Terlambat

Terlambat
Mie Ayam Ceker untuk Mas Adrian


__ADS_3

Jarak kebun menuju rumah Pak Suryo memanglah tidak begitu jauh. Siska menemani Bu Murni untuk pulang, sembari membantu beberapa barang bawaan yang dibawa dari rumah.


Didalam perjalanan menuju rumah, mereka terlihat begitu sangat akrab. Mereka berdua mengobrol dengan asyiknya. Sampai tak terasa sampailah mereka didepan rumah.


Rumah sederhana yang memang jauh berbeda dengan rumah milik Siska. Bua Murni mengambil kunci rumah yang disimpan didalam dompet kecil yang berada didalam dompet kecilnya.


Tak lama dari itu, pintu pun dibukanya dan Siska pun diajak untuk masuk kedalam. "Ayo Nak Siska, kita masuk." Ajak Bu Murni.


"Assalamualaikum," ucap Bu Murni lirih ketika memasuki rumahnya diiringi dengan langkah kakinya.Diikuti oleh Siska yang berjalan mengekor dibelakang Bu Murni.


"Assalamualaikum," ucap Siska lirih menirukan apa yang diucapkan oleh Bu Murni.


"Maaf ya Nak Siska, rumah ibu berantakan. Maklum jarang ada dirumah. Silahkan duduk Nak Siska." Sambil menunjuk ke arah kursi yang ada diruang tamu.


"Ya ampun, rumah sudah rapi seperti ini masih dibilang berantakan. Bisa aja Bu Murni ini merendah. Bahkan jauh lebih rapi dari penataan ruang dirumah." Bisik Siska sambil melihat seisi ruangan tersebut.


Siska duduk dikursi, sambil memperhatikan seisi ruangan itu, tak lama dari itu Bu Murni datang menghampiri Siska sembari membawa minuman dua cangkir teh.


"Ini Nak Siska, ibu buatkan teh. Tapi maaf adanya hanya teh. Silahkan diminum Nak Siska."


"Iya Bu, jadi ngerepotin ibu kan?" ucap Siska.


Sembari minum teh, mereka lanjut untuk kembali mengobrol. Sekarang Bu Murni yang sepertinya ingin mencari tahu tentang hubungannya dengan Adrian.


"Oh ya Nak Siska, apa ibu boleh tanya sesuatu."


"Soal apa ya Bu, sekiranya Siska bisa menjawab, saya usahakan akan menjawabnya. Tapi, ini soal apa ya Bu?" tanya Siska pada Bu Murni.


"Sebenarnya bagaimana hubungan Nak Siska dan Adrian sejauh ini. Apakah sudah ada kesepakatan dengan kalian. Karena, akhir-akhir ini saya lihat Adrian lebih sering mengurung diri. Tak mau sedikitpun bercerita kepada ibu."


Sebenarnya Siska sendiri bingung dengan keadaannya. Karena Adrian sendiri tidak pernah menyatakan apa-apa kepadanya tentang perasaannya.

__ADS_1


"Untuk soal itu, Siska juga masih belum tahu pasti Bu. Karena Siska lihat, Mas Adrian masih belum bisa melupakan Michi, meskipun saat ini Michi sudah bertunangan dengan laki-laki pilihan orang tuanya."


"Jadi, Michi sudah bertunangan!" Bu Murni yang terkejut mendengarnya. Tak tahu bagaimana rasanya menjadi Adrian.


"Ibu harap, Nak Siska mau sedikit bersabar ya? Semoga saja Adrian segera melupakan wanita itu. Dan bisa membuka hatinya untuk Nak Siska. Tapi, kalau boleh tahu, apakah Nak Siska sudah ada rasa untuk putra ibu."


Siska tersenyum kecil ketika Bu Siska berkata seperti itu. Karena akhir-akhir ini Siska sudah sedikit menunjukkan kepedulian terhadap Adrian.


"Sebenarnya, kalau boleh jujur Siska sudah mulai yakin dengan pilihan hati ini. Hati ini juga sudah mulai merasakan cinta dan sayang dengan Mas Adrian Bu, tapi semua kembali pada Mas Adrian. Ayah juga sudah memberikan kebebasan pada Siska, jika memang Mas Adrian tidak bisa membalas perasaan Siska." Dengan raut wajah yang sedikit sedih Siska tertunduk.


Bu Murni perlahan mendekati Siska dan memeluknya dengan penuh kasih sayang seraya berkata, "Siska yang sabar ya, ibu sangat yakin sebenarnya Adrian itu sayang padamu."


Setelah beberapa saat, mereka pun saling melepaskan pelukannya. Bu Murni melihat Siska yang menyeka air matanya yang hampir jatuh membasahi pipinya.


"Mengapa kamu menangis Nak?" tanya Bu Murni.


