
Minggu pagi yang cerah, tak terasa dua hari sudah Adrian berada di Boyolali. Suara adzan telah berkumandang, Adrian sebagai anak yang taat agama selalu tepat waktu untuk beribadah.
Setelah menunaikan ibadah sholat Subuh, Adrian mencari udara segar di halaman rumah Pak Sholeh. Embun dipagi hari yang membelai dirinya, mampu merelaksasi pikirannya. Adrian berolahraga ringan sembari menikmati embun dipagi itu.
Dari kejauhan Siska diam-diam memperhatikan Adrian yang sedang berolahraga. Waktu yang masih begitu pagi, kebanyakan orang seumurannya masih berada di pulau kapas. Namun, tidak dengan Adrian yang sudah bangun untuk beraktifitas, meski sekedar merenggangkan otot-ototnya.
Melihat Adrian yang sudah berada di halaman rumahnya, Siska memiliki rencana untuk menghampirinya. Namun dirinya malu, karena rambut yang masih berantakan. Siska hanya berhenti berdiri diteras rumah.
"Benar-benar calon suami idaman semua wanita, pantas saja Ayah begitu ingin Mas Adrian menjadi pendampingku. Mungkin, ini adalah salah satu alasannya." Gumamnya sambil terus memperhatikan Adrian yang berjalan setelah mengambil air wudhu dari kran yang ada didepan rumahnya.
"Ehem!" Terdengar suara yang tak asing dari belakangnya. Setelah melihatnya kebelakang ternyata sang Ayah yang sudah berdiri dibelakangnya.
"A-Ayah," mata Siska terbelalak melihat sang Ayah yang ternyata sudah berdiri dibelakangnya, membuatnya tersipu malu.
"Kamu suka ya, sama Nak Adrian. Lebih baik kamu jujur saja dengan perasaanmu sebelum terlambat. Nanti diambil orang lho..." bisik sang ayah kepada Siska.
Sang ayah kembali masuk kedalam rumah, Siska pun ikut mengekor dibelakang sang ayah berjalan masuk kedalam rumah sambil melihat Adrian. Tanpa sengaja Siska menabrak pintu rumah yang sudah tertutup.
"Brak!!"
"Auw," Siska menyeringai menahan rasa sakit di dahinya akibat terbentur pintu. Dengan cepat Siska masuk kedalam rumahnya sebelum Adrian melihatnya.
Mendengar ada suara dari arah rumah Pak Sholeh, Adrian berhenti sejenak untuk aktifitas olahraga pagi itu. Adrian berjalan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dengan langkah perlahan Adrian mendekati sumber suara itu.
Setibanya di depan rumah Pak Sholeh, Adrian memeriksa disekitar rumah Pak Sholeh, namun tak ada tanda-tanda apapun disana. Merasa tak ada sesuatu apapun yang mencurigakan disana, Adrian pun kembali ke tempat semula.
Akan tetapi, saat melangkahkan kakinya Adrian melihat ada sebuah penjepit rambut warna biru muda yang ada didepan pintu. Adrian pun mengambilnya dan menyimpannya.
__ADS_1
"Ini jepit rambut siapa? Tapi disini tidak ada siapa-siapa. Apa mungkin ini milik Siska ya?" gumamnya lirih.
Siska yang masih berada dibalik pintu pun mendengar apa yang di ucapkan oleh Adrian meski hanya pelan. Dia memeriksa jepit rambut yang biasa digunakan. Dan benar saja, ternyata jepit rambutnya tidak ada.
"Bagaimana ini, pasti Adrian tahu kalau itu jepit rambut milikku. Aku 'kan malu kalau sampai ketahuan kalau tadi aku menabrak pintu gara-gara fokus lihatin Mas Adrian sedang berolahraga." Desisnya yang masih bersandar dibalik pintu.
Dari dalam rumah terdengar langkah kaki Adrian yang berjalan meninggalkan rumah Siska. Dari balik jendela kaca yang tertutup gorden, Siska memastikan apakah Adrian benar-benar sudah pergi. Dan ternyata benar, Adrian sudah duduk diteras rumahnya.
"Dilihat dari jauh aja Mas Adrian ganteng banget, apalagi kalau bisa dekat terus setiap hari ya? Pasti beruntung banget orang yang bisa bersanding dengan dia." Gumamnya.
