Terlambat

Terlambat
Kemarahan Pak Andika


__ADS_3

Dalam kondisi hati yang sedang tidak baik, mimik wajahnya yang terlihat marah. Mengingat suaminya yang sudah berubah. Meskipun sejak awal Pak Handoko menyadari semua akan ketahuan, Pak Handoko belum berani untuk menjawabnya. Bahkan Bu Ayu berulangkali memanggil.


"Handoko!!" Teriak Bu Ayu memanggilnya karena tak kunjung menjawab.


Diteras rumahnya Handoko yang berdiri seorang diri disana hanya tertunduk diam tanpa sekalipun berani melihat ke arah Bu Ayu.


Melihat Handoko yang masih dalam posisi semula, hanya tertunduk diam membuat Bu Ayu semakin geram. Bahkan Handoko diancam akan dipecat jika sekali lagi ditanya tidak menjawabnya.


"Sekali lagi saya bertanya padamu Pak Handoko. Apa Pak Handoko tahu dimana Michi pergi? Tolong jawab, atau hari ini Pak Handoko terakhir bekerja disini." Ucapnya yang membuat Pak Handoko khawatir.


Akan tetapi mengingat pesan yang disampaikan oleh Andika. Yang ternyata Handoko sudah tahu jika kepergian Michi memang rencana Andika. Dan dengan santainya Handoko menjawab, "Maaf Nyonya, saya hanya boleh menuruti apa yang diperintahkan Tuan Andika."


"Apa kamu lupa, dulu yang hidupmu dijalanan saya berikan tempat tinggal. Tapi, ternyata ini adalah balasanmu padaku."


Bu Ayu bergegas masuk kedalam kamarnya untuk mengambil ponsel dan tas kecil miliknya. Tak lama dari itu, kembali keluar untuk pergi mencari Michi.


"Maaf nyonya, bukan maksud saya tidak tahu berterimakasih. Tapi, Tuan mengancamku jika tidak mengikuti semua perintah Tuan." Batin Handoko yang dihadapkan dengan pilihan yang sulit.


Akan tetapi, karena merasa kasihan dengan Ayu, Handoko akhirnya memberitahukan dimana Michi berada saat ini dengan mengirimkan pesan kepada Bu Ayu.


Dikarenakan semua aset sudah diambil alih oleh Andika, bahkan sekarang mobil pribadi miliknya pun ikut serta di ambil oleh sang suami. Bu Ayu pergi mencari Michi menggunakan taksi online yang di pesannya melalui aplikasi. Hanya ponsel dan kartu ATM pribadinya yang masih tersisa.


"Handoko mengirim pesan apa ini?" Ucap Ayu sambil melihat layar ponselnya yang ternyata pesan itu berisi tentang kemana perginya Michi.


"Untuk apa Michi pergi kerumah Adrian, apakah mereka akan melanjutkan hubungan mereka. Tapi bagaimana jika Michi tahu fakta yang sebenarnya. Apakah dia akan memaafkanku." Bu Ayu bermonolog dengan dirinya sendiri.


Tak lama dari itu taksi pesanan Bu Ayu sampai didepan rumah. Bu Ayu pun segera bergegas masuk kedalam taksi itu. Perlahan mobil berjalan menuju rumah Adrian.


Setelah beberapa saat kemudian, Pak Andika yang datang menghampiri Handoko. Menanyakan kepadanya kemana istrinya pergi. Handoko hanya menjawab, "Saya tidak tahu Tuan, nyonya tiba-tiba saja pergi dengan memesan taksi online."

__ADS_1


Tentu Andika tak percaya begitu saja dengan ucapan Handoko. Membuat Andika menjadi marah.


"Kamu jangan coba-coba berbohong dengan saya. Saya tahu betul sama siapa kamu. Sekarang juga beritahu saya, kemana istriku akan pergi!!" Sambil menarik kerah baju Handoko karena Andika yang semakin emosi.


"Saya benar tidak tahu Tuan," ucapnya tanpa perlawanan apapun.


Akhirnya Andika melepaskan kerah baju yang digenggamnya dengan sedikit mendorong mundur Handoko yang hampir terjatuh.


"Awas saja, kalau sampai kamu berbohong! Aku tidak akan segan-segan membuangmu jauh dari rumah ini." Ucap Andika sambil menunjuk ke arah wajah Andika.


Andika pun pergi masuk kedalam rumah, dan beberapa saat kemudian Andika kembali keluar dan meminta Handoko untuk membuka pintu gerbang.


Dengan cepat Handoko segera membuka pintu gerbang yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Andika pun mulai menyalakan mobilnya dan pergi dengan kecepatan tinggi.