"Tidak apa-apa kok Bu, Siska hanya terharu saja. Melihat ibu begitu hangatnya memeluk Siska. Siska meras seperti sedang duduk bersama bunda." Jawabnya.


"Iya Bu, terimakasih ya Bu." Ucap Siska.


"Oh ya Bu, kalau boleh tahu Mas Adrian itu makanan kesukaannya apa sih Bu? Saya mau belajar memasak nih sama ibu."


"Em, Adrian itu hampir semua makanan suka, yang penting halal. Tapi ada sih yang paling disukai. Adrian paling suka itu makan Mie Ayam Ceker, sayurnya yang banyak. Nah, itu yang paling di sukai. Kalau camilan sukanya semacam keripik." Jelas Bu Murni.


"Wah, kok bisa samaan sih Bu. Siska juga paling suka Mie Ayam Ceker, saus yang banyak. Ditambah dengan lalapan pangsitnya." Sahut Siska.


Mereka berdua baru beberapa menit bersama, sudah terlihat sangat akrab. Bahkan canda tawa mereka berdua terdengar sampai di luar rumah.


Bu Murni pun memiliki sebuah ide, mencoba untuk berkolaborasi untuk membuat Mie Ayam Ceker bersama dengan Siska. Siska pun dengan penuh semangat bersedia untuk membantu Bu Murni.


"Sepertinya, ini kesempatan sangat bagus. Bagaimana kalau kita membuat Mie Ayam Ceker, sepertinya di warung depan sana ada yang menjual bahan-bahan untuk membuat Mie. Biar ibu yang membelinya." Ujar Bu Murni.

__ADS_1


"Biar Siska saja yang belanja Bu, Siska tidak tahu apa saja yang harus dipersiapkan dirumah." Sahutnya.


"Ya sudah kalau memang Nak Siska maunya begitu. Sebentar ibu tuliskan apa yang harus dibeli. Biar tidak bolak-balik ke warung."


Bu Murni pun pergi kekamarnya untuk mengambil pulpen dan kertas untuk menuliskan bahan apa saja yang dibutuhkan. Setelah selesai menulis semua yang diperlukan, Bu Murni memberikan selembar kertas dan beberapa lembar pecahan uang lima puluh ribuan.


"Ini Nak, kamu belanja, ibu persiapkan bahan-bahan yang ada dirumah." Sambil menyodorkan selembar kertas dan uang.


"Baik Bu, Siska belanja dulu ya Bu. Assalamualaikum," ucapnya sambil berjalan keluar untuk pergi berbelanja.


Sembari menunggu Siska kembali dari warung, Bu Murni mempersiapkan peralatan masak dan beberapa bahan yang akan digunakan untuk membuat Mie Ayam Ceker.


"Semoga saja, dengan begini Adrian bisa cepat melupakan wanita itu, dan Adrian bisa segera membuka hatinya untuk Siska." Gumamnya dalam hati.


Sudah hampir dua puluh menit Siska pergi ke warung untuk membeli bahan pesanan Bu Murni. Namun tak kunjung kembali, Bu Murni mulai khawatir, namun tak lama dari itu akhirnya Siska datang.


"Assalamualaikum Bu, maaf ya Bu Siska lama belanjanya. Tadi bertemu temen Siska dijalan. Jadi lama deh Bu. Ini Bu, semua bahan yang ibu pesan semua ada disini." Siska meletakkan semua bahan tersebut diatas meja.


"Sekarang Siska bantu apa dulu ini Bu," tanya Siska sambil melihat bahan yang ada didepannya.


"Nak Siska siapin daun sawi aja itu, di potong-potong. Sekalian bersihkan itu ceker ayamnya ya. Ibu mau membuat adonan mie dulu. Soalnya Adrian tidak suka Mie yang langsung beli itu. Jadi mau tidak mau harus membaut sendiri." Ujar Bu Murni.


"Wah, hebat ya. Bu Murni bisa membuat adonan mie sendiri. Siska mau lihat dong Bu?" Ucapnya.


"Iya, boleh."


Dengan penuh antusias untuk belajar membuat mie, Siska sampai merekam cara tradisional Bu Murni membuatnya.


Setelah melalui beberapa tahap, akhirnya Mie sudah siap. Mie buatan sendiri siap untuk dimasak. Untuk selanjutnya Bu Murni membuat bumbu Mie Ayam dan memasak Ceker ayam.


Setelah beberapa menit, akhirnya semua sudah siap. Dari Mie, bumbu, dan juga Ceker ayam yang sudah dimasak. Tinggal menunggu Adrian dan yang lainnya untuk pulang kerumah. Untuk menikmati hasil karya Bu Murni dan Siska.

__ADS_1


"Akhirnya bisa juga membuat Mie Ayam Ceker untuk Mas Adrian. Semoga suka kamu Mas." Batin Siska.


__ADS_2