
Meski Pak Andika begitu membencinya, entah mengapa rasa sayangnya sama sekali tak tergoyahkan kepada Michi. Adrian mencoba untuk menunggu diluar gerbang.
"Aku harus bertanya kepada Pak Andika, apa benar dengan semua dugaannya. Jika benar terbukti Pak Andika yang membuat semua tanaman sayuran rusak, aku tidak akan memaafkannya." Ujarnya dalam hati.
Sudah hampir satu jam, namun Pak Andika sama sekali tak kunjung keluar. Begitu pula dengan Kemal, yang tak lagi terlihat batang hidungnya.
"Mengapa dari mereka sama sekali tidak ada yang keluar ya? Apa mereka sengaja, tidak ingin menemuiku." Batin Adrian yang mulai terlihat gelisah.
Dikarenakan sudah terlalu lama menunggu, akhirnya Adrian memutuskan untuk pergi dari sana dan kembali ke rumah.
Meski dalam hatinya masih berharap Michi akan menemuinya, akan tetapi sepertinya itu tidak mungkin. Sesekali Adrian melihat kerumah Michi sebelum benar-benar pergi dari sana.
Dengan badan yang mulai terasa tak berdaya, Adrian pun menyalakan sepeda motornya untuk segera pulang.
"Jika dia adalah pilihanmu yang mampu membuatmu bahagia, aku rela kau bersamanya. Namun, jika dia tak mampu memberikan semua itu, aku pasti akan kembali untuk mengambilnya darinya." Ucap Adrian sebelum akhirnya benar pergi dari rumah Michi.
Dengan tubuh lemas karena masalah yang menganggu pikirannya. Adrian mencoba untuk melepas semua bebannya dengan pergi ke tempat yang biasa digunakan untuk menenangkan dirinya. Tak lain adalah sebuah perbukitan yang tak jauh dari kebun miliknya.
Di perjalanan menuju kebun miliknya, tanpa menyadari jika dirinya berpapasan dengan Siska yang ingin pergi ke rumah Michi. Namun akhirnya Siska pun memilih untuk berbalik arah mengikuti Adrian.
Setelah beberapa saat akhirnya Adrian berhenti di dekat kebun miliknya. Siska yang melihatnya pun kebingungan.
"Apa yang akan dilakukan Adrian ditempat seperti ini. Apa jangan-jangan Adrian... seketika Siska menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, berfikir jika Adrian akan melakukan percobaan b*n*h diri." Tanpa berfikir panjang Siska berlari kearah Adrian sembari berteriak memanggilnya.
"Mas Adrian!!"
Adrian yang mendengar suara teriakan itu pun sangat terkejut melihat yang tiba-tiba ada Siska di belakangnya.
"Siska. Sejak kapan kamu ada disini?" tanya Adrian yang tampak kebingungan.
"Apa yang Mas Adrian lakukan ditempat seperti ini. Apa Mas sudah tidak wa*as. Hanya karena ditinggal Michi bertunangan dengan laki-laki lain, Mas Adrian mau b*n*h diri." Cerocos Siska tanpa hentinya karena begitu paniknya.
__ADS_1
"Ha!! Apa kamu bilang. B*n*h diri?" Sahut Adrian sambil terkekeh melihat ekspresi wajah Siska yang begitu panik.
"Kok Mas Adrian malah ketawa sih! Gak ada yang lucu tahu Mas. Siska beneran khawatir dengan keadaan Mas Adrian."
Adrian yang sudah berada ditepi jurang itupun berjalan mendekati Siska. Hingga mereka pun berdiri saling berhadapan.
"Siska, aku itu tidak sedang mau b*n*h diri. Tapi ditempat ini memang sudah menjadi tempat yang biasa ku gunakan untuk melepas penatku."
"Jadi... Mas Adrian tidak berniat untuk melakukan itu." Tanya Siska yang seketika membuat pipinya berubah memerah karena malu, sudah berprasangka buruk.
"Ya gak dong, meskipun hati ini hancur. Tapi aku masih ada akal sehat untuk berfikir jernih. Kan ada bidadari yang datang mengobati luka di hatiku." Goda Adrian sembari memberikan kedipan genitnya kepada Siska.
"Idih Mas Adrian bisa genit juga ya ternyata, godain Siska nih ceritanya," balas Siska.
Mereka berdua pun tertawa penuh dengan canda. Adrian pun mengajak Siska untuk duduk di atas batu yang diatas terdapat gazebo kecil untuk berteduh, dan melihat kearah yang jauh disana.
