Terlambat

Terlambat
Terlelap dalam tidur


__ADS_3

Setibanya Adrian dirumah, mengucap salam sembari membuka pintu rumahnya. Kedapatan sang bapak yang duduk di depan TV menunggu kepulangan putranya.


"Bapak belum tidur," tanya Adrian yang berjalan menghampiri untuk mencium punggung tangannya dengan hormat.


" Bagaimana bisa tidur Nak, sedangkan ibumu masih terus menangis menunggu kepulanganmu." Ucap Sang Bapak.


Adrian menolehkan pandangannya ke arah kamar sang ibu. Perlahan dibukanya pintu kamar sang ibu. Dan terlihat sang ibu yang masih duduk diatas kasur dengan memandangi sebuah pigura yang berada ditangannya.


Merasa kasihan kepada sang ibu, dengan diikuti oleh sang bapak, Adrian pun mengetuk pintu dan masuk berlari kecil menuju sang ibu.


"Ibu, maafin Adrian," sambil berlutut merangkul kaki sang ibu.


"Adrian janji tidak akan membuat ibu sedih seperti ini lagi. Tidak perduli, meski ibu bukanlah ibu kandungku. Tapi, ibu lebih baik daripada ibuku sendiri yang sudah tega membuang darah dagingnya sendiri."


"Maafin Adrian Bu." Dengan mata berurai air mata.


Sang ibu beranjak dari tempat duduknya untuk berdiri sembari meminta Adrian untuk bangun dari posisinya yang saat ini berlutut. Bu Murni memegang kedua pundaknya perlahan mengangkatnya.


"Bangunlah anakku, ibu yang harusnya minta maaf padamu. Tapi, Ibu melakukan ini, karena ibu tak ingin belajarmu terganggu dengan masalah ini. Ibu bermaksud untuk memberitahukan kepadamu setelah dewasa ini. Tapi, ibu takut kamu pergi meninggalkan ibu." Terang sang ibu.


Adrian yang telah berdiri pun menenangkan ibunya, dalam pelukan sang ibu Adrian berkata, "Ibu, sampai kapanpun Bu Murni tetaplah ibuku. Meskipun suatu saat Adrian bertemu dengan ibu yang melahirkan ku."


"Iya Nak, tapi ibu harap kamu jangan membenci ibumu ya Nak. Jika kelak kamu bertemu dengan ibu kandungmu. Walau bagaimanapun juga, dialah yang melahirkan mu, mungkin ada alasan tersendiri mengapa ibumu tega melakukan itu semua. Kamu harus janji pada ibu." Ucap Bu Murni pada Adrian.


"Iya Bu, saya akan berusaha untuk menjadi seperti apa yang ibu harapkan." Balas Adrian.


Mereka pun saling menyapu air mata yang sedari tadi telah membasahi pipinya. Pak Suryo yang melihatnya pun turut bahagia. Akhirnya Adrian mampu menerima keadaan yang mungkin tidak akan terlupakan seumur hidupnya.

__ADS_1


"Sekarang berhubung semua sudah kembali seperti sediakala, sudah saatnya kita untuk mengisi perut kita. Kasihan cacing yang ada diperut kita sudah bernyanyi." Canda Pak Suryo yang membuat gelak tawanya memenuhi ruangan itu.


"Bapak bisa aja, yasudah sekarang kita makan dulu ya. Jangan sampai sakit, kita harus menyayangi badan ini agar tetap sehat." Sambung Bu Murni.


Mereka bertiga pun berjalan menuju meja makan, karena kebetulan setiap sore Bu Murni selalu siap dengan masakan yang disajikan di atas meja. Disamping meja yang berbentuk kotak itu terdapat empat kursi. Adrian berada diantara keduanya, Pak Suryo duduk disebelah kanannya, sedangkan sebelah kiri ada Bu murni yang duduk disana.


Pak Suryo begitu semangatnya ketika melihat hidangan yang ada diatas meja, makanan kesukaannya semua tersedia disana, ada nasi lengkap dengan lauk seperti ada lele goreng, tempe goreng, sambel matah, lalapan dan sayur lodeh terong.


Bagi mereka semua hidangan itu sudah sangatlah mewah. Mereka hidup dalam kesederhanaan dan keharmonisan. Pak Suryo lebih dulu mengambil nasi lengkap dengan lauk pauknya. Kedua orang tuanya dengan lahap menyantap makanan yang tersedia.


Melihat kondisi itu, membuat Adrian terdiam sejenak karena terbayangkan jika orang yang ada didepannya itu adalah orang tua kandungnya.


Pak Suryo yang melihatnya pun segera terhenti untuk menyantap makanan yang sudah diambilnya. Dan melihat kearah Adrian yang tampak sedih.


