
Diteras rumah sedang berkumpul Pak Sholeh, Dicky dan juga Adrian. Mereka bertiga duduk bersama. Pak Sholeh memanggil Siska dan memerintah ya untuk membuat tiga cangkir kopi.
"Siska." Panggil Pak Sholeh.
"Iya Yah," jawabnya, sambil menggerutu didalam hatinya. Siska tetap berjalan menghampiri ayahnya yang sedang duduk dikursi bersama Dicky dan Adrian.
"Ada apa yah, Siska sedang bantuin bunda didapur. Ada apa yah?" tanya Siska.
"Ayah minta tolong, bikinin minum buat ayah sama tamu-tamu ayah." Pinta sang ayah.
"Iya Yah," jawab Siska yang segera pergi kedapur untuk menyiapkan minum dan camilan seadanya.
Mereka bertiga kembali dengan obrolannya sembari menunggu Siska menyiapkan minum. Yang tak lama dari itu Siska pun datang dengan membawa baki besar yang berisikan tiga cangkir kopi dan satu stoples berisikan kue kering.
Perlahan Siska meletakkan baki yang berisikan tiga cangkir kopi dan kue kering itu diatas meja dibantu oleh Adrian. Mereka berdua saling curi pandang sekilas meski tampak sedikit malu-malu. Pak Sholeh menyadari akan hal itu.
Akan tetapi disisi lain. Dari pandangan Pak Sholeh, terlihat jelas Dicky tidak begitu suka melihat mereka berdua saling curi pandang. Terlihat dirinya membuang muka saat Adrian membantu Siska.
"Silahkan di minum kopinya Yah, Mas Dicky, dan Mas Adrian." Ucap Siska dengan lembut dan bergegas kembali masuk kedalam rumah.
Siska meletakkan bakinya diatas meja, dan kembali berdiri dibalik pintu rumahnya. Sang Bunda yang melihatnya pun menghampirinya.
"Sis, apa yang kamu lakukan dibalik pintu itu. Jangan bilang kalau kamu mau menguping pembicaraan Ayahmu." Sapa Bu Laras sambil berjalan menghampirinya.
"Sst... Bunda ngomongnya jangan keras-keras dong, bisa-bisa Siska ketahuan." Desisnya sembari meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya. Sebagai isyarat agar bundanya diam.
Bu Laras yang tadinya melarang untuk menguping, kini malah ikut berdiri disamping putrinya. Mereka berdua bersama-sama mendengarkan obrolan mereka yang terdengar cukup jelas.
"Ayo silahkan diminum kopinya, keburu dingin nanti tidak enak." Ucap Pak Sholeh.
"Oh ya, sambil kita ngobrol santai saja ya? Nak Adrian, tadi bapak memang meminta Siska untuk panggil Nak Adrian ke sini, karena ada hal yang ingin bapak bicarakan. Semalam Pak Suryo telepon, memberitahukan ada kendala di kebun bapakmu. Beliau bilang, bibit yang dari saya itu semua rusak. Hanya beberapa yang bisa digunakan. Nak Adrian ingin ikut pulang, atau masih ingin tinggal disini dulu." Tanya Pak Sholeh pada Adrian.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Pak Sholeh, mata Adrian terbelalak seraya berkata, "Rusak! Lagi-lagi ada yang tidak suka dengan bapak. Siapa yang sebenarnya ada dibalik ini semua. Pasti ada yang sengaja menyabotase bibitnya." Terang Adrian.
"Kalau boleh, saya ikut pulang dulu Pak. Kasihan bapak, meski disana ada Pak Darman. Tapi saya tidak bisa tenang Pak." Imbuh Adrian.
"Ya sudah, kalau begitu setelah ini kita siap-siap berangkat untuk pulang. Lagipula Siska besok juga sudah harus kuliah. Oh ya, Nak Dicky bapak titip kebun dulu ya. Saya percayakan kebun disini padamu. Mungkin setelah urusan saya disana selesai, nanti saya kembali lagi kesini." Ucap Pak Sholeh.
Siska yang mendengarnya pun sangat senang, karena pada akhirnya Adrian ikut pulang bersamanya. Meskipun Siska sendiri masih bingung dengan perasaannya sekarang.
Bu Laras juga mendengar pembicaraan tiga orang yang sedang ngobrol diteras rumahnya. Dengan sedikit candaan Bu Laras menggoda putrinya. Yang tampak sangat senang ketika tahu dirinya akan pulang bersama dengan Adrian.
Saking senangnya mereka bercanda, tanpa sengaja Siska menyenggol sebuah sapu yang berada didekatnya dan terjatuh ke lantai. Mendengar ada suara dari balik pintu, Pak Sholeh mencoba untuk melihatnya.
Bu Laras dan Siska pun segera bergegas pergi sebelum Pak Sholeh melihat mereka.
