Terlambat

Terlambat
Makan bersama


__ADS_3

Pagi ini di tempat tinggal Pak Jafar yang ada di Boyolali, disana lebih dikenal dengan nama Pak Sholeh. Mereka yang sudah tiba dari semalam.


Hari ini perdana Adrian akan bekerja ditempat Pak Sholeh. Akan tetapi sebelum Adrian berangkat terlebih dahulu Pak Sholeh meminta putrinya untuk mengajak Adrian sarapan bersama.


"Siska sayang, coba kamu panggil Mas Adrian kesini. Biar kita bisa makan bersama. Kasihan, pasti Adrian lapar. Semalam dia tidak makan." Perintah Pak Sholeh.


"Tapi Yah, Siska malu kesana. Kenapa tidak Ayah saja yang memanggil Mas Adrian Yah." Jawab Siska malu-malu tapi sebenarnya mau.


Meskipun mereka berada dalam satu lokasi yang sama, akan tetapi mereka tidak tinggal satu atap. Karena didalam satu lokasi itu terdapat dua rumah. Satu rumah utama dan satu lagi rumah yang memang disediakan untuk saudara-saudara yang datang berkunjung.


Akhirnya Siska menuruti permintaan Ayahnya yang terus memaksa dirinya untuk memanggil Adrian.


Dengan segera Siska pergi menuju rumah yang ditempati oleh Adrian. Akan tetapi, baru saja ingin mengetuk pintunya. Tiba-tiba Adrian muncul membukakan pintunya.


"Siska, sedang apa disini," tanya Adrian.


"Maaf Mas Adrian, saya baru saja sampai kok Mas, itu Ayah mengajak Mas Adrian untuk sarapan bersama." Jawab Siska.


"Wah jadi ngerepotin ibu kalau seperti ini terus," ucap Adrian.


"Jangan sungkan seperti itu Mas, Bunda sama Ayah seneng kok, sama sekali tidak merasa direpotkan." Sahut Siska yang tersipu malu.


Mereka berdua berjalan menuju rumah utama Pak Sholeh, terlihat disana Pak Sholeh yang sedang duduk menunggu. Dari kejauhan tercium aroma sedap masakan yang sudah tersaji di meja makan.


Siska yang berjalan lebih dulu diikuti oleh Adrian yang mengekor dibelakangnya. Setelah mereka sampai diruang makan. Mereka disambut hangat oleh Pak Sholeh dengan wajah yang begitu ceria.


"Sini Mas Andika, kita sarapan bersama dulu sebelum kita terjun ke lokasi kebun sayur." Ajak Pak Sholeh sambil tersenyum ramah.


"Iya baik Pak," jawab Adrian yang segera duduk setelah Pak Sholeh memintanya untuk duduk.

__ADS_1


Pak Sholeh memang orang yang sangat baik, selalu rendah hati meskipun bergelimang harta. Tak pernah sekalipun membedakan kasta. Lain halnya dengan Pak Andika yang selalu menganggap rendah orang lain.


Kesederhanaan dan kepedulian Pak Sholeh membuat Adrian takjub. Belum pernah menemukan orang seperti Pak Sholeh selama ini. Melihat isi rumah Pak Sholeh memang tidaklah semegah orang-orang kaya pada umumnya.


Rumah dengan hampir semua bagian terbuat dari kayu. Yang terdapat ukiran di beberapa tempat. Meski sederhana, akan tetapi penataan ruangan sangat rapi. Adrian sampai terperangah melihatnya.


"Kenapa Mas Adrian, kok malah bengong? Ayo kita makan. Heran ya sama rumah bapak yang jelek ini." Ucap Pak Sholeh sambil tersenyum kecil pada Adrian.


"Bapak, sukanya merendah diri seperti itu. Rumah yang bagus seperti ini dibilang jelek. Justru rumah seperti ini yang Adrian suka Pak, sangat eksotik." Balas Adrian yang memang lama berkeinginan untuk membuat rumah yang sederhana.


Tak lama dari itu Siska datang membawa minuman yang sudah di siapkan oleh Bu Laras. Yang diikuti oleh Bu Laras yang berjalan di belakang Siska.


Setelah mereka berempat berkumpul dan duduk mengelilingi meja makan. Pak Sholeh memimpin berdo'a sebelum menyantap hidangan didepan mereka.


Setelah selesai berdoa, mereka berempat dengan lahap menikmati hidangan yang ada seperti, opor ayam, sayur asem, tempe goreng dan sambal matah beserta lalapan.


Pak Sholeh pun kebingungan, melihat mereka bertiga yang secara kompak menahan suapannya saat mendengar ucapan Pak Sholeh.