"Adrian, bapak tahu apa yang saat ini kamu pikirkan. Pasti kamu sedang memikirkan, seandainya orang yang duduk di hadapanmu saat ini adalah kedua orang tuamu 'kan?" Ucap Pak Suryo.


"Semoga suatu saat nanti kamu bertemu dengan mereka, sekarang kamu makan ya? Jangan sampai kamu sakit, Ibu yakin suatu saat nanti kamu akan bertemu dan bisa bersama dengan mereka." Imbuh Bu Murni yang memberi semangat kepada Adrian.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya mereka pun selesai untuk makan malam. Tak lupa Adrian membantu membereskan meja makan.


Adrian dan Bu Murni yang sibuk untuk membereskan meja makan, Pak Suryo duduk santai sambil menikmati acara TV diruang keluarga.


Tak lama dari itu, Adrian yang sudah selesai membantu ibunya membereskan meja makan, segera menemui Pak Suryo.


"Pak, bapak kok belum istirahat, apa tidak capek setelah seharian penuh bekerja dikebun," tanya Adrian yang duduk didekat sang Bapak.


"Bapak kan baru saja selesai makan malam, lagipula tadi pekerjaan dikebun tidak terlalu banyak. Oh ya, kalau boleh tahu, bagaimana kamu dengan Nak Siska sejauh ini."

__ADS_1


"Bagaimana apanya yang bapak maksud. Yang Adrian tahu, Siska itu sahabat dari orang yang selama ini Adrian sayangi Pak. Jadi kalau bapak bertanya tentang perasaan itu, Adrian masih belum bisa memastikan." Ujar Adrian sambil melihat layar TV.


"Tapi, kalau bapak lihat, Nak Siska itu anaknya baik lho. Sepertinya, ayahnya juga sudah sangat cocok denganmu. Coba kamu pikir-pikir lagi. Tapi sekali lagi bapak tekankan, ikuti kata hatimu. Jangan sampai salah memilih langkah. Ya sudah, bapak mau istirahat dulu. Kamu juga, jangan terlalu sering bergadang." Pesan Pak Suryo yang segera beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamarnya.


Adrian melihat sang bapak yang berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat. Adrian pun bergegas pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


Saat berada di kamar, sambil melihat langit-langit kamar, Adrian memikirkan apa yang diucapkan oleh Pak Suryo. Tak lama dari itu, tiba-tiba ponsel yang berada di diatas meja yang berada disamping tempat tidurnya berbunyi. Awalnya hanya diabaikan saja oleh Adrian.


Namun karena terus berbunyi, akhirnya Adrian pun meraih ponselnya. Saat melihatnya ternyata ada beberapa pesan masuk dari Siska.


"Siska! Ada apa jam segini mengirim pesan. Tidak biasanya malam-malam mengirim pesan. Bahkan ini ada banyak sekali pesan yang dikirimkan. Dasar wanita aneh," Gumamnya sembari membuka pesannya satu persatu.


Adrian sangat terkejut setelah membuka semua pesan yang dikirim oleh Siska. Dan saat itu juga Adrian segera menelepon Siska.


Tak butuh lama Adrian menekan tombol telepon yang berada di sudut kanan atas dari ponsel Adrian.


Setelah beberapa saat menunggu dengan penuh rasa penasaran, akhirnya dari seberang sana Siska menjawab telepon dari Adrian.


"[Halo, malam Adrian.]"


"[Iya, halo Sis. Maaf malam-malam begini Aku ganggu istirahatnya. Aku cuma mau mastiin aja kebenaran dari pesan yang kamu kirim segitu banyaknya.]"


"[Siska juga kaget Mas, tadi sore tiba-tiba Michi kirim pesan ke Siska seperti itu. Tapi jujur, Siska masih belum percaya sih Mas. Karena belum mendengar penjelasan langsung dari Michi.]"


Adrian sejenak terdiam, memikirkan semua pesan yang dikirim oleh Siska. Sampai tak menyadari kalau dirinya masih teleponan bersama Siska. Terdengar suara orang yang memanggilnya yang membuatnya kembali tersadar.


"[Halo, Sis. Maaf ya Sis, Aku sampai ngelamun kepikiran sama pesan yang kamu kirim tadi. Bagaimana kalau kita lanjut besok, kita ketemuan saja. Ini sudah malam.]"

__ADS_1


"[Boleh Mas, besok Siska kabari ya Mas. Assalamualaikum.]"


Siska mengakhiri perbincangan mereka dan menutup teleponnya. Dan Adrian pun kembali ke dalam lamunannya hingga terlelap dalam tidurnya.


__ADS_2