Terlambat

Terlambat
Untuk apa Dicky datang ke rumah


__ADS_3

"Maaf Mas Adrian diminta untuk menemui ayah, sekarang sudah ditunggu diruang tamu." Ucap Siska malu-malu yang seketika mengingat kejadian tadi pagi.


"Memangnya ada apa Sis, tumbenan jam segini sudah cariin Adrian." Sahutnya kaget, yang telah tersadar dari lamunannya.


"Siska kurang tahu juga Mas, soalnya Ayah tiba-tiba saja memintaku untuk memanggil Mas Adrian." Jawabnya singkat.


"Ya sudah, kamu duluan saja aku mau mandi dulu gak apa-apa 'kan. Nanti aku nyusul kesana, soalnya habis olahraga gak berani langsung mandi, takut masuk angin." imbuh Adrian menjelaskan pada Siska.


"Iya Mas, kalau gitu Siska kesana dulu ya Mas." Sahutnya dan bergegas kembali menemui ayahnya.


Siska membalikkan badannya hendak berjalan ke rumahnya. Tiba-tiba Adrian memanggilnya. Siska berhenti melangkahkan kakinya dan kembali berbalik ke arah Adrian.


"Siska."


"Iya, ada apa Mas?" jawabnya.


"Tadi pagi aku nemuin jepit rambut ini diteras rumahmu. Apa ini milikmu, atau mungkin milik bundamu." Ucapnya sambil menyodorkan jepit rambut warna biru pada Siska.


"Terimakasih ya Mas Adrian. Kalau begitu Siska duluan ya Mas." Sambil berjalan mundur yang hampir saja terjatuh karena sendal jepit yang dipakai tersangkut oleh pot yang ada disebelahnya. Dengan sigap Adrian menahan badan Siska dengan tangannya dan menariknya hingga tubuh Siska jatuh dalam pelukan Adrian.


Mereka berdua pun tertahan dalam pelukan itu, membuat mereka saling beradu pandang sampai beberapa detik.


"Ini pertama kali aku memeluk seorang wanita, ternyata jika diperhatikan dari dekat, Siska tak kalah cantik dengan Michi." Batin Adrian. Hingga Adrian pun melepas pelukannya saat bayang wajah Michi terlintas di pikirannya.


"M-maaf Siska, aku tidak bermaksud apa-apa. Saya reflek untuk menangkap mu agar tidak terjatuh saja." Jelas Adrian


"Tidak apa-apa kok Mas, untuk Mas Adrian menolongku. Kalau tidak, pasti Siska sudah jatuh tersungkur." Jawab Siska.


"Gak di lepasin juga sebenarnya gak apa-apa Mas. Ternyata seperti ini rasanya dipeluk cowok ganteng." Batin Siska sambil tersenyum sendiri.


"Siska! Kamu kenapa malah senyum-senyum sendiri seperti itu?" tanya Adrian yang sedari tadi memperhatikannya.


"Owh, enggak kenapa-napa kok Mas," jawabnya singkat.

__ADS_1


Tanpa berpamitan dengan Adrian, Siska bergegas menemui sang ayah untuk melapor jika sudah meminta Adrian untuk datang menemui.


Sembari berjalan, sesekali Siska menoleh kebelakang, untuk melihat apakah Adrian masih ada atau tidak. Dan ketika melihatnya, Siska tersipu malu karena ternyata masih ada Adrian yang berdiri disana.


Siska melanjutkan untuk terus berjalan menuju rumahnya. Dan sampailah Siska di depan rumahnya. Ternyata tak cukup satu kali, lagi-lagi Siska melihat ke arah Adrian, namun Adrian sudah tidak lagi berdiri disana.


Dibukanya pintu rumah, dan didalam rumah sudah terlihat sang ayah dan bundanya tertawa kecil ketika Siska masuk kedalam rumah.


Siska yang melihatnya pun menjadi bertanya-tanya dalam hatinya, "Ayah sama Bunda kenapa? Kok mereka tertawa seperti itu. Apa jangan-jangan...."


"Ciye... Ada yang lagi berbunga-bunga nih!" Goda sang bunda yang melihat putrinya sudah masuk ke ruang tamu.


"Siapa Bun yang lagi berbunga-bunga," tanya Siska berpura-pura tidak tahu jika sang bunda menyindirnya.


"Tuh 'kan? Putri kita pura-pura gak tahu Yah, kalau lagi seneng semuanya jadi lupa. Ya gak Yah," celetuk Bu Laras.


Seketika wajah tembem Siska memerah setelah tahu, ternyata kedua orang tuanya melihat kejadian di rumah yang ditempati Adrian.


