
Waktu yang semakin siang, untuk pertama kali kerja. Adrian untuk sementara waktu akan dibimbing oleh tenaga ahli yang dimiliki perusahaan Pak Sholeh.
Dengan menggunakan mobil pickup yang memang dikhususkan untuk pergi ke kebun sayur, mereka bertiga pun segera berangkat menuju lokasi yang memang jaraknya memakan waktu kurang lebih 15 menit dari tempat tinggalnya.
Dalam perjalanan mereka bertiga duduk di depan. Dengan Pak Sholeh sebagai pengemudi, Siska duduk ditengah, sedangkan Adrian berada di sebelah kiri Siska. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir keduanya.
"Ehem!! Kalian berdua kenapa? Dari tadi Ayah perhatiin kok diem-diem aja. Apa kalian sedang berantem." Tanya Pak Sholeh sembari tersenyum melihat mereka berdua.
"Kalian itu sama persis dengan apa yang dulu pernah ayah alami. Seumuran kalian Ayah juga sangat pemalu. Sama seperti Mas Adrian. Sangat takut untuk dekat dengan wanita yang baru saja dikenal." Tambahnya.
"Memangnya Ayah dulu pemalu juga, tapi Siska lihat Ayah tidak seperti itu." Sahutnya terkekeh meledek sang Ayah.
Sang Ayah hanya tersenyum saat putrinya berkata seperti itu. Ternyata Siska tak jauh beda dengan bundanya. Yang terus bertanya apa saja yang sekiranya tidak dia tahu di perjalanan menuju kebun.
Mereka bertiga semakin akrab, canda tawa mereka bertiga pecah ketika ketika sang Ayah bercerita tentang masa lalunya saat ingin mengejar cinta sejatinya yang kini menjadi milik orang lain.
Tak lama dari itu, dari kejauhan sudah tampak sebuah lahan yang sangat luas. Mereka pun menghela nafas, karena akhirnya mereka sampai juga di lokasi.
Sudah terlihat banyak pekerja yang sedang melakukan tugasnya masing-masing. Lahan yang begitu sangat luas, sehingga Pak Sholeh dapat memberi kesempatan kepada warga sekitar untuk bekerja dengannya.
Dengan luas lahan lebih dari satu hektar, dan hasil panennya cukup untuk semua biaya operasional, mulai dari pengolahan tanah, pemupukan sampai tahap pemanenan.
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya sampailah mereka di lokasi, tempat untuk Adrian bekerja dihari pertama. Mereka turun dari pickup dan taknlupa Pak Sholeh selalu ramah menyapa semua karyawannya untuk terus berinteraksi dengannya.
Pak Sholeh berjalan lebih dulu untuk meminta salah satu karyawan yang ditunjuk untuk menjadi pimpinan dikebun sayur miliknya. Dan nama orang itu adalah Dicky Afandi yang lebih sering dipanggil Mas Dicky, masih berusia 30 tahun.
__ADS_1
Akan tetapi kemampuan yang dimiliki sangat luar biasa, jauh berbeda dengan laki-laki seumurannya. Dengan sangat ramah Dicky menyambut kedatangan mereka semua.
"Selamat pagi Pak Sholeh," Dicky menyapa Pak Sholeh sambil berjalan menuju kearahnya untuk bersalaman.
"Pagi juga Mas Dicky, bagaimana keadaannya, sehat semua 'kan? Owh ya, perkenalkan ini Siska anak saya, dan ini Adrian akan bekerja sambil belajar berkebun disini. Saya minta tolong Mas Dicky untuk membimbingnya ya?" Pinta Pak Sholeh.
"Alhamdulillah, sehat Pak. Hasil panen sayuran bulan ini sepertinya juga meningkat, lebih baik dari bulan kemarin." Jawab Dicky sambil memperhatikan Siska yang berdiri disamping Pak Sholeh.
"Alhamdulillah, semoga semua petani disini bisa sejahtera ya Mas Dicky." Ucapnya sambil menepuk pelan bahunya.
Pak Sholeh ternyata memperhatikan Dicky, dari sorot matanya terlihat Dicky yang mengagumi Siska.
Pak Sholeh melanjutkan untuk berjalan menuju sebuah gubuk yang terbuat dari bambu yang ditata sedemikian rupa. Gubuk yang biasa digunakan para petani untuk beristirahat.
Dengan ucapan yang sopan, Pak Sholeh meminta Dicky untuk memanggil semua karyawannya untuk berkumpul. "Mas Dicky, minta tolong mereka semua dipanggil kesini ya? Kita akan mengobrol sebentar."
