Terlambat

Terlambat
Adrian anak siapa?


__ADS_3

Setelah membaca isi surat itupun, seketika dirinya diam mematung. Tak percaya dengan apa yang dialaminya.


"Ja-Jadi Adrian ini sebenarnya bu-bukan anak ibu dan bapak! Lalu Adrian ini anak siapa Bu!!" tanya Adrian sedikit berteriak tak terima dengan apa yang baru saja dialami.


Pak Suryo yang baru saja pulang dari kebun, segera menghampiri Adrian yang saat ini berada di dalam kamarnya. Pak Suryo bingung melihat istri dan anaknya menangis.


"Ada apa dengan kalian, sebenarnya ada apa ini. Sebentar lagi sudah mau Adzan Maghrib. Tidak baik jika kalian menangis seperti ini."


"Sebenarnya ada apa ini Bu?" tanya Pak Suryo kepada istrinya.


Sang istri bukannya menjawab pertanyaan suaminya, tangisannya semakin menjadi. Pak Suryo pun berbalik bertanya pada Adrian. Adrian hanya diam dengan isakan tangisnya. Pak Suryo melihat kotak hitam disebelah kanan Adrian. Dan melihat sebuah kalung ditangan kiri Adrian dan kertas yang digenggamnya di tangan sebelah kanan.


"Apa jangan-jangan, ibu memberikan kotak itu kepada Adrian." Batin Pak Suryo mematung didepan Adrian.


Pak Suryo yang melihat kesedihan Adrian, sebenarnya tak ingin membuat Adrian seperti itu. Akan tetapi, jika semua itu disimpan, sampai kapan rahasia itu ditutupi. Yang ada hanya akan membuat Adrian semakin bersedih.


Pak Suryo perlahan berjalan mendekati Adrian, dan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Adrian, maafkan bapak dan ibu, jika baru hari ini menyampaikan hal ini. Ini semua salah bapak yang tidak mengizinkan ibumu menyampaikan hal ini. Tidak ada alasan yang lain, selain kami takut untuk kehilanganmu." Jelasnya.


"Mengapa bapak sama ibu tega menyimpan rahasia selama ini. Mengapa Bu!!" Ucapnya kesal.


"Adrian, dengarkan bapak dulu Nak. Pada waktu itu, dalam kondisi hujan yang cukup lebat, kami tidak sengaja mendengar ada suara tangisan bayi di teras rumah. Kami tak melihat siapapun diteras rumah. Justru hanya kamu yang kami temukan dengan kalung dan surat yang tersimpan didalam kotak itu."


"Kami yang kebetulan menikah sudah puluhan tahun namun belum memiliki keturunan. Bahkan dokter pun sudah memvonis istri bapak tidak bisa hamil. Kami pun merawat mu sambil menunggu orang tuamu kembali. Namun sampai kamu beranjak menjadi anak-anak, tidak ada seorangpun yang mencarimu."


"Dan dengan kehadiranmu dirumah ini rumah tangga bapak sama ibu mulai terlihat bahagia. Tapi, bukan berarti kami tidak ingin menceritakan tentang semua ini. Hanya saja waktu yang belum tepat untuk menceritakannya." Terang Pak Suryo.

__ADS_1


Adrian hanya duduk terdiam, memikirkan semua apa yang di ceritakan oleh Pak Suryo kepadanya. Jika semua itu benar, Adrian tak akan memaafkan kedua orang tuanya. Yang sudah tega menelantarkan dirinya.


Perasaan yang kini bercampur aduk, tanpa berkata apa-apa Adrian pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan orang tuanya untuk menyendiri.


"Adrian, kamu mau kemana Nak?Jangan tinggalin ibu Nak!" Mencoba meraih tangan Adrian. Namun sayang, Adrian lebih cepat menghindar dari sang ibu.


Sang Ibu yang melihatnya pun, berusaha menghentikan putranya. Karena, meski bukan terlahir dari rahimnya, namun bagi Bu Murni, Adrian sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri.


Pak Suryo mencoba menahan istrinya agar tetap menenangkan diri. "Sudah Bu, biarkan Adrian menyendiri terlebih dahulu. Mungkin dia masih sangat syok melihat kenyataan ini. Sekarang ibu yang tenang ya? Biar Adrian nanti bapak yang mencari." Ucap Pak Suryo menenangkan istrinya.


Pak Suryo mengantarkan istrinya untuk kembali ke kamarnya. Agar hatinya lebih tenang.


"Ibu istirahat dulu ya Bu, bapak mau bersih-bersih badan dulu. Nanti lanjut menemui Adrian. Bapak tahu kok dimana biasanya Adrian suka menyendiri diwaktu sedih." Ucap Pak Suryo dengan sabarnya.


