
Demi membayar hutang kepada orang tua Michi. Adrian mencoba keberuntungan dengan bekerja ditempat Pak Sholeh. Meski usaha Pak Suryo mulai berjalan lagi, namun ternyata usaha yang dimodali oleh Pak Sholeh pun ada sedikit kendala.
Di pagi hari Pak Darman yang merupakan karyawan Pak Suryo melihat bibit-bibit yang disemai, tiba-tiba semua berjamur. Dan sangat tidak layak untuk dijadikan bibit.
Disaat Pak Suryo sedang mengobrol bersama dengan Pak Darman, ada seseorang yang memanggilnya. Pak Suryo pun meminta istrinya untuk menemui seseorang yang terus memanggilnya.
"Bu, tolong lihat siapa yang bertamu itu. Sekarang bapak baru sibuk dengan Pak Darman." Ucap Pak Suryo yang sedang melihat hasil penyemaian bibit sayuran dibelakang rumah.
"Iya Pak," jawab Bu Murni yang segera berjalan ke depan untuk menemui seseorang itu.
Setibanya di depan rumah, Bu Murni melihat seorang anak gadis yang sudah berdiri didepan pintu. Bu Murni yang melihatnya pun sangat terkejut. Karena dipagi hari seperti ini suaminya sudah dicari oleh seorang anak gadis. Karena tak ingin berfikir yang buruk tentang suaminya, Bu Murni pun segera bertanya kepada gadis tersebut.
"Pagi Bu," sapa anak gadis tersebut sebelum disapa oleh Bu Murni.
"Iya, pagi. Mbak ini siapa dan ada perlu apa ya mencari suami saya," tanya Bu Murni sambil memperhatikan anak gadis tersebut yang sepertinya tidak asing baginya.
"Saya Michi Bu, teman SMA Mas Adrian. Apa Mas Adrian ada Bu? Maaf kalau saya sepagi ini sudah bertamu. Tapi ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada Mas Adrian." Ucapnya dengan raut wajah yang tampak sedih.
Sebelum Bu Murni menjawabnya, Michi lebih dulu dipersilahkan duduk di kursi yang ada diteras rumah. Bu Murni juga mulai ingat, bahwa ank gadis yang ada didepannya ini adalah orang yang spesial untuk Adrian. Karena Bu Murni pernah menemukan foto yang diselipkan di buku milik Adrian.
"Nak Michi silahkan duduk dulu, tunggu dulu sebentar ya?" Bu Murni bergegas masuk kedalam rumah memanggil suaminya.
Dengan cepat Bu Murni menghampiri suaminya yang sedang sibuk memilah bibit yang masih layak untuk ditanam.
"Pak. Bapak!" Panggil Bu Murni yang mengangetkan Pak Suryo.
"Ibu, ada apa sih? Buru-buru gitu, kalau bibitnya jatuh terus rusak bagaimana? Memangnya ada apa? Siapa yang barusan panggil-panggil bapak." Tanya Pak Suryo sambil terus memisahkan bibit yang masih layak untuk ditanam.
__ADS_1
"Nah itu dia Pak, di depan itu ada anak gadis, yang sepertinya itu gadis yang disukai anak kita Pak." Jawab Bu Murni dengan tegasnya.
"Darimana ibu tahu itu gadis yang disukai Adrian. Ibu jangan asal ngomong dong! Coba bapak kedepan dulu. Mau lihat apa bener yang ibu bilang."
"Pak Man, saya kedepan dulu ya?" ucapnya kepada Darman yang sedari tadi menemani Pak Suryo memilah bibit dibelakang rumah.
"Iya Pak, silahkan Pak." Jawab Pak Darman.
Pak Suryo dan Bu Murni bergegas berjalan ke teras rumah untuk menemui Michi. Setibanya Pak Suryo dan Bu Murni berdiri didepan pintu rumahnya, Michi beranjak dari duduknya dan bersalaman dengan Pak Suryo.
"Ada apa kamu datang kesini, apa belum puas juga orang tuamu yang sudah menghina keluargaku. Tenang saja, dalam waktu dekat ini yang yang diberikan oleh Papamu akan segera bapak kembalikan." Ucap Pak Suryo yang sudah lebih dulu berbicara tanpa memberikan waktu kepada Michi untuk menjelaskan maksud dari kedatangannya.
"Maaf Pak, jika waktu saya berkunjung ini tidak tepat. Tapi, apa boleh saya bertemu dengan Mas Adrian sekali ini saja Pak." Pinta Michi sambil perlahan airmatanya mulai menetes.
Meski Michi dengan rengekannya, Pak Suryo sedikitpun tak merasa iba, bahkan Pak Suryo semakin kesal ketika mengingat apa yang dikatakan oleh Andika kepada putranya.
Akan tetapi, Bu Murni yang berbaik hati pun mencoba menenangkan suaminya untuk tidak melakukan hal itu kepada Michi, karena mungkin Michi tidak tahu menahu soal uang yang diberikan oleh Andika.
Akhirnya dengan pengertian istrinya, Pak Suryo perlahan mulai menurunkan emosinya.
"Percuma saja kamu mencari Adrian disini, karena Adrian sudah pergi untuk bekerja. Untuk bisa mengembalikan uang yang diberikan oleh Papamu."
Sekarang bapak mau tanya, "Sebenarnya apa tujuanmu datang kemari?"
"Apa Pak!! Mas Adrian pergi, kalau saya boleh tahu, kemana perginya Mas Adrian Pak?"tanya Michi
Tertunduk lesu karena dirinya terlambat datang ke rumah Adrian. Didepan kedua orang tua Adrian, dirinya tak mampu lagi menahan air matanya yang ingin menetes.
__ADS_1
Melihat Michi yang tak dapat membendung air matanya, Bu Murni yang masih tak mengerti, mengapa Michi tiba-tiba menangis. Bu Murni mendekat dan memeluk Michi seraya bertanya, " Kamu mengapa menangis Michi, ibu dan bapak minta maaf ya, jikalau kami ada kata yang menyinggung perasaanmu."
Michi semakin erat memeluk Bu Murni, bahkan tangisan Michi semakin keras. Yang membuat