
Setibanya Michi dirumahnya, yang sudah dijemput oleh Pak Andika dari rumah Pak Suryo. Michi terlihat bingung. Michi yang hendak mencari teman curhat yang ternyata Siska sendiri sedang tidak ada dirumah.
Pak Andika yang melihat Michi selesai menelepon Siska, mengira jika Michi sedang menelepon Adrian. Seketika Andika mengambil ponsel yang ada digenggaman tangan Michi.
"Siapa yang barusan kamu telepon, pasti laki-laki miskin itu 'kan?" Sambil mengambil ponsel dari genggaman Michi.
"Bukan Pa, barusan Michi telepon Siska, temen kampus Michi." Sahutnya membela dirinya, karena memang Siska yang dia telepon.
Akan tetapi Andika tak percaya dengan penjelasan Michi, karena emosi yang sudah menguasai dirinya.
"Michi, sudah berapa kali Papa bilang sama kamu. Papa sudah memilihkan pendampihng yang pantas untukmu. Tapi kenapa kamu masih saja mencari laki-laki tidak berguna itu." Terlihat kesal dengan Michi yang sangat keras kepala.
"Papa kenapa sih, Pa! Bersikeras ingin menjodohkanku, apa tidak ingin melihat Michi bahagia. Apa harta kekayaan yang melimpah membuat Papa lebih bahagia, daripada melihat kebahagiaan buah hatinya hidup dengan laki-laki pilihannya sendiri." Cerocos Michi dengan tangisnya.
"DIAM!!"
"PLAK!!"
Pekik sang Papa yang tak menerima semua celotehan Michi yang menurutnya sama sekali tak berguna. Bahkan tak segan untuk menampar Michi. Sang Mama yang melihatnya pun hanya mampu menangis.
"Kamu pikir kita ini bisa hidup hanya dengan makan kata-kata sayang. Bisa kenyang makan cinta. Apa kamu tidak bisa melihat dengan jelas. Kita itu berbeda dengan keluarga laki-laki miskin itu. Papa yang menentukan siapa laki-laki yang pantas untukmu." Ucap Andika yang semakin memuncak kemarahannya.
Merasa semua ucapannya tak lagi dihiraukan oleh papanya, Michi pun berlari pergi ke kamarnya untuk mengurung diri. Sang Mama tak bisa berkata apapun, melihat putrinya berlari menangis tersedu.
"Michi!! Papa belum selesai bicara." Panggilnya sambil melihat anaknya dengan wajahnya yang terlihat sangat marah.
"Lihat Ma! Itu hasil didikan Mama. Sudah berani ngelawan Papa sekarang. Pokoknya Papa tidak mau tahu. Besok perjodohan harus tetap dilaksanakan." Ucap Andika yang bergegas meninggalkan istrinya sendiri diruang keluarga.
Melihat suaminya pergi keluar dari rumah, Bu Ayu sendiri tidak tahu kemana suaminya akan pergi.
Duduk di sofa yang berada di ruang keluarga seorang diri, dengan fikiran dan hati yang berantakan tidak karuan. Memikirkan keadaan anaknya yang kini terpuruk karena keegoisan suaminya.
__ADS_1
"Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak ingin perjodohan ini terjadi. Bagaimanapun caranya, aku harus bisa menghentikan Papa. Tapi bagaimana caranya? Lebih baik sekarang aku bicara dengan Michi." Bu Ayu bermonolog dengan dirinya sendiri.
Bu Ayu beranjak dari duduknya, dan bergegas untuk menuju ke kamar Michi. Dengan harapan Michi mau berbicara dengannya.
Kesempatan yang tidak di sia-siakan oleh Bu Ayu, dengan menaiki beberapa anak tangga, karena kebetulan Michi pergi menuju kamar yang biasa digunakan Michi untuk menenangkan diri, demi melepas penatnya saat banyak kegiatan dikampusnya.
Didepan pintu kamar Michi, ada sedikit keraguan dengan Bu Ayu. Namun demi menenangkan putrinya, Bu Ayu tetap melanjutkan untuk mengetuk pintunya sambil memanggil putrinya.
"Michi... Michi sayang, ini Mama Nak. Apa boleh Mama masuk." Ucap Bu Ayu yang masih berdiri di depan pintu.
"Michi..." sekali lagi Bu Ayu memanggilnya.
Pintu kamar terbuka, Michi pun memeluk sang Mama yang masih berdiri didepan pintu. Dengan tangis yang terisak, Michi berkata jika dirinya tidak setuju dengan perjodohan itu.
