Terlambat

Terlambat
Perjodohan Adrian


__ADS_3

Meski berat, namun karena semua itu adalah keputusan yang diambilnya. Bu Murni dan Pak Suryo bisa apa? Adrian masih dengan pendiriannya. Untuk tetap pergi bersama dengan Pak Sholeh.


Setelah selesai menikmati makan siang, Adrian meminta ijin kepada bapak dan ibunya untuk mengemasi pakaian untuk dibawa ke Boyolali. Adrian berjalan menuju kamar miliknya.


Dicarinya tas ransel yang biasa digunakan untuk sekolah dulu. Di bukanya pintu lemari kecil yang didalamnya terdapat beberapa pakaian miliknya. Diambilnya sekitar tiga stel pakaian sebagai ganti.


Disaat Adrian mempersiapkan pakaiannya, tanpa sengaja Adrian melihat foto saat dirinya masih kecil bersama dengan orang tuanya. Namun beberapa saat dirinya mencermati foto itu, disana bukanlah foto kedua orang tua yang saat ini ada didepan matanya.


"Ini kan fotoku saat masih kecil, tapi mengapa orang tua yang ada difoto ini bukan bapak dan ibu. Mereka siapa?" Batin Adrian.


Sambil terus melihat foto yang diambilnya, karena terjatuh dari lemari miliknya. Sempat berfikir jika dirinya bukanlah anak kandung bapak dan ibunya.


"Apa sebaiknya aku tanya sama bapak dan ibu ya? Tapi, jika aku bertanya pasti mereka akan marah. Akan tetapi, jika aku diam terus seperti ini, rasa penasaran ini akan terus menghantui." Bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Adrian," tiba-tiba si ibu memanggil Adrian dan dengan cepat Adrian mengembalikan foto itu di dalam lemari.


"Iya Bu," jawab Adrian dari dalam kamarnya. Sambil membawa ransel yang berisikan pakaian dia menuju kedepan kamarnya.


Adrian anak yang sangat sopan, banyak tetangga sekitar yang memuji ketekunan beribadahnya, apalagi baktinya kepada kedua orang tuanya. Anak seumuran dia jarang yang berkepribadian seperti itu.


"Ibu memanggil saya, ada apa Bu?" tanya Adrian.


"Apa kamu yakin akan bekerja dengan Pak Sholeh, Nak? Apa tidak sebaiknya kamu pikirkan lagi. Kami dirumah hanya berdua Nak."Jawab Bu Murni yang terlihat mulai berkaca-kaca menahan air matanya.


"Kan cuma sebentar saja Bu. Setelah itu insyaallah Adrian akan bantu-bantu bapak. Untuk sementara ini biar dibantu sama Pak Darman ya Bu." Sambil memeluk sang Ibu.

__ADS_1


Adrian melepaskan pelukan sang ibu dan berjalan berdua menuju ruang tamu. Namun sebelum berangkat, si bapak malah menanyakan sesuatu hal kepada Adrian.


"Adrian, sebelum kamu pergi bersama Pak Sholeh. Ada satu hal yang ingin bapak tanyakan sama kamu." Ucap Pak Suryo.


"Tanya soal apa Pak?" sambung Adrian sambil duduk didepan sang bapak.


Terlihat Pak Suryo dan Pak Sholeh saling berpandangan. Yang membuat Adrian sedikit kebingungan dan membuatnya sedikit berpikir.


"Ada apa dengan bapak sama Pak Sholeh? Seperti ada yang aneh. Apa jangan-jangan bapak merencanakan sesuatu buat Adrian." Ucap Adrian dalam hatinya.


Tiba-tiba Pak Suryo kembali memanggil Adrian. Adrian yang tadinya sempat melamun, seketika terperanjat mendengar panggilan Pak Suryo.


"I-iya Pak. Bagaimana Pak?" ucap Adrian.


"Kamu ngelamun ya Nak, bapak kan baru manggil. Belum juga berangkat, sudah ngelamun terus. Ini loh, bapak mau tanya sama Adrian. Bapak sama Pak Sholeh ini sepakat untuk menjodohkan kamu dengan putri Pak Sholeh. Apa kamu bersedia?" tanya Pak Suryo.


Disini Adrian sangatlah bingung, Pak Sholeh yang baru mengenal Adrian dan keluarganya mendadak ingin menjodohkan anaknya karena melihat kepribadian Adrian.