Siska pun berdecak kagum melihatnya, tak menyangka jika tempat yang dilihat hanya sederhana, namun setelah naik ke atas bukit itu, semua mata akan disulap. Melihat dari atas bukit memang sangat indah. Meski sedikit rasa was-was.
"Jadi Siska bisa sampai disini, karena mengikuti ku." Ucap Adrian mengulangi kata-kata Siska.
"Hehehe, maaf Mas, kalau tidak salah tadi Siska lihat Mas Adrian dari arah rumah Michi. Apa Mas beneran dari rumah Michi?" tanya Siska.
Adrian hanya menganggukkan kepalanya, dan kembali terlihat murung. Siska pun mencoba untuk menghibur Adrian agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya.
"Berarti sekarang Mas Adrian sudah tahu yang sebenarnya. Kalau Michi sudah beneran bertunangan. Mas Adrian yang sabar ya, mungkin ada alasan tersendiri. Mengapa Michi melakukan hal itu."
"Apakah ini pertanda jika kita akan dipersatukan Mas, semoga saja perlahan kau akan membuka hatimu dan memberi sedikit tempat untukku di hatimu." Batin Siska.
"Siska, maafkan aku. Andai aku kemarin percaya dengan perkataan mu. Mungkin saat ini aku tidak akan merasakan hal seperti ini. Tapi, rasa sayangku padanya sudah sangat besar. Aku belum sanggup untuk kehilangan sosok wanita seperti dia." Jelas Adrian.
Siska yang melihat keadaannya pun merasa sangat kasihan pada Adrian. Apalagi dia sampai menolak untuk dijodohkan dengan Siska, berharap Michi wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya.
__ADS_1
Adrian yang duduk bersila, dengan kepala tertunduk diam. Entah apa yang membuat Siska bisa seberani itu, Siska yang saat ini duduk disampingnya tiba-tiba memeluknya.
Kedua tangan Siska melingkar dibagian perut Adrian. Melihat kondisi itu pun, Adrian terperangah dibuatnya. "Apa yang Siska lakukan, bagaimana kalau sampai orang-orang melihatnya." Batin Adrian sambil terus memandangi Siska.
"Maaf Mas, Siska terlalu terbawa suasana. Siska hanya tidak ingin Mas Adrian terlalu lama berada dalam kesedihan ini. Apa Siska boleh menanyakan sesuatu pada Mas Adrian." Ucapnya.
"Tanya saja, memangnya apa yang ingin kamu tanyakan, Sis?"
"Tapi Mas Adrian janji ya Mas, jangan marah sama Siska." Ucap Siska sambil malu-malu.
"Apa Mas tidak ada perasaan sedikitpun untuk Siska. Setelah kebersamaan kita beberapa hari ini?" tanya Siska penuh harap.
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Siska, Adrian pun celingukan mencari jawaban. Karena saat ini Adrian masih delima dengan apa yang dirasakan saat ini. Karena yang dirasakan oleh Adrian entah sayang, cinta, atau hanya sekedar mengagumi Siska.
"Siska, aku minta maaf. Mungkin untuk saat ini, aku belum bisa memberikan jawaban. Aku harap kamu bisa mengerti bagaimana keadaanku saat ini."
"Iya Mas, Siska mengerti kok. Siska harap Mas Adrian tidak terlalu lama berada dalam keadaan ini. Masih banyak orang yang membutuhkanmu Mas." Ucapnya sembari mengeratkan pelukannya.
"Aku tahu kamu memang baik Siska, tapi apakah kamu benar-benar tulus ataukah hanya kasihan denganku. Tapi, bukan kah Dicky menyukainya." Batin Adrian yang masih penuh tanda tanya.
Wajah Siska yang tiba-tiba berubah, karena menahan malu setelah sadar dirinya masih memeluk Adrian. Siska sedikit menjauh dari Adrian sembari tersenyum kecil, dan meminta maaf karena sudah berani memeluknya tanpa seizin Adrian.
"Maaf Mas Adrian," ucap Siska.
"Iya gak apa-apa kok, terimakasih sudah perhatian dan peduli denganku." Ucap Adrian yang dengan sengaja mengacak-acak rambut Siska.
Setelah cukup lama mereka berada disana, mereka pun berencana untuk ikut ke kebun milik Pak Suryo. Karena kebetulan sang Ayah sedang berada di kebun milik Pak Suryo.
"Kita ikut bantu dikebun yuk! Biar bisa sekalian belajar." Ajak Adrian.
Akhirnya Siska bersedia untuk pergi menemui orang tua mereka untuk membant.
__ADS_1