Terlambat

Terlambat
Belajar bertani


__ADS_3

Siang itu sudah menunjukkan pukul 12.00 dimana banyak orang-orang yang mayoritas penduduknya seorang petani sayur. Terlihat sedang beristirahat, disana terlihat Pak Suryo bersama dengan Pak Sholeh.


"Lho itu 'kan Pak Sholeh, sejak kapan Pak Sholeh ada disini."


"Ayah dari tadi pagi sudah disini, karena kemarin Pak Suryo menginformasikan jika semua bibit pemberiannya banyak yang rusak. Oleh sebab itu Ayah ingin langsung melihat tanamannya seperti apa." Sahut Siska.


"Kita kesana yuk! Sepertinya ibu juga sudah datang mengantar makan siang." Ajak Adrian.


Mereka berdua berjalan beriringan, jarak perbukitan dengan kebun miliknya tidaklah terlalu jauh. Kurang dari lima menit mereka sampai ditempat Pak Suryo dan yang lainnya beristirahat.


"Assalamualaikum," ucap salam Adrian sambil bersalaman dengan semua yang ada disana.


"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka, yang seketika tercengang melihat Adrian yang datang bersama dengan Siska.


"Kalian kok bisa datang barengan," tanya Pak Suryo sambil melirik ke arah Bu Murni.


"Iya, Siska tadi bilangnya mau kerumah temen. Memangnya kamu gak jadi kesana, Nak?" tanya Pak Sholeh pada Siska.


"Enggak Yah, besok lain kali aja. Kebetulan dijalan tadi bertemu Mas Adrian, jadi Siska ikut kesini aja sekalian. Sekalian mau belajar bertani. Boleh kan, yah?" tanya Siska.


Mendengarkan pernyataan Siska, seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Sampai-sampai Pak Sholeh mengulangi pernyataan Siska.


"Apa ayah tidak salah dengar, Siska mau belajar bertani? Gak takut kusam, nanti sayang perawatannya, gak takut kulitnya hitam." Ledek sang Ayah yang membuat Siska tampak malu.


"Ayah kok gitu, kan malu yah?" Sahut Siska. Ditambah dengan Adrian yang menertawakan dirinya. Siska semakin memerah pipinya.


"Ngomong-ngomong ada apa nih? Kok tiba-tiba mau belajar bertani. Atau jangan-jangan ada udang dibalik bakwan ya? Hahaha." Pak Sholeh kembali menggoda putrinya.


Siska yang terus digoda sang ayah terlihat matanya mulai berkaca-kaca ingin menangis. Bahkan Siska sempat ngambeg didepan sang ayah dan keluarga Pak Suryo.


Bu Murni pun mendekati Siska, "Kalau Nak Siska mau sekalian belajar disini itu gak apa-apa. Jadi Adrian ada temennya."


Dengan malu-malu Siska menjawabnya, "Kalau diizinkan Siska mau kok Bu. Boleh ya Yah." Sambil melihat kearah sang Ayah yang sedang asyik mengobrol dengan apak Suryo dan Pak Darman.

__ADS_1


"Iya, boleh tapi jangan sampai kuliahnya terganggu lho. Oh ya, kenapa Nak Adrian tidak mencoba kuliah. Siapa tahu dengan kuliah, Mas Adrian bisa cepat mengembangkan usaha keluarga, ya paling tidak menambah wawasan dan relasi yang luas." Ucap Pak Sholeh.


Adrian hanya tersenyum saat Pak Sholeh yang memintanya untuk melanjutkan untuk kuliah.


"Kalau Nak Adrian mau, biar saya yang tanggung semua biaya kuliahmu. Sayang lho, potensi Nak Adrian itu sebenarnya ada."


"Tapi biaya pendaftaran untuk kuliah itu lumayan mahal Pak, saya tidak mau merepotkan Pak Sholeh lagi. Uang yang kemarin saya pinjam saja belum bisa mengembalikan Pak." Sambung Adrian.


Pak Suryo dan Bu Murni yang mendengarnya pun sangat terkejut. Karena Adrian tidak mengatakan apapun kepada kedua orang tuanya itu. Apalagi setelah tahu jika dirinya bukanlah anak kandung mereka.


"Ah, itu urusan nanti, gampang Nak Adrian. Yang penting sekarang Nak Adrian mau atau tidak untuk melanjutkan kuliah." Tanya Pak Sholeh sambil tersenyum kecil pada Adrian.


Adrian yang tak terburu-buru untuk menjawabnya pun meminta waktu untuk memikirkannya kembali.


"Mungkin untuk saat ini Adrian belum bisa menjawabnya Pak. Mungkin akan Adrian pikirkan dulu. Apabila Adrian berminat, nanti Adrian akan menemui Pak Sholeh." Ucapnya.