Semua berdiri didepan gubuk, tak memandang cuaca yang sudah cukup terik. Pak Sholeh melakukan itu semua, karena dikebun itu Pak Sholeh tidak membedakan kasta antara Bos ataupun karyawan.
Sifat rendah hati itulah yang membuat semua karyawan disana meras betah untuk terus bekerja ditempat Pak Sholeh. Setelah melihat semua sudah berkumpul. Pak Sholeh memberikan sedikit informasi mengenai kedatangannya di Boyolali.
"Bapak Ibu sekalian, sebelum saya menjelaskan maksud kedatangan saya. Saya ucapkan banyak terimakasih atas kesetiaan, loyalitas, dan semua kinerja semua yang ada disini. Dengan kerja keras bapak ibu semuanya, kebun kita ini mampu berkembang dengan cepat."
"Banyak investor yang ingin bekerja sama dengan kebun kita. Semoga kedepannya nanti kita lebih berkembang lagi." Ujar Pak Sholeh.
Semua orang bersorak gembira, mendengar kebun sayur tempat mereka bekerja sudah dilirik oleh investor. Dengan keadaan alam yang sangat cocok untuk bertani, terutama tanaman sayuran.
__ADS_1
"Dan untuk selanjutnya, saya perkenalkan sebelah kiri saya adalah Siska putri saya saat ini sedang menempuh pendidikan S1 Bisnis Management. Mohon do'anya agar dalam waktu dekat ini bisa segera lulus. Dan sebelah kanan saya ini adalah Adrian. Saya mohon bantuannya untuk membantu Adrian belajar bertani sayur dengan baik." Terangnya.
Semua orang disana mengangguk sebagai jawaban jika mereka memang setuju untuk membantu Adrian.
"Sebelum bapak ibu semuanya kembali ke pekerjaan masing-masing, saya berpesan untuk semuanya. Disini kita maju bersama, jangan sampai ada kecemburuan diantara kalian. Jika ada masalah apapun itu, segera lapor ke Mas Dicky atau lagsung dengan saya juga boleh."
"Ada satu hal lagi, hari ini bapak ibu semuanya mendapatkan bonus dari hasil panen bulan lalu. Nanti bisa diambil dikantor ya? Sekarang silahkan semuanya untuk kembali ke pekerjaan masing-masing." Ucap Pak Sholeh.
Semua karyawan terlihat sangat senang karena mereka akan mendapatkan bonus dari Pak Sholeh.
Tak hanya para karyawan yang merasakan bahagia, Pak Sholeh pun demikian, dengan melihat kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah karyawannya membuat Pak Sholeh semakin yakin usahanya akan berkembang.
Semua karyawan telah kembali dengan tugas masing-masing. Ada yang sedang mengolah tanah,menyiangi rumput liar yang ada disekitar sayuran. Terdapat beberapa jenis sayuran yang menjadi tanaman pokok dikebun milik Pak Sholeh. Dan semua hasil kebunnya sudah dipastikan laju terjual, karena sudah bekerja sama dengan beberapa supermarket modern tradisional.
Pak Sholeh dan Siska pergi untuk beristirahat ditempat yang tak jauh dari gubuk. Tempat yang digunakan sebagai kantor. Sedangkan Adrian pergi bersama Dicky untuk perkenalan proses dalam penanaman sayuran.
Namun tampaknya Dicky tak begitu suka dengan Adrian, yang lebih dekat dengan Siska. Dicky yang memang belum berkeluarga, merasakan yang bisa dikatakan cinta pada pandangan pertama pada Siska.
Dikantor sang Ayah duduk bersama Siska, mereka berdua duduk di kursi yang dekat dengan jendela. Agar lebih leluasa untuk melihat ke arah luar.
"Siska sayang, kalau Ayah lihat sekilas. Sepertinya Dicky itu tertarik padamu. Ayah perhatikan dari tadi, sesekali dia melihatmu." Ucap sang Ayah sambil memperhatikan ke arah Adrian bersama dengan Dicky.
"Ayah apaan sih? Selalu saja bahas itu lagi, kemarin mas Adrian, sekarang Mas Dicky, besok siapa lagi ayah...." Dengusnya kesal.
Namun dalam hatinya berkata, "Jika dilihat memang mereka berdua pekerja keras, tapi jika harus memilih, aku lebih memilih Adrian. Tapi, sayangnya dia pacar sahabatku." Sambil kembali melihat kearah Adrian.
__ADS_1
"Apa aku harus telepon Michi ya? Kenapa hati Siska sekarang jadi bimbang ya. " Ucapnya sambil mengambil ponsel yang ada di ranselnya.