"Ayah ngomong apa sih..." kata Bu Laras sambil menyenggol bahu kiri Pak Sholeh. Kebetulan Pak Sholeh duduk bersebelahan dengan Bu Laras. Sedangkan Siska duduk bersebelahan dengan Adrian.


"Memang kenapa Bun, memangnya salah kalau Ayah berharap seperti ini terus. Kan seru kalau makan rame-rame seperti ini." Ujar Pak Sholeh sambil melemparkan senyum tipisnya.


Sambil menikmati hidangan yang disajikan oleh Bu Laras, Adrian diam-diam memperhatikan Siska yang duduk disebelahnya.


Begitu juga sebaliknya, Siska juga curi-curi pandang pada Adrian. Yang ternyata mereka tak luput dari perhatian sang Ayah.


"Ehem!"


Sang Ayah menggoda keduanya yang bergantian saling curi pandang. Membuat kedua orang tua Siska yang ada didepan mereka pun menahan tawa karena melihat kelakuan kedua anak yang ada didepannya.

__ADS_1


Tak lama dari itu, mereka semua telah selesai sarapan pagi. Bu Laras dan Siska membereskan meja makan, sedangkan Pak Sholeh dan Adrian pergi ke sebuah gasebo yang berada didepan rumah.


Disana mereka duduk berdua untuk sekedar mengobrol santai. Akan tetapi, dalam hati Adrian bertanya-tanya, "Kapan saya mulai bekerja kalau seperti ini, bisa-bisa saya tidak mendapatkan gaji. Bisa gagal bayar hutang ke tempat Pak Andika kalau seperti ini."


"Mas Andika, apa bapak boleh tanya sesuatu? Tapi bapak minta tolong jawab jujur ya?" Sambil duduk berhadapan di dalam gasebo.


"Boleh Pak, memangnya mau tanya soal apa ya Pak?" tanya Adrian yang segera dengan seksama mendengarkan apa yang akan ditanyakan.


"Mungkin Pak Suryo sudah berbicara dengan Mas Adrian, tentang kesepakatan kami untuk menjodohkan Mas Adrian dan Siska. Apakah Mas Andrian sudah ada jawaban, bersedia atau tidaknya? Bapak berharap Mas Adrian bersedia. Tapi, jika ada pilihan yang lain, bapak tidak memaksa." Ucapnya lirih.


Adrian kaget bukan main, membuatnya semakin bingung untuk menjawabnya. Tidak dimungkiri, Siska memang wanita yang berparas cantik, tidak jauh berbeda dengan Michi. Sejauh ini Siska juga sangat baik pada dirinya.


Jauh didalam lubuk hatinya, Adrian masih berharap pada Michi akan bersabar untuk menunggunya. Adrian rela untuk jauh dari orang tuanya untuk bekerja, demi mengembalikan uang yang sudah diberikan oleh Pak Andika.


Sedikitpun Adrian tidak pernah menyangka, jika dirinya akan dihadapkan dengan suatu pilihan yang bisa dikatakan sangat sulit untuknya memilih.


"Sebelumnya Adrian minta maaf Pak, jikalau boleh jujur, sebenarnya Adrian saat ini masih mengharapkan seseorang untuk bisa menunggu Adrian sukses. Karena itulah mengapa Adrian ingin bekerja dari nol. Dengan harapan bisa menjadi orang yang sukses." Balas Adrian dengan sangat sopannya.


"Kalau memang karena ada alasan tertentu yang membuat Mas Adrian belum bisa menerima perjodohan ini, bapak tidak masalah. Bapak hanya mendo'akan yang terbaik untuk kalian. Bapak harap kamu betah untuk bekerja dengan saya. Jika kamu butuh sesuatu, tidak usah sungkan untuk bilang sama saya atau istri saya." Ucap Pak Sholeh dengan santainya.


Tak lama dari itu Siska yang datang menghampiri mereka berdua di gasebo, yang ada didepan rumah. Mereka berdua pun menyudahi obrolan mereka.


Dengan menggunakan topi caping yang besar, bahkan membawa bekal makanan yang sangat banyak.Membuat Pak Sholeh dan Adrian terpaku melihat barang bawaan Siska.


"Anak Ayah mau kemana? Kok pakai caping, terus membawa bekal makanan juga. Ada apa nih! Tumbenan ikut ke kebun." Goda sang Ayah.


"Ya 'kan sekali-kali tidak apa-apa, Yah?" jawab Siska dengan manja.


Adrian menatap lama wajah Siska. Yang membuatnya melamun sejenak. Siska yang melihatnya pun tersipu malu. "Apa mungkin ini sebuah pertanda Mas Adrian mulai suka aku ya," batin Siska sambil tersenyum sendiri.

__ADS_1


__ADS_2