
Pukul tiga sore di rumah Andika, tepatnya dihari Minggu, terlihat berbagai dekorasi yang menghiasi seluruh halaman rumah hingga seluruh ruang tamu. Semua dipersiapkan untuk acara pertunangan Michi dengan laki-laki pilihan sang Papa.
Meskipun sebenarnya Michi tak setuju dengan acara yang sebentar lagi akan dimulai.
Tak lama dari itu keluarga dari pihak laki-laki yang sebelumnya tidak akan menyetujui pertunangan itu, ternyata sudah menyetujui pertunangan sehingga acara dipercepat dari acara semula.
"Hei Pak Andika," sapa seseorang yang berjalan dari luar menuju ke arahnya. Dengan setelan kemeja putih, Jas warna biru dongker, dan celana hitam berjalan dengan sangat sopan.
Sembari melihat sekeliling ruangan yang sudah tampak meriah. Pak Andika membalas menyapanya dengan girangnya.
"Hei... Bos Wijaya, selamat datang. Mari mari silahkan duduk sini Bos." Mereka pun saling berpelukan,mengobrol penuh dengan canda tawa.
"Persiapannya sangat cepat ya Pak, semoga anak-anak kita suka dengan konsep yang kita buat ini." Ucap Pak Wijaya sambil melihat disekelilingnya.
"Semua juga berkat Bos Wijaya, tanpa bantuan Bos semua tidak akan selesai secepat ini." Sahutnya.
Meskipun hanya acara pertunangan, namun Pak Wijaya membuat acara tersebut semeriah mungkin. Karena untuk putra tersayangnya yang memang sudah lama menyukai Michi, dan kebetulan mereka berada di kampus yang sama hanya berbeda fakultas.
"Oh ya Pak, ngomong-ngomong dari tadi saya lihat, Pak Wijaya datang seorang diri. Mengapa tidak datang bersama dengan putranya Pak." Tanya Pak Andika yang sedikit khawatir.
"Oh, iya Pak, sebentar lagi juga pasti sampai kok?" jawab Pak Wijaya.
Sembari menunggu kedatangan putra Pak Wijaya, mereka mengobrol bersama diteras rumah. Mereka dengan serius membicarakan tentang usaha yang akan mereka rintis bersama.
Pak Wijaya yang seorang pengusaha mebel terkenal, dengan omset ratusan juta per bulan. Dan Pak Andika yang merupakan pengusaha di bidang property yang tak jauh beda dengan bisnis yang dilakoni oleh Pak Wijaya.
Mereka duduk berdua dari pembicaraan yang serius diselingi dengan canda dan tawa, terutama Pak Andika yang sudah tak sabar untuk segera melangsungkan pertunangan itu. Tanpa memikirkan bagaimana perasaan putrinya.
Tak lama dari itu dari teras rumah terlihat sebuah mobil warna hitam yang berhenti dihalaman rumahnya.
__ADS_1
Dari dalam mobil keluar seorang laki-laki yang berperawakan tinggi, kulit putih, rambut lurus sedikit ikal. Dengan kancing kemeja putihnya sedikit terbuka sehingga bagian dada sedikit terlihat. Sedangkan jas yang seharusnya dipakai, hanya ditentengnya. Diikuti oleh wanita yang tak lain adalah Bu Hesti, maminya.
Dia berjalan menghampiri, kedua orang yang sedang melihat ke arahnya. "Kemal Wijaya anak Papi, akhirnya sampai juga," ucap Pak Wijaya dengan sambutan hangatnya.Tak lupa Kemal berjabat tangan dengan Pak Andika, begitu juga dengan Bu Hesti yang dengan sopannya menghampiri Pak Andika.
"Iya dong Pi, pasti dong... Ini kan acara Kemal. Oh ya Pi, Michi mana? Kok saya perhatikan tidak ada disini," tanya Kemal sambil melihat disekelilingnya.
"Anak Papi sudah tidak sabar ya ingin bertemu dengan pujaan hatimu. Sabar dulu, sebentar lagi acara ini kita mulai." Ucap Pak Wijaya pada putranya.
"Mari kita duduk didalam saja, biar saya panggilkan putriku. Untuk kita bisa mulai acara pertunangan anak kita." Ajak Pak Andika sambil menunjuk tempat duduk didalam ruangan yang sudah di dekor sedemikian rupa.
Mereka berjalan menuju tempat yang sudah tersedia. Terlihat beberapa orang penting yang diminta sebagai saksi dalam pertunangan sudah berdatangan.
"Maaf ya Pak, saya panggil istri dan anak saya." Ucap Pak Andika sambil bergegas meninggalkan mereka disana.