"Semoga saja Tuan tidak pergi menyusul nyonya ke rumah Adrian. Kalau sampai mereka bertemu disana, bisa-bisa aku yang akan menanggung akibatnya." Ucapnya lirih.


Handoko kembali menutup pintu gerbang rumah dan pergi menemui kedua asisten rumah tangganya.


Kurang lebih pukul 08.30 pagi, sampailah Bu Ayu dikediaman Pak Suryo. Dan benar saja, dari kejauhan terlihat Michi yang sedang duduk bersama dengan Bu Murni. Meski begitu, rasa khawatir terus menghantui Bu Ayu, sebelum menemui mereka, Bu Ayu mencoba menenangkan diri.


Dirasa hatinya sudah cukup tenang, Bu Ayu pun menghampiri mereka berdua yang terlihat sangat asyik mengobrol.


"Assalamualaikum," Ucap Bu Ayu yang sudah tiba di depan rumah Bu Murni.


"Ma-mama!!"


"Kok, Mama bisa tahu kalau Michi ada disini. Mama tahu alamat rumah ini darimana?" tanya Michi tiba-tiba kepada Bu Ayu yang seketika membuatnya sedikit bingung untuk menjawabnya.


Dengan wajah yang tampak begitu panik, Bu Ayu mencoba untuk mencari alasan yang tepat. Agar Michi tidak curiga.

__ADS_1


"Tadi Pak Han yang kasih tahu Mama kalau Michi ada disini. Tadi Mama kesini juga tanya ke orang yang ada didepan sana." Jawab Bu Ayu, dengan harapan Michi tidak menaruh curiga padanya.


Sejenak Michi terdiam, memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh Mamanya. Karena setahu Michi, keluarganya tidak ada yang mengetahui alamat rumah Bu Murni. Bahkan orang tuanya hanya tahu nama Adrian.


"Mama tidak sedang berbohong kan, Ma?" Tanya Michi dengan tegasnya.


"Untuk apa Mama berbohong, Michi? Michi sendiri pagi-pagi seperti ini bertamu ada perlu apa kamu Nak!" Bu Ayu berbalik bertanya pada Michi.


Michi tidak menjawab pertanyaan Mamanya. Bahkan Michi hanya menunduk diam, dan melihat kearah Bu Murni.


Pada akhirnya Bu Murni menceritakan semua kepada Bu Ayu, maksud dari kedatangan Michi kerumahnya.


"Mohon maaf Bu sebelumnya, saya sekedar menceritakan apa adanya. Mungkin Michi takut atau malau untuk berkata kepada ibu. Michi kesini bermaksud untuk bertemu dengan anak saya Adrian. Tapi, anak saya sudah bekerja, dan Michi bilang jika dirinya tidak mau dijodohkan dengan orang pilihan Papanya. Michi meminta Adrian yang datang untuk melamarnya." Jelas Bu Murni kepada Bu Ayu.


"Apa! Papa menjodohkanmu. Bagaimana Mama bisa tidak tahu, kalau kamu dijodohkan, Nak?"


"Papa benar-benar keterlaluan," dengus Bu Ayu mendengar penjelasan putrinya.


Tak lama dari itu, terlihat sebuah mobil yang datang masuk ke halaman rumah Bu Murni. Mereka bertiga yang berada di teras rumah itupun memperhatikan mobil yang datang.


Setelah diperhatikan, Michi dan Bu Ayu barulah menyadari jika mobil itu ternyata Pak Andika. Michi segera bergeser di belakang Bu Ayu. Karena Michi yang tidak ingin perjodohan itu terjadi.


Tanpa mengucap salam, setelah keluar dari mobilnya, dengan lantangnya Pak Andika memanggil Bu Ayu dan Michi. Ini baru pertama kalinya mereka melihat kemarahan Pak Andika.


"Mama! Michi! Sudah kuduga, pasti kalian pergi kesini. Maksud kalian itu apa!! Kalian ingin menjadi istri dan anak durhaka!" Ucap Andika sambil berjalan di tempat mereka berdiri.


"Maaf Pak, mohon tahan emosi bapak. Tidak enak jika didengar tetangga Pak. Jika ada masalah mohon diselesaikan dengan kepala dingin." Ucap Bu Murni mencoba menenangkan keadaan.


"Anda siapa? Berani sekali mengatur saya." Sambil terus menarik tangan Bu Ayu dan Michi untuk di bawa pulang.

__ADS_1


Bu Murni hanya terdiam, tidak lagi berani untuk mendekati. Namun tak lama dari itu Pak Suryo dan Pak Darman datang menghampiri mereka karena mendengar keributan di depan rumahnya.


__ADS_2