Bu Murni yang berbaring diatas kasurnya, hanya menganggukkan kepala. Menuruti apa permintaan sang suami.


Pak Suryo pun pergi dari kamar, membiarkan istrinya untuk menenangkan dirinya. Pintu kamarnya pun perlahan ditutup oleh Pak Suryo. Dan pergi untuk membersihkan badannya.


Disebuah bukit kecil yang berada tak jauh dari kebun mili orang tuanya, disana terdapat sebuah gubuk kecil. Tempat yang memang biasa digunakan oleh Adrian untuk melepas penatnya.


Bukit kecil yang didepan tampak curam, namun dapat dengan jelas melihat kearah matahari tenggelam, dia duduk termenung meratapi nasibnya sendiri.


"Tuhan... Apa salahku, mengapa orang tuaku membuang diriku. Apa aku bukanlah anak yang tidak mereka inginkan." Teriaknya kearah tebing yang curam.


Meski sekencang apapun berteriak, tak akan ada satu orangpun yang mendengar. Namun tiba-tiba munculah Pak Suryo dari belakang Adrian yang membuatnya terkejut.


"Adrian," panggilnya sambil berjalan menghampiri dan duduk bersebelahan dengannya.

__ADS_1


"Bapak! Darimana Bapak tahu kalau Adrian ada disini?" tanya Adrian.


Sambil tersenyum, Pak Suryo menjawab pertanyaan. " Tempat ini dari dulu sebelum Adrian ada, sudah banyak yang tahu. Hanya saja akhir-akhir ini memang sudah tidak banyak yang kesini. Dulu setiap sore tempat ini dijadikan tempat untuk bermain." Jawabnya.


"Lalu untuk apa bapak mengikuti Adrian sampai disini. Adrian masih ingin sendiri Pak. Adrian kecewa sama bapak dan Ibu." Ucapnya.


Pak Suryo mencoba untuk mengerti posisi Adrian saat ini. Dikecewakan memanglah sangat tidak enak. Apalagi oleh orang yang sangat disayang.


"Nak, bapak minta maaf, seandainya bapak tahu siapa orang yang menitipkan dirimu pada bapak, bapak akan dengan sangat senang hati menerimamu. Tapi, sayangnya bapak sendiri tidak tahu, siapa yang tega melakukan itu padamu."


"Kami hanya tidak ingin kehilangan sosok anak yang baik sepertimu. Simpan baik-baik surat itu, dan pakailah kalung itu. Mungkin suatu saat nanti akan ada seseorang yang mengenalimu dari kalung yang kamu pakai."


"Tapi bapak mohon, tetaplah tinggal bersama kami sebelum kamu menemukan kedua orang tuamu. Insyaallah bapak akan membantu untuk mencarinya." Ucap Pak Suryo.


Adrian masih tampak ragu, melihat kalung yang diberikan oleh Pak Suryo. "Apa benar, aku ini bukan anak ibu dan bapak. Tapi mereka begitu menyayangiku, begitupun aku. Aku merasakan cinta dan kasih sayang yang besar dari mereka." Batin Adrian yang tak lama dari itu, Adrian memeluk Pak Suryo dengan eratnya.


"Maafin Adrian ya Pak, harusnya Adrian berterimakasih pada ibu dan bapak yang sudah merawat ku. Bukan malah seperti ini." Ucap Adrian yang masih memeluk pak Suryo.


"Hari sudah hampir malam, kita pulang ya? Kasihan ibumu, pasti ibumu sangat menghawatirkan keadaanmu." Balas Pak Suryo.


"Iya Pak, tapi bolehkah Adrian disini sebentar lagi, nanti Adrian pasti pulang kok Pak. Bapak pulang dulu. Adrian masih ingin menyendiri dulu." Pinta Adrian.


Pak Suryo tak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaan Adrian. Tak lupa Pak Suryo mengingatkan untuk segera pulang, sebelum Pak Suryo yang lebih dulu meninggalkan tempat itu.


"Bapak pulang dulu, kasihan ibumu. Ingat! Jangan terlalu malam pulangnya." Ucap Pak Suryo.


Adrian menganggukkan kepalanya, dan kembali terduduk diatas batu yang diatasnya memang sangat rata. Hanya saja sebelahnya terdapat jurang yang dalam.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah menganggap orang yang mengaku dirinya adalah ibuku. Saat ini aku hanya ingin membahagiakan Ibu Murni. Orang yang selama ini sudah merawat dan membesarkan ku." Batinnya lirih.


Merasa hatinya sudah cukup tenang, Adrian pun bergegas untuk pulang menemui ibunya.


__ADS_2