak-bapak yang rusak mobilnya. Adrian bantu sebisa Adrian, dan Alhamdulillah bisa nyala lagi Bu. Adrian diberi uang lima ratus ribu, dan ada juga kartu namanya. Yang ternyata setelah Adrian baca, beliau pemilik PT. MSJ Agromulyo. Namanya Muhammad Sholeh Jafarudin." Terang Adrian pada Bu Murni.


Bu Murni yang mendengar nama itu pun tiba-tiba terdiam sejenak, seolah sedang mengingat-ingat sesuatu. Tak lama dari itu Bu Murni tampak senyum bahagia.


"Bu, ibu kenapa malah senyum-senyum seperti itu."Ucapnya.


"Ibu!" Panggil Adrian yang seketika membuat Bu Murni berbalik memarahi Adrian yang sudah mengagetkannya.


"Ibu sudah dengar Adrian, tidak usah teriak seperti itu." Ucap Bu Murni.


"Lagian Ibu dari tadi senyum-senyum sendiri, nanti Adrian bilang bapak lho Bu." Ledeknya penuh canda tawa.


"Kamu tanya sama bapak saja nanti, kalau tidak salah itu pemilik toko yang sering bapak datangi bersama Pak Darman." Ucap Bu Murni.


Adrian yang tak sabar untuk memastikan kebenaran dari apa yang diucapkan oleh ibunya. Adrian mengambil telepon yang ada dikamarnya dan segera menelpon nomor yang tertera di kartu nama.


"Bu, misal Adrian telepon dulu bagaimana ya Bu. Soalnya Adrian sudah tidak sabar kalau harus menunggu bapak pulang." Ucapnya.


"Ya kalau kamu punya nomornya, coba saja Nak?" jawab Bu Murni.


Adrian pun mencoba untuk meneleponnya, namun, beberapa kali telah dicoba tak kunjung ada jawaban.

__ADS_1


"Sebaiknya aku harus bagaimana ya?" batin Adrian.


__ADS_2