Terlambat

Terlambat
Rasa Lelah


__ADS_3

Rasa lelah dan mengantuk membuat Adrian tertidur sangat lelap. Hingga ayam berkokok yang menandakan hari sudah pagi pun tak terdengar. Bahkan kumandang Adzan Subuh sama sekali tak terdengar olehnya.


"Astagfirullah, sudah jam berapa ini?" Adrian terbangun dari tidurnya, sambil mengusap matanya, dan masih dalam kondisi terduduk di atas tempat tidurnya. Dia melihat kearah jam dinding, yang sudah menunjukkan pukul 07.30 yang membuatnya kebingungan.


"Kenapa Ibu atau bapak tidak membangunkan ku, padahal pagi ini aku berencana akan joging kearah rumah Michi. Untuk memastikan Michi, apa benar yang di kabarkan oleh Siska semalam."


Adrian pun beranjak dari tempat tidurnya, dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tak butuh waktu lama, Adrian keluar dari kamar mandi sembari memperhatikan seisi rumahnya yang tampak sepi.


"Perasaan tidur masih sore, tapi kenapa bisa bangun kesiangan ya? Jadi gagal kan rencana Joging kerumah Michi. Oh iya, kan kemarin aku punya rencana mau mengembalikan uang yang diberi Pak Andika. Sebaiknya aku tanya Siska saja, barangkali Siska ada informasi lain tentang Michi. Secara dia 'kan sahabatan." Bermonolog dengan dirinya sendiri.


Adrian pun segera kembali kekamarnya untuk mengambil ponsel dan mencoba mengirim pesan kepada Siska.


"Pagi Siska, hari ini kita bisa ketemu jam berapa? Tolong sekalian sampaikan kepada Michi, hari ini kita ketemuan bertiga saja sekalian."


Satu pesan terkirim ke nomor ponsel Siska. Sambil menunggu balasan chat dari Siska, Adrian yang duduk seorang diri pun masih bertanya-tanya pada dirinya. Seakan tak percaya jika orang yang disayangi kini bersama orang lain.


Tak lama dari itu, ponsel Adrian kembali berbunyi. Sebuah notifikasi pesan dari aplikasi Wha*s*pp. Adrian pun membuka notifikasinya dan membaca pesan balasan dari Siska.


"Pagi juga Mas Adrian, sepertinya Michi belum mau menemui mu hari ini."


"Mungkin belum siap."


"Bagaimana? Apa kita jadi ketemuan hari ini. Jam satu siang Siska sudah pulang dari kampus."


Adrian sedikit kecewa karena Michi yang tidak mau bertemu dengannya. Akhirnya Adrian memutuskan untuk pergi sendiri kerumah Michi untuk mengembalikan uang kepada Pak Andika.


"Mungkin lain waktu saja kita bertemu, sekarang aku akan pergi kerumah Michi saja."

__ADS_1


Adrian membalas pesan dari Siska, Adrian pun bergegas pergi menuju rumah Pak Andika. Adrian mempersiapkan uang yang akan diserahkan kepada Pak Andika. Setelah semua siap, Adrian pun dengan mengendarai sepeda motornya pergi ke rumah Pak Andika.


Tak lupa semua Adrian mengunci pintu rumahnya, dengan tekad yang kuat. Dengan harapan setelah semua uang yang diberikan oleh Pak Andika itu dikembalikan, Adrian bisa bersama dengan Michi. Karena Adrian belum seratus persen percaya pada ucapan Siska.


"Bismillahirrahmanirrahim," Ucapnya lirih.


Adrian mulai menstarter sepeda motor dan perlahan melaju dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanannya Adrian terlihat begitu senang, "Michi, aku datang." Bisiknya dalam hati.


"Aku yakin, semua ucapan Siska itu hanyalah kebohongan. Tidak mungkin Michi melakukan itu. Aku tahu Michi wanita yang tak mudah menyerah." Gumamnya sambil terus melajukan sepeda motornya.


Tak lama dari itu Adrian pun sampailah di depan rumah Pak Andika. Melihat apa yang ada dihadapannya pun membuat dirinya diam mematung. Dekorasi rumah yang masih terlihat di beberapa bagian rumahnya.


"Apa aku tidak salah lihat! Benarkah Michi sudah menjadi milik laki-laki lain." ucapnya lirih.