"Ja-Jadi Ayah sama Bunda melihatnya, waktu Siska..." Siska pun tak berani melanjutkan ucapannya. Menyangka sang ayah akan memarahinya.


"Ayah tidak marah, untung saja hari masih pagi, belum ada yang lalu lalang orang didepan rumah. Jadi kalian masih aman. Kalau sampai ada warga yang tahu, dan mereka berpikiran buruk. Bisa-bisa kalian dituduh berzina, dan dipaksa nikah." Terang sang Ayah.


Siska yang tadinya tertunduk pun kini mendongakkan kepala karena terkejut dengan penjelasan sang Ayah.


"Kenapa tadi tidak ada yang lihat ya? Kan bisa dipastikan Mas Adrian nikah sama Siska." Ucapnya lirih.


Bu Laras melihat Siska dan sedikit mendengar apa yang sempat diucapkan oleh Siska. "Barusan Siska ngomong apa? Mau bikin malu orang tua. Kalau sampai ketahuan Siska seperti itu bisa jadi aib keluarga." Tegur Bu Laras pada Siska.


Siska pun kembali tertunduk diam. Setelah bundanya kembali memberi kultum padanya. Sang ayah hanya tersenyum kecil tak banyak menanggapi ucapan istrinya.


Tak lama dari itu terdengar salam dari luar rumah. "Assalamualaikum Pak."


"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serentak. Siska pun berjalan untuk membukakan pintunya sembari berkata, "Mas Adrian pakai baju apa ya? Pasti terlihat lebih ganteng lagi."

__ADS_1


Namun ternyata setelah pintu rumah dibuka, bukan Adrian yang saat ini dilihatnya. Melainkan Dicky, salah satu karyawan kepercayaan Pak Sholeh yang mengelola kebun sayurnya.


"Mas Dicky!"


"Saya pikir... "


"Adrian ya?" Sahutnya sebelum Siska menyelesaikan ucapannya.


Sejenak Siska terdiam mematung, dan dalam hatinya berkata, "Untuk apa Dicky datang kerumah"


"Maaf kalau pagi-pagi saya sudah mengganggu, saya cuma mau bertemu dengan Pak Sholeh. Apa Pak Sholeh ada?" Ucapnya sambil memperhatikan Siska dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Ada Mas, sebentar saya panggil Ayah dulu, silahkan duduk dulu Mas," sambil menunjuk ke arah kursi yang ada di teras rumah.


"Owh iya, terimakasih." Jawab Dicky dan berjalan menuju kursi yang ada di teras rumah.


"Siapa yang datang Nak," tanya Pak Sholeh sedikit berteriak.


"Ini, Mas Dicky Yah, katanya mau ketemu sama ayah."Jawab Siska sambil berjalan menghampiri sang Ayah.


Sang ayah pun berjalan keluar menemui Dicky yang sudah duduk menunggu. Tak lama dari itu Pak Sholeh datang dan menyapa Dicky.


"Pagi Nak Dicky, tumben jam segini sudah datang kerumah. Ada perlu apa Nak?" tanya Pak Sholeh sembari duduk berhadapan dengan Dicky.


"Iya Pak, sebelumnya Dicky minta maaf. Dicky dua hari ke depan mau minta cuti Pak. Di rumah akan ada acara keluarga, apa saya boleh ambil cuti Pak." Tanya Dicky.


"Boleh, boleh saja Nak Dicky. Tapi kalau boleh tahu memang ada acara apa? Sampai saya tidak dikasih tahu. Apa kamu sudah mau nikah." Canda Pak Sholeh sambil tertawa kecil.


"Ah, Pak Sholeh bisa aja. Mana ada cewek yang mau sama saya, jelek seperti ini Pak." Sambung Dicky merendah.


"Kamu jangan merendah seperti itu, harusnya apapun keadaan kita harus tetap bersyukur." Jelas Pak Sholeh sedikit menasehati Dicky.


Tak lama dari itu munculah Adrian ditengah obrolan Pak Sholeh dan Dicky. "Assalamualaikum," ucap Adrian mengucapkan salam. " Wa'alaikumsalam," jawab mereka berdua bersamaan.

__ADS_1


Adrian berjalan menghampiri dan bersalaman dengan Pak Sholeh dan Dicky. Disana terlihat perubahan wajah Dicky yang sepertinya tidak senang dengan kedatangan Adrian. Meski paham akan hal itu, Adrian tak menghiraukannya. Karena kedatangannya juga atas perintah Pak Sholeh.


"Maaf Pak, tadi Siska bilang bapak meminta saya untuk menemui bapak. Sebenarnya ada apa ya Pak, kok ada Mas Dicky juga disini." Tanya Adrian yang penasaran.


__ADS_2