Tak lama dari itu Pak Sholeh yang sudah sampai di dalam ruang tamu, hanya melihat sapu yang tergeletak di lantai.
"Siapa yang menjatuhkan sapu disini, perasaan di rumah ini tidak ada kucing.Siapa yang menjatuhkannya ya, ini pasti kelakuan mereka berdua," gumamnya dalam hati.
Dikarenakan sudah cukup lama mereka mengobrol, Dicky yang sepertinya sudah selesai dengan kepentingannya meminta izin untuk pulang.
Dicky berjabat tangan dengan Pak Sholeh dan Adrian sebelum pergi meninggalkan rumah Pak Sholeh. Namun sedikit terlihat aneh dengan Dicky, kemarin yang ramah ke kepada Adrian, kini tiba-tiba berubah menjadi orang yang cuek dan acuh.
"Ada apa dengan Mas Dicky ya Pak? Saya perhatikan dari tadi, Mas Dicky tidak seperti biasanya." Tanya Adrian pada Pak Sholeh setelah Dicky pergi dari rumahnya.
"Tidak apa-apa, mungkin hanya perasaanmu saja," jawab Pak Sholeh mencoba menutupi, meski sebenarnya Pak Sholeh merasakan hal yang sama.
"Semoga saja hanya perasaan saya Pak, tapi aneh saja rasanya." Balas Adrian yang masih kepikiran dengan sikap Dicky.
Tak lama dari itu, Bu Laras dan Siska keluar dari rumah dan menghampiri sang ayah yang masih duduk bersama Adrian.
"Tumben yah, Nak Dicky pagi-pagi sudah datang. Ada kepentingan apa, sampai harus sepagi ini datang ke rumah." Tanya Bu Laras yang terlihat tak begitu suka dengannya.
__ADS_1
"Oh, itu tadi Nak Dicky minta cuti, karena besok ada acara keluarga. Tapi kurang tahu juga acara apa. Ayah lupa tadi tidak tanya." Sahut Pak Sholeh.
"Owh... Apa jangan-jangan sengaja datang mau bertemu Siska ya Yah," goda Bu Laras.
Siska memukul pundak Bundanya karena tak suka dengan perkataannya. Wajah yang manis seketika berubah menjadi masam. Karena kesal, Siska pun pergi masuk kedalam rumah meninggalkan mereka.
Bu Laras hanya tertawa kecil melihat tingkah putrinya. Begitu juga dengan Pak Sholeh. Hanya geleng-geleng kepala melihat ibu dan anak ketika sedang bercanda.
"Maaf ya Mas Adrian, Siska seperti itu anaknya." Ucap Bu Laras.
"Iya Bu tidak apa-apa, namanya juga perempuan. Tersinggung sedikit seperti itu. Nanti juga akan membaik dengan sendirinya." Jawab Adrian.
"Oh ya Pak, Bu, kita mau berangkat jam berapa ya? Biar Adrian siap-siap dulu." Tanya Adrian.
"Setelah ini kita makan dulu, sayang kan masakan yang sudah dimasak tidak ada yang makan nanti. Kalau Nak Adrian mau beres-beres dulu tidak apa-apa, tapi setelah selesai langsung kesini saja ya. Sekalian barangnya dibawa kesini." Perintah Pak Sholeh.
Dengan begitu Adrian segera bergegas untuk mengemasi barang bawaannya yang memang tidak terlalu banyak.
"Adrian beres-beres pakaian dulu ya Pak," ucapnya.
"Oh iya silahkan, selesai beres-beres cepat kesini ya, kita makan dulu." Sahut Pak Sholeh sedikit berteriak karena Adrian sudah berjalan menuju rumah untuk membereskan pakaiannya.
Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya Adrian selesai mengemasi barangnya dan kembali kerumah Pak Sholeh. Disana sudah ditunggu oleh Pak Sholeh dan yang lainnya. Siska dan Bu Laras juga telah selesai mengemasi barang-barangnya.
"Ayo sini Nak, kita makan dulu. Perjalanan kita lumayan jauh. Biar kita tidak banyak berhenti nanti saat perjalanan. Pak Suryo barusan sudah telepon lagi." Ucapnya.
Mereka pun dengan segera menyantap hidangan yang sudah tersaji di atas meja makan. Untung saja pagi itu Bu Laras hanya membuat nasi goreng dan telur ceplok. Jadi tidak terlalu banyak sisa.
Beberapa menit berlalu, mereka semua sudah selesai sarapan dan barang-barang pun sudah di cross cek dan dibawa ke dalam mobil semuanya. Merasa semuanya sudah cukup, akhirnya mereka pun berangkat untuk kembali pulang.
"Bismillahirrahmanirrahim," Ucap Pak Sholeh dan perlahan mobilnya pun melaju.
__ADS_1