"Gue ngomong apa sih, maafin gue Michi... gue gak ada maksud apa-apa kok. Tapi kalau boleh jujur, kalau Lo gak berusaha mengejar Mas Adrian, gue yang akan gercep deketin Mas Adrian." Bermonolog dengan dirinya sendiri sembari melihat Adrian dari balik jendela kaca.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, Bu Laras dan Pak Sholeh sudah bersiap-siap merapikan barang yang akan dibawa pulang siang ini.
Rencananya Pak Sholeh akan satu Mingguan berada di Boyolali, namun ternyata Pak Suryo memberi kabar kepada Pak Sholeh jika beberapa bibit yang diberikan semua rusak. Sehingga siang ini Pak Sholeh akan kembali ke Wonosobo.
"Michi, bangun... sudah siang Nak!" Panggil Bu Laras sambil mengetuk pintu kamar Siska.
Bu Laras terkejut ketika Siska yang tiba-tiba menjawab. Berjalan dari arah belakangnya dengan rambut yang dibalut dengan handuknya.
"Ciye... Anak bunda rajin bener sekarang, jam segini sudah mandi. Biasanya juga nunggu siang baru mandi." Goda sang bunda yang membuat Siska bergelayutan manja pada bundanya.
"Bunda, apa sih? Kebetulan tadi pagi Siska kebangun gak bisa tidur lagi Bun, jadi ya mandi sekalian." Jawab Siska.
"Gimana mau tidur, orang pagi-pagi sudah melihat orang yang bisa bikin semangat. Ya kan Nak?" Sindir Pak Sholeh.
"Huft, Ayah mulai lagi kan... Sudah lah, Siska mau ganti baju dulu." Dengan manja Siska pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Bu Laras dan Pak Sholeh hanya saling beradu pandang saat melihat anaknya yang mulai salah tingkah.
Setelah melihat Siska yang ternyata sudah bangun, Bu Laras melanjutkan aktifitas untuk menyiapkan sarapan pagi. Sedangkan Pak Sholeh merapikan beberapa barang untuk dibawa pulang.
Tak lama dari itu, Siska yang sudah berpakaian rapi segera membantu bundanya untuk menyiapkan sarapan.
"Yah, memangnya pagi ini kita mau pulang. Kok barang-barangnya sudah dirapikan." Tanya Siska yang seketika berubah murung, seolah tak rela jika hari ini harus pulang ke Wonosobo.
"Iya Nak, semalam Pak Suryo telepon, ada sedikit masalah di kebun Pak Suryo. Bibit yang Ayah kasih kemarin, katanya banyak yang rusak. Padahal disini saja semua bibit sangatlah bagus." Ujarnya.
"Mas Adrian juga akan ikut pulang bersama kita 'kan, Yah. Kasihan jika disini hanya Mas Adrian sendirian." Ucap Siska.
Pak Sholeh terperangah ketika mendengar Siska yang mulai perhatian pada Adrian. "Sejak kapan Siska begitu perhatian dengan Adrian. Semoga saja ini adalah pertanda yang baik untuk hubungan mereka berdua." Batin Pak Sholeh.
"Ayah," panggil Siska sambil menggoyangkan tangan ayahnya.
"Iya, Nak. Ada apa?" Sahutnya.
"Siska tanya sama ayah, tapi ayah malah diam. Mas Adrian juga ikut pulang 'kan, Yah?" tanyanya lagi.
"Mungkin Nak, ayah sendiri juga belum bicara sama Mas Adrian. Coba kamu panggil Adrian sana Nak. Ayah tunggu disini ya?" Perintah Pak Sholeh.
Tanpa ada penolakan dari Siska, dia pergi menemui Adrian yang terlihat sedang duduk didepan rumah.
Dari kejauhan Siska memperhatikan Adrian, tampak wajahnya yang murung, sampai-sampai tak memperhatikan kedatangan Siska yang sudah berada didepannya.
"Mas Adrian kenapa ya? Kalau diperhatikan sepertinya Mas Adrian sedang memikirkan sesuatu." Batin Siska yang berdiri di depan Adrian.
__ADS_1
"Mas Adrian," Panggil Siska.
"I-iya Sis, ada apa Sis," jawabnya gugup. Mungkin karena terkejut melihat Sikap yang tiba-tiba sudah berdiri didepannya.