Mereka pun melepas pelukannya, Bu Ayu mengajak Michi untuk masuk kedalam kamar untuk menenangkannya. Pintu ditutup rapat dan mereka berdua pun duduk berdua diatas ranjang.
"Michi, Mama minta maaf ya Nak, Mama tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Semua sudah dikendalikan Papamu. Mama juga bingung, apa yang membuat Papamu begitu ingin dengan perjodohan ini." Ucap Bu Ayu.
"Mama tidak salah, Michi tidak habis pikir dengan Papa. Tega sekali ingin menjodohkan Michi dengan laki-laki yang sama sekali tidak Michi suka, bahkan kenal pun tidak. Lebih baik Michi pergi dari rumah ini Ma. Daripada harus mengikuti keinginan Papa." Sambung Michi menanggapi ucapan sang Mama.
"Mama kenapa menangis?" tanya Michi.
"Tidak apa-apa Michi, Mama hanya sedih tidak bisa berbuat apa-apa untuk menjaga anak Mama satu-satunya." Jawab Bu Ayu.
Sejenak Michi terdiam, begitu juga dengan Bu Ayu. Entah apa yang sedang difikirkan oleh keduanya. Tidak ada suara yang terucap dari keduanya.
Dikeheningan suasana didalam kamar itu, tiba-tiba Michi berkata, " Ma, bagaimana kalau Michi pergi saja dari rumah!"
Sontak Bu Ayu yang mendengarnya pun terkejut dengan apa yang diucapkan oleh putrinya. Namun dalam hati sang Mama berkata, "Mungkin pergi dari rumah itu solusi pertama, tapi tidak menuntut kemungkinan akan menimbulkan masalah yang lebih besar."
"Tidak! Jika Michi pergi, pasti Papamu akan semakin marah. Bisa-bisa kita berdua tidak lagi diizinkan untuk pergi keluar rumah." Sahutnya.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus Michi lakukan sekarang Ma! Haruskah Michi menerima begitu saja perjodohan ini?"
"Tidak!"
"Sampai kapanpun Michi tidak akan pernah setuju dengan perjodohan ini Ma!" Dengan seluruh kesedihannya Michi pergi meninggalkan kamarnya.
"Michi... Kamu mau kemana Nak!" Sedikit berteriak memanggil Michi yang sudah berjalan menuruni anak tangga.
Michi terus berlari meninggalkan sang Mama yang berdiri didepan pintu yang terus memanggilnya. Sedikitpun tak dihiraukan oleh Michi.
Namun sayang, ketika Michi membuka pintu rumahnya. Didepan pintu rumahnya sudah berdiri tegak sang Papa. Membuat Michi terkejut dibuatnya.
"Pa-Papa," ucapnya terbata sembari melihat orang yang ada didepan pintu.
Dengan cepat Pak Andika memegang lengan Michi agar tidak pergi keluar dari rumah.
"Kamu mau kemana! Jangan coba-coba untuk kabur dari rumah ini. Atau kamu akan menyesal." Ucap Pak Andika sambil menarik lengan putrinya untuk kembali masuk kedalam rumah.
"Lepasin Pa, tangan Michi sakit." Rengeknya berharap sang Papa mau melepaskan cengkraman tangannya yang terus menariknya sampai ke ruang tamu.
Badan Michi terhempas ke lantai dan hampir saja kepalanya mengenai sudut kursi yang ada di ruang tamu itu, akibat dorongan oleh sang Papa sembari melepas cengkramannya.
Untung saja sang Mama dengan cepat datang melindungi putrinya dengan memasang badan sang Mama.
"Kamu sudah mulai berani membangkang sekarang!" Sambil mengacungkan jari telunjuknya didepan wajah Michi.
"Papa! Sudah cukup, Pa! Apa tidak puas setelah semua apa yang Papa ambil dari Mama." Ucap sang Mama yang membuat Michi mematung memikirkan ucapan sang Mama.
"Dirumah ini Papa yang berkuasa. Termasuk dengan nyawa kalian sekalipun." Sahut sang Papa.
Sang Mama hanya tertunduk menangis, mendengar kata-kata suaminya. Suami yang dulu baik dan bersikap manis, kini berubah menjadi kasar dan tak peduli dengan keluarganya.
__ADS_1
"Papa jahat! Tega menjual anak demi harta." Ucap Michi sambil terus menangis.
Tak terima dengan ucapan dari putrinya, Pak Andika kembali menarik tangan Michi dan menyeretnya ke dalam gudang. Michi yang terus memberontak, namun karena tenaga sang Papa lebih kuat. Michi pun berhasil di masukkan kedalam gudang dan menguncinya dari luar.