Terlambat

Terlambat
Sebuah pesan


__ADS_3

Semua tamu undangan sudah duduk ditempat yang telah dipersiapkan. Acara pertunangan antara Michi dan Kemal akan segera dilakukan.


Para tamu undangan termasuk dengan Kemal, tertuju pada seseorang yang datang dengan gaun yang senada dengan warna dekorasi kesukaan Michi. Semua mata melihat dengan berdecak kagum. Wanita yang begitu anggun.


Kemal menuai pujian karena sangat pintar memilih calon pendamping hidup. Tentu Kemal semakin merasa besar kepala dengan pujian itu.


"Hebat banget Lo Kemal, bisa dapet jodoh kayak Michi. Kalau dapetnya kayak gini mah gua mau-mau aja." Ucap salah satu teman Kemal yang ikut menyaksikan acara pertunangannya.


"Siapa dulu... Kemal Wijaya, apa sih yang gak bisa gua dapetin," jawabnya dengan sombong.


Tak lama dari itu, Michi pun tiba didepan para tamu undangan yang didampingi oleh sang Mama.


Michi sama sekali belum pernah bertemu dengan Kemal. Meskipun mereka satu kampus, akan tetapi mereka sama sekali tidak pernah bertemu.


Pandangan Michi hanya tertunduk melihat kearah kakinya sendiri, hanya sesekali Michi melihat sang Papa yang terlihat jelas raut wajahnya yang bahagia.


Tak lama dari itu seorang MC berdiri untuk memulai acara pertunangan. Sebelum acara dimulai, MC membacakan terlebih dahulu susunan acara yang akan dilaksanakan. Setelah semua susunan acara dibacakan, selanjutnya MC memberikan sedikit sambutan selamat datang kepada keluarga mempelai pria untuk mewakili pihak mempelai wanita.


Dengan sedikit sambutan, MC pun kembali membacanya acara-acara berikutnya sampai pada acara pihak pria untuk menyampaikan maksud dari kedatangan mereka.


Mendengar pertanyaan yang dulu pernah diucapkan oleh seseorang yang sangat Michi sayangi, kini kembali diucapkan oleh orang yang sama sekali tidak dia sayangi.


Perlahan air mata yang tertahan sejak kedatangannya memasuki area pertunangan, kini benar-benar tumpah. Mungkin bagi mereka air mata itu adalah air mata kebahagiaan, akan tetapi bagi Michi itu adalah air mata kepedihannya.


Sang Mama yang melihatnya pun segera memberikan tisu untuk membantu menghapus air matanya yang tak hentinya membasahi pipinya.


Michi yang tak mampu berkata-kata, hanya mampu menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa dirinya bersedia menerima lamaran dan pertunangan itu.


Dan setelah Pak Andika memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh pihak keluarga Wijaya, bahwa Michi menerima lamarannya. Secara simbolis keluarga Wijaya memberikan kotak berwarna merah yang didalamnya terdapat dua buah cincin.


MC pun memanggil kedua mempelai untuk saling bergantian memasang cincin yang akan melingkar di jari manis mereka sebagai tanda bahwa mereka terjalin dalam sebuah hubungan yang serius.

__ADS_1


Kedua keluarga saling mengucap syukur karena semua berjalan dengan lancar. Dan mereka pun mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama.


Setelah beberapa acara selesai, kini Michi telah resmi bertunangan dengan Kemal. Semua tamu undangan sudah berpamitan pulang. Disana kini tinggal keluarga Wijaya dan Pak Andika yang sedang asyik mengobrol. Mereka membahas acara pernikahan anak mereka.


Michi hanya terdiam, masih tak percaya jika semua ini benar-benar terjadi. Tak percaya jika dirinya harus jatuh dipelukan laki-laki lain.


Tak kuat lagi menahan diri, Michi berlari pergi ke kamarnya. Karena tak mampu lagi menahan air matanya mengalir, mengingat janji yang pernah terucap pada Adrian.


"Ada apa dengan Michi Pak," tanya Kemal pada Pak Andika.


"Tidak apa-apa Nak Kemal, mungkin saking bahagianya karena sudah dilamar sama Nak Kemal." Jawab Pak Andika mencoba menenangkan Kemal.


Bu Hesti dan Pak Wijaya hanya terdiam saling beradu pandang. Walaupun mereka sebenarnya ada keraguan dengan Michi dan keluarganya.


Hari yang sudah semakin sore, keluarga Wijaya pun berpamitan untuk pulang terlebih dahulu.


"Pak, Bu, sepertinya hari sudah mulai sore, semua acara sudah selesai. Saya sekeluarga mohon pamit ya Pak. Lain waktu kita ngobrol-ngobrol lagi." Ucap Pak Wijaya sambil bersalaman.


Mereka pun bergegas berjalan menuju mobil yang terparkir dihalaman rumah. Mereka diantarkan oleh Pak Andika dan Bu Ayu sampai di dekat mobil mereka.


Keluarga Wijaya pun masuk kedalam mobil dan mereka pun perlahan berjalan pergi meninggalkan rumah Pak Andika.


Melihat mobil keluarga Wijaya yang sudah tak terlihat lagi. Pak Andika pun bergegas masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamar Michi.


Bu Ayu yang melihatnya pun segera mengikutinya. Untung saja sebelum Pak Andika masuk kedalam kamar Michi, Bu Ayu berhasil menghentikannya.


"Pa! Papa mau apa, pergi ke kamar Michi. Apa Papa mau marah-marah karena sikap Michi tadi. Harusnya Papa kasih waktu untuk Michi menyendiri. Jangan sampai psikologis anak kita itu menjadi lemah karena ego Papa." Ucap Bu Ayu.


"Tapi Ma, Michi sudah bikin Papa malu. Kalau sampai mereka curiga, dan membatalkan kontrak kerja kita hanya gara-gara tahu kita memaksa Michi bertunangan. Michi sama Mama akan tahu sendiri akibatnya." Ancam Pak Andika dan bergegas pergi meninggalkan istrinya.


...****************...

__ADS_1


Sore hari menjelang petang, Adrian yang sudah sampai dirumah sejak sore tadi. Bermaksud ingin menemui Michi dirumahnya.


"Bu, Adrian minta ijin pergi dulu sebentar ya?" ucapnya sembari mencium punggung tangan ibunya.


"Sudah jam segini kamu mau pergi kemana? Mau kerumah Nak Siska ya?" Goda Bu Murni yang melihat putranya sudah berpakaian rapi.


"Ibu bisa aja, Adrian mau kerumah Michi Bu. Adrian mau mengembalikan uang yang dulu pernah diberikan pada bapak."


"Memangnya kamu dapat uang darimana? Bukannya kamu baru bekerja dua hari. Masa iya, gaji pertama sudah bisa untuk mengembalikan uang ke keluarga Andika." Ucap Bu Murni.


"Kemarin Adrian cerita banyak ke Pak Sholeh tentang masalah yang ada. Pak Sholeh meminjamkan uang ini untuk dikembalikan ke Pak Andika. Agar Pak Andika tidak semena-mena lagi dengan keluarga kita." Balas Adrian menjelaskan pada ibunya.


Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari Bu Murni. Ingin sekali berkata jujur pada Adrian. Namun Bu Murni takut jika putranya akan sangat membencinya. Bu Murni hanya terdiam mematung.


"Bu, ibu kenapa?" tanya Adrian sambil menghampiri ibunya.


"Adrian, sebenarnya... Ada hal penting yang ingin ibu sampaikan pada Adrian. Tapi, ibu harap Adrian tidak membenci ibu dan bapak."


"Hal penting apa Bu, memangnya apa yang bapak sama ibu sembunyikan dari Adrian selama ini. Adrian janjian tidak akan membenci bapak sama ibu. Tapi, tolong ceritakan yang sejujurnya." Pinta Adrian sambil menggenggam erat tangan ibunya.


Yang tak lama dari itu Bu Murni pun mulai menceritakan semuanya kepada Adrian. Meski dengan berat hati, Bu Murni pergi kekamarnya untuk mengambil sebuah kotak hitam.


Diberikannya kotak itu kepada Adrian. Tampak begitu sedih, raut wajah Bu Murni saat menyodorkan kotak berwarna hitam itu.


"Apa ini Bu?" tanya Adrian ketika menerima kotak itu dari ibunya.


"Kamu buka kotak itu Nak, kamu akan mengerti setelah kamu membukanya." Jawab Bu Murni dengan linangan airmata.


Melihat ibunya yang tiba-tiba berlinang airmata pun membuat Adrian bingung. "Mengapa ibu semakin tak mampu menahan airmatanya." Batin Adrian sambil membuka kotak yang diterimanya dari sang Ibu.


Ketika sebuah kotak itu dibuka, Adrian melihat ada sebuah kalung, yang tergantung sebuah huruf dengan inisial 'A' dan sepucuk surat dibawahnya yang berisikan sebuah pesan.

__ADS_1


"Bu saya titipkan anakku, kelak jika sudah besar berikan ini padanya. Aku akan kembali menemuinya."


__ADS_2