Terlambat

Terlambat
Menangis histeris


__ADS_3

Sang Mama yang menangis histeris melihat anaknya dikurung didalam gudang oleh suaminya.


"Michi...."


"Hiks hiks hiks"


"Jika Mama membangkang perintahku. Papa tak segan untuk mengurung Mama bersama Michi." Ucapnya dengan tegas, membuat Bu Ayu terdiam.


Andika berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat. Semua kunci dibawa oleh Andika. Bu Ayu hanya bisa menangisi putrinya di depan pintu gudang. Hanya tangisan dari keduanya terdengar dari sana.


Sesekali mereka saling memanggil, dengan pintu yang menjadi pemisah mereka. Bu Ayu yang terus meminta putrinya untuk bertahan.


...****************...


Hari terlihat mulai petang, Michi masih terkurung didalam gudang. Bu Ayu yang sudah menyiapkan makanan untuk Michi pun meminta Andika untuk membuka pintu gudang itu.


Awalnya Andika tak berkenan untuk membukanya. Karena dinilai itu adalah hukuman yang pantas untuk orang yang sudah berani membangkang.


Akan tetapi setelah dipikir-pikir beberapa saat, akhirnya Andika membukakan pintunya. Dirinya beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju gudang yang tak jauh dari ruang keluarga.


Sebenarnya tempat itu bisa dikatakan hanya ruang yang tidak terpakai, tidak seutuhnya digunakan sebagai gudang. Dan setelah dibuka, Bu ayu segera menyalakan lampu.


Michi yang tampak menggigil kedinginan, dengan badan yang bersandarkan dinding. Membuat sang Mama panik bukan main.


"Michi! Kamu kenapa, Nak." Sambil memeriksa kening putrinya dengan punggung tangannya.


"Badanmu panas, Nak. Pa, bagaimana ini Pa? Ayo kita bawa ke Rumah Sakit sekarang Pa." Ajak Bu Ayu yang begitu menghawatirkan keadaan putrinya.


"Tidak perlu. Bawa saja ke kamarnya, Mama kompres dengan air hangat saja nanti juga akan sembuh." Jawab sang Papa yang tak mengizinkan istrinya membawa Michi ke Rumah Sakit.


Dikarenakan tidak ada pilihan yang lain, akhirnya Michi dibawa oleh sang Mama seorang diri menuju kamar tamu yang tak jauh dari tempat itu.

__ADS_1


"Ayo Nak, pelan-pelan Mama antar ke kamar. Michi bertahan yang Nak." Ucap sang Mama menyemangati putrinya yang sudah lemas tak berdaya.


Michi dibawa sang Mama dengan memapahnya untuk menuju ke kamar tamu. Dan sesampainya di kamar tamu, Michi dibaringkan diatas kasur, dan dibungkus dengan selimut yang tebal.


Tak ada satu orangpun asisten rumah tangga yang membantunya. Karena tanpa perintah Andika tidak satupun berani mendekat. Karena jika berani, maka konsekuensinya mereka akan dipecat.


Bu Ayu seorang diri merawat Michi yang sedang sakit. Michi dikompres dengan air hangat dan setelah beberapa saat akhirnya Michi mulai membaik.


Sedikit demi sedikit, Bu Ayu menyuapi Michi yang kini bersandar di dinding. Bu Ayu mulai merasa lega. Melihat putrinya yang kembali membaik.


"Syukurlah Nak, Mama lega melihatnya. Sekarang Michi istirahat dulu ya Nak. Tidak usah memikirkan hal lainnya. Fokus dengan dirimu sendiri dulu." Pesan Bu Ayu pada Michi.


"Iya Ma, makasih ya Ma?" ucap Michi.


"Sekarang Michi istirahat ya, Mama mau menemui Papamu dulu. Cepat sembuh ya Nak," sambil mengecup kening putrinya dan pergi meninggalkan sendiri dikamarnya.


Bu Ayu menutup pintu kamarnya, betapa terkejutnya saat melihat Andika sudah berada di sampingnya.


"Papa. Ada perlu apa Papa kesini. Biarkan Michi istirahat Pa. Kasihan Michi, badannya sangat panas, kemungkinan darinpagi belum makan. Mama mohon jangan ganggu Michi, Pa." Pinta sang Mama yang tak rela Michi disakiti oleh Papanya.


"Papa khawatir bukan karena sayang dengan Michi, tapi Papa khawatir jika terjadi sesuatu dengan Michi, rencana Papa akan berantakan kan Pa?" Ketusnya.