"Tidak! Ini tidak mungkin!" Gumamnya dalam hati yang membuat tubuhnya seketika tak berdaya.


"Apa yang tidak mungkin. Putriku memang pantas untuk bersama dengan laki-laki yang lebih bermartabat, daripada dengan laki-laki rendahan sepertimu."


Yang tak lama dari itu datang sebuah mobil mewah berhenti tepat dibelakang Adrian. Adrian membalikkan badannya untuk melihat siapa yang datang. Terlihat seorang laki-laki seumuran dengannya yang turun lebih dulu dan berjalan ke pintu mobil sebelah kiri.


Adrian yang awalnya terlihat senang, namun pada akhirnya harus bersedih karena ternyata apa yang diucapkan Siska benar adanya.


Laki-laki itu membukakan pintu mobil itu, dan Adrian sangat terkejut saat mengetahui bahwa yang keluar dari mobil itu adalah Michi.


"Michi!" Ucapnya lirih.


"Kamu lihat sendiri 'kan? Apa putriku terlihat sedih, aku rasa tidak!" Ucap Pak Andika.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan menghampiri Adrian dan Pak Andika yang telah berdiri didepan pintu gerbang rumahnya.


Michi tak melihat Adrian sama sekali, entah karena malu atau bagaimana. Namun, disini Adrian merasakan jika Michi terpaksa untuk menyetujui pertunangan ini.


"Siang Pak, baru ada tamu ya Pak?" tanya Kemal sambil bersalaman dengan Pak Andika.


"Siang Kemal, cepat sekali kuliahnya. Jam segini sudah pulang."


"Iya Pak, kebetulan mata kuliah hanya ada satu hari ini."


Michi yang berdiri di samping Kemal pun tiba-tiba menangis berlari masuk ke dalam rumah. Kemal yang melihatnya pun kebingungan. "Apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa Michi tiba-tiba menangis." Pikirnya.


"Nak Kemal susul Michi dulu, nanti Papa ikut kesana. Papa mau ada urusan sebentar." Perintah Pak Andika.


"Oh iya, Pak. Mari Mas," Kemal menyapa Adrian yang belum tahu bahwa orang yang dihadapannya adalah orang yang sangat cinta dan sayang kepada Michi tunangannya.


Setelah melihat Kemal masuk kedalam rumah, Pak Andika pun segera mengusir Adrian yang masih berdiri dihadapannya.


"Kamu lihat 'kan? Kamu hanya akan membuat putriku menderita. Sekarang aku minta, kamu pergi dari hadapanku. Dan jangan pernah kamu ganggu lagi keluargaku." Perintah Pak Andika.


Tak ada pilihan lagi selain dia pergi dari hadapan Pak Andika. Meskipun sebenarnya Adrian tahu, Michi menangis karena mengingat akan janjinya yang akan setia menantikan. Namun bagi Adrian tak ada kata terlambat, sebelum janur kuning melengkung. Adrian masih ingin berusaha untuk mengejar cintanya.


Sebelum pergi, Adrian menyodorkan amplop coklat berisikan uang yang dulu pernah dipinjamkan kepadanya.


"Maaf Pak, kedatangan saya kesini hanya untuk memastikan kebenaran jika Michi sudah bertunangan. Selain itu saya kesini untuk mengembalikan uang yang dulu pernah Pak Andika berikan. Dengan harapan saya bisa bersama Michi. Namun kenyataan berbeda."


"Sudah berduit kamu, sampai sok-sokan mengembalikan uang itu. Meskipun kamu mengembalikan uang itu, jangan kamu harap, saya akan merestui hubungan kalian." Sahut Pak Andika.

__ADS_1


Amplop coklat itupun diambil oleh Pak Andika, dan meninggalkan Adrian berdiri didepan gerbang. Pak Andika masuk kedalam rumahnya sambil memberikan ancamannya lagi. "Jika masih berani mendekati putriku, jangankan perkebunan mu. Keluarga besar mu juga akan ku hancurkan."


Mendengar ancaman itupun Adrian terdiam sesaat dan berfikir sejenak, "Apa mungkin selama ini benar, Pak Andika yang sudah membuat tanaman bapak rusak!" Batinnya.


__ADS_2