Pak Andika berjalan menuju kamar anaknya yang masih tertutup rapat. Pak Andika mengetuk pintu sambil memanggil putrinya. Yang tak lama dari itu Bu Ayu membukakan pintu kamarnya.
"Apa!! Mama jangan merusak acara yang sudah terencana. Diluar sudah ada Pak Wijaya dan keluarga. Jika kita membatalkan pertunangan ini. Kita akan rugi besar, semua biaya dekorasi akan terbuang sia-sia. Papa tidak mau tahu, Mama ajak Michi keluar dengan pakaian yang sudah dipersiapkan." Pinta Pak Andika dengan nada suara yang tinggi.
Michi yang kini masih terus menangis diatas tempat tidurnya, tak menyangka jika dirinya harus bertunangan dengan orang yang selama ini tidak pernah dicintainya.
"Papa jahat!!" Teriak Michi sambil melemparkan bantal yang ada didekatnya ke arah sang Papa.
"Terserah!! Sekarang kamu cepat ganti pakaianmu dan kita akan tetap melangsungkan pertunangan ini. Jangan coba untuk menolak. Atau keluarga miskin itu akan semakin terpuruk." Sahut sang Papa yang sedikit mengancam Michi.
Pak Andika pun segera bergegas meninggalkan istri dan putrinya. Dan kembali menemui keluarga Wijaya.
Setelah Pak Andika pergi, Bu Ayu mencoba menasehati putrinya untuk bersedia menerima perjodohan itu. Namun, Michi bersikukuh untuk tidak menerimanya.
"Ma, apa perasaan anak itu tidak lebih penting dari harta. Kebahagiaan anak itu harusnya lebih diutamakan. Tapi apa! Papa sama Mama itu gak ada beda. Hanya mementingkan kepentingan pribadi." Amuk Siska sembari melemparkan semua barang-barang yang ada disebelahnya.
__ADS_1
"Plak!"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Michi. Membuatnya terperangah, tak pernah menyangka jika seorang anak yang berharap pembelaan dari seorang ibu, justru mendapatkan tamparan yang selama ini tak pernah dia dapatkan.
"Mama menamparku..." ucap Michi sambil berlinangan air mata. Ditambah dengan menahan rasa sakit akibat tamparan dari Mamanya.
Sang Mama hanya tertunduk diam. Namun dalam hatinya berkata, "Ma-maafkan Mama Nak, untuk saat ini tidak ada yang bisa Mama lakukan selain menuruti keinginan Papamu." Uraian air mata sang Mama mulai membasahi pipinya.
Michi yang melihatnya pun sedikit tahu, sang Mama melakukan ini agar dirinya tersadar. Mungkin dengan dia menolak permintaan sang Papa. Tidak hanya dirinya yang akan celaka. Bahkan keluarga Adrian juga akan menjadi imbasnya.
Ruang kamar yang kini hanya ada mereka berdua, terlihat hening karena masih saling merenungi.
Michi tak ingin melihat sang Mama yang terus disakiti oleh sang Papa. Semenjak mengelola perusahaan Mamanya, sang Papa sudah banyak berubah. Begitu ambisius untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
"Ma, Mama jangan bersedih. Michi akan mencoba menerima perjodohan ini. Mungkin ini sudah takdirku harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak Michi cintai." Ucapnya sambil memeluk erat sang Mama yang berada disampingnya.
"Apa kamu yakin dengan keputusan yang kamu ambil ini?" tanya sang Mama yang seolah masih tak percaya dengan ucapan anaknya.
"Entahlah Ma, tapi yang pasti Michi tidak ingin melihat Mama selalu disalah oleh Papa. Mungkin benar kata pepatah, 'Mencintai tak harus memiliki', ya kan Ma?" Ucap Michi yang kembali mengeluarkan tetesan air mata.
Michi mengambil gaun yang sedari tadi sudah disiapkan oleh sang Mama. Dan segera memakainya. Setelahnya Michi hanya memakai make-up seadanya hanya sekedar untuk menghilangkan bekas tangisan.
Setelah beberapa saat, Michi pun selesai dengan persiapannya. Sang Papa yang kembali menghampirinya dikamar tersenyum bahagia melihatnya.
Mereka bertiga berjalan menuju tempat yang sudah disiapkan. Disana begitu banyak orang yang diundang untuk menjadi saksi pertunangannya.
Kemal yang melihat kedatangan Michi dengan gaun pilihannya, matanya berbinar-binar. Tak menyangka hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Meskipun masih proses pertunangan.
"Apakah aku benar-benar akan menjadi miliknya. Apakah ini pilihan yang tepat. Maafkan Michi Mas Adrian. Semoga dirimu menemukan seseorang yang lebih baik dariku." Bermonolog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1