"Baguslah kalau Mama sudah tahu, jadi tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan kepada Mama." Dengan cueknya Andika pergi meninggalkan istrinya menuju kamar.


Melihat suaminya yang semakin menjadi, membuat Bu Ayu berfikir sejenak untuk mencari cara agar perjodohan itu batal.


"Haruskah aku berkata yang sebenarnya kepada orang yang ingin dijodohkan dengan Michi. Siapa Michi sebenarnya." Batin Bu Ayu sedikit ragu.


Tak lama dari itu Andika keluar dari kamarnya meminta istrinya untuk membuatkan kopi. Karena selain buatan istrinya, Andika tidak pernah minum kopi.


"Dari tadi Mama tidak beranjak dari sini, daripada melamun tidak jelas. Sekarang Mama buatin Papa kopi. Antar ke ruang kerja Papa. Hari ini mau lembur, besok mau temu klien sekalian membahas perjodohan Michi. Saya tunggu kopinya." Ucapnya sambil berjalan menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


Bukti baktinya kepada suami, Bu Ayu tetap menjalankan apa yang diperintahkan Andika. Karena tak ingin dianggap istri yang durhaka.


Dengan segera Bu Ayu pergi ke dapur untuk membuatkan kopi sang suami. Meski sebenarnya masih sangat benci mengingat apa yang terjadi dan dilakukan oleh suaminya.


Setelah beberapa menit, Bu Ayu yang sudah selesai membuat kopi, dengan segera mengantarkan kopinya menuju ruang kerja suaminya.


Tok Tok Tok


Bu Ayu mengetuk pintu ruang kerja suaminya. "Ya, masuk." Dari luar terdengar jawaban Pak Andika yang meminta Bu Ayu untuk masuk kedalam ruang kerjanya.


Perlahan Bu Ayu berjalan menuju meja yang sudah ditunggu oleh Pak Andika. Dari jauh Bu Ayu melihat suaminya yang terus memperhatikan dirinya saat kedatangannya. Namun Bu Ayu tetap acuh, dan hanya meletakkan secangkir kopi diatas meja sembari berkata, "Ini kopinya Pa." Tanpa melihat kearah suaminya.


Melihat sikap istrinya yang seolah merendahkan dirinya, membuat Andika menahan istrinya agar tidak keluar dari ruangannya.


"Tunggu! Apa seperti itu sikap seorang istri melayani suaminya. Apa kamu ingin seperti anakmu itu." Ucapnya dengan tatapan kasarnya.


Bu Ayu tak sepatah katapun keluar dari bibirnya untuk menjawab perkataan suaminya. Yang ternyata diamnya Bu Ayu semakin membuat suaminya marah. Beranggapan bahwa sang istri telah merendahkannya.


Pak Andika beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati istrinya yang saat ini berdiri di depan pintu.


Perasaan sang istri yang tak karuan, mengira suaminya akan berbuat kasar kepadanya. Namun ternyata diluar dugaan. Dengan lemah lembut, Andika meminta maaf kepada istrinya.


"Ma, maafin Papa hari ini ya. Papa melakukan perjodohan ini bukan untuk kepentingan pribadi semata. Tapi ini juga untuk masa depan anak kita." Jelasnya.


Sang istri tak menyangka jika suaminya akan secepat itu meminta maaf. Namun sang istri tak percaya begitu saja dengan suaminya. Jika suaminya meminta maaf terlebih dahulu, pasti karena ada maunya.


"Ma, maafin Papa ya. Papa tidak akan seperti itu lagi, tapi Mama harus setuju ya dengan perjodohan anak kita ini." Ucap Pak Andika dengan penuh harap.


"Sudah kuduga, pasti Papa ada maunya. Tidak akan kubiarkan perjodohan ini terjadi." Batin Bu Ayu.


"Maaf Pa, jujur Mama tidak setuju dengan rencana Papa untuk menjodohkan Michi dengan laki-laki lain yang belum tahu sama sekali latar belakangnya. Meskipun laki-laki itu teman Papa sendiri." Tanpa berkata lagi Bu Ayu bergegas pergi dari ruang kerja sang suami.

__ADS_1


Dengan sangat kecewa mendengar jawaban dari sang istri yang sama sekali tidak mendukung rencana perjodohan anaknya.


"Jika Mama tidak setuju, semua rencana perjodohan ini akan gagal." Batinnya sambil berfikir mencari cara agar perjodohan itu tetap berjalan sesuai rencana.


__ADS_2