"Okelah kalau begitu, saya tunggu ya Nak Adrian. Tapi kalau bisa jangan lama-lama untuk berpikirnya. Lebih cepat lebih baik." Pinta Pak Sholeh.


"Insyaallah, semoga ya Pak."


"Untuk masalah itu nanti kita bahas lagi, sekarang waktunya kita makan siang. Tapi Maaf Pak Sholeh, Nak Siska, makanan yang dimasak ala kadarnya. Saya tidak tahu kalau Pak Sholeh mau datang hari ini." Ucap Pak Suryo.


"Ya kan kalau di kebun gini, makan apa aja tetap nikmat Pak rasanya." Sambung Pak Sholeh.


Mereka pun akhirnya duduk bersama di gubuk yang memang tidak terlalu besar. Tapi cukup untuk tempat mereka berteduh. Meski hanya dengan Nasi, sayur lodeh kacang panjang, sambel terasi dan ikan asin. Pak Sholeh memuji masakan Bu Murni yang mantap sekali rasanya.


"Wah, Bu Murni ternyata jago masak ya. Bumbu yang digunakan benar-benar terasa di lidah." Pujinya.


"Iya lho Bu. Ini enak banget, besok kapan-kapan boleh dong, Siska belajar masak bareng ibu. Ya, biar calon suami tidak kecewa kalau nikah sama Siska," Pinta Siska sambil melirik ke arah Adrian.


"Iya, boleh... kapan aja mau main kerumah main aja, ibu dirumah kalau siang sampai sore." Jawab Bu Murni.


Mereka semua dengan sangat lahap, menikmati hidangan yang dibawa oleh Bu Murni. Sambil melihat pemandangan alam sekitarnya.

__ADS_1


Siska sampai menggelengkan kepalanya saat melihat Ayahnya makan dengan begitu lahap. Sampai-sampai nambah lagi.


"Ada apa Nak, Ayah perhatiin dari tadi kamu lihatin Ayah terus. Ada yang salah dari Ayah?" tanya Pak Sholeh pada putrinya yang dengan sangat serius memperhatikan dirinya.


"Gak ada yang salah Yah, tapi Ayah makannya banyak banget. Sampai nambah gitu. Kan gak enak sama Bu Murni."


"Gak apa-apa Nak Siska, ibu seneng kalau mau makan. Daripada disuruh makan tidak mau, ibu lebih susah nanti. Hehehe."


Mereka disana terlihat sangat begitu akrab, bahkan Adrian merasa iri, karena Siska yang bisa dengan begitu mudah dekat dengan orang tuanya.


Sempat berfikir sejenak, dalam hatinya berkata, "Apa mungkin aku harus belajar membuka hati untuk Siska ya? Tapi, apakah dengan aku membuka hati untuk Siska, aku akan mampir melupakan Michi."


"Adrian, kamu mikirin apa, dari tadi ibu lihat bengong terus. Nasinya itu dimakan, jangan cuma didiemin aja." Ucap Bu Murni.


"Iya Bu, maaf." Jawab Adrian dan kembali melanjutkan makan.


Sembari menunggu Adrian yang belum selesai makan, Pak Suryo dan Pak Sholeh terlihat sedang asyik mengobrol bersama. Entah apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan. Namun sepertinya sangat serius. Adrian mempercepat makannya.


"Makannya kok buru-buru gitu sih Mas, Ma Adrian mau kemana?" Tanya Siska.


"Gak kemana-mana kok, Mas cuma gak enak aja makan sendirian sedang yang lain sudah selesai." Jawabnya singkat.


Pada kenyataannya Adrian makan dengan cepat hanya agar bisa ikut ngobrol bersama dengan Pak Suryo dan yang lainnya.


Tak lama dari itu akhirnya Adrian pun selesai makan. Adrian dibantu oleh Siska merapikan tempat makan yang digunakan untuk membawa makanan.


"Adrian, kalau kamu sudah selesai makan. Kamu antar ibumu pulang, bapak masih ada beberapa urusan dengan Pak Sholeh. Nak Siska kalau mau ikut kerumah sekalian juga tidak apa-apa." Ucap Pak Suryo.


"Biar Siska saja Pak yang antar ibu, siapa tahu Mas Adrian mau bantu-bantu bapak di kebun." Sahut Siska dengan cepat. Pastinya ini adalah kesempatan yang baik untuk mengenal Bu Murni lebih dekat.


"Nanti ngerepotin Nak Siska, biar Adrian aja yang anterin Nak," Ucap Pak Suryo lagi.


"Udah Pak, gak apa-apa. Biar Siska bisa lebih dekat dengan Bu Murni. Kan sebentar lagi kita besanan." Sambung Pak Sholeh.

__ADS_1


Siska dan Adrian pun tercengang mendengarnya. Begitu yakinnya Pak Sholeh dengan hubungan mereka berdua. Akhirnya Siska yang mengantarkan Bu Murni pulang ke rumah.


__ADS_2