"Mas Adrian tidak perlu menjawab sekarang kok. Saya juga tidak memaksa Mas Adrian untuk menerima perjodohan ini. Nanti sebelum berangkat kita mampir dulu kerumah ya? Soalnya saya sendiri juga belum berpamitan dengan putri bapak. Karena kebetulan tadi sedang kuliah." Jelas Pak Sholeh.


Adrian tak berucap sepatah katapun, karena masih sangat shock dengan pertanyaan yang diajukan oleh Pak Suryo.


Sang ibu juga sangat terkejut karena, tiba-tiba suaminya berbicara seperti itu pada Adrian. Melihat raut wajah Adrian yang tampak terlihat seperti orang yang linglung. Bagiamana tidak, belum juga mendapat penjelasan tentang foto yang ditemukan. Kini sudah dihadapkan dengan perjodohan yang begitu cepat.


"Pak, untuk perjodohan ini Adrian minta waktu untuk memikirkannya terlebih dahulu. Karena bagaimanapun juga ini menyangkut dengan perasaan." Pinta Adrian yang masih duduk dalam setengah kebingungannya.

__ADS_1


"Iya Adrian, saya tidak memaksa kok. Ini juga baru rencana kami. Tapi kalau Mas Adrian ada pilihan yang lain, itu tidak apa-apa. Saya harap Mas Adrian tidak terganggu dengan hal ini."


Meskipun dalam hatinya penuh harap Adrian mau dijodohkan dengan putrinya. Mungkin terlalu cepat untuk acara perjodohan ini.


Dikarenakan waktu yang semakin mendekati sore, akhirnya Pak Sholeh bersama dengan Adrian berangkat menuju rumah Pak Sholeh terlebih dahulu, sebelum berangkat menuju Boyolali.


"Mohon maaf Pak, Bu berhubung waktu yang semakin sore, saya mohon ijin untuk mengajak Mas Adrian bekerja ditempat saya. Semoga saja disana nanti Mas Adrian bisa cepat beradaptasi dan mendapatkan pengalaman." Sambil bersalaman dengan Pak Suryo dan Bu Murni. Diikuti oleh Adrian yang berpamitan dengan kedua orang tuanya.


"Kami berangkat yang Pak, Bu. Assalamualaikum." Sambil menggendong tas ranselnya Adrian melangkah menuju mobil yang terparkir di halaman rumah.


Kedua orang tuanya mengantarkan Adrian sampai di halaman rumah. Dengan langkah yang terasa sangat berat, Adrian meninggalkan rumah itu. Karena itu pengalaman pertama Adrian jauh dari orang tuanya.


Mobil pun sudah di-starter oleh Pak Sholeh. Dengan segera, Adrian masuk kedalam mobil dan duduk di sebelah kiri Pak Sholeh.


Dari dalam mobil terlihat Bu Murni yang menahan diri untuk tidak menangis di hadapan Adrian.


Tin!


Klakson berbunyi, mobil pun perlahan keluar dari halaman rumahnya dan perlahan-lahan mobil itu berjalan semakin menjauh, lambaian tangan Adrian yang semakin menjauh, membuat Bu Murni tak lagi mampu menahan tangisnya.


Dalam pelukan Pak Suryo, Bu Murni menangis sejadi-jadinya. Bu Murni merasa sangat kehilangan sosok anak yang selama ini selalu meramaikan rumahnya.


"Ibu, sudah jangan menangisi Adrian. Biarkan anak kita disana bekerja sambil menuntut ilmu. Jika anak kita disini terus, kasihan juga Adrian. Lagipula Adrian kerja ditempat orang yang kita kenal." Mencoba menenangkan Bu Murni yang masih menangis.


"Tapi bukan itu yang membuat ibu menangis Pak. Hanya saja ibu belum siap jika suatu saat ini benar-benar terjadi, jika Adrian tahu yang sebenarnya." Celetuknya.

__ADS_1


Pak Suryo mengajak Bu Murni untuk masuk kedalam rumah, karena Pak Suryo tak ingin ada orang lain yang melihat istrinya menangis.


"Ayo Bu kita bicara didalam saja. Tak enak jika nanti ada orang lain yang mendengar. Apalagi sampai melihat ibu menangis seperti ini." Ajak Pak Suryo, dan akhirnya Bu Murni mau mengikuti ajakan Pak Suryo untuk masuk ke dalam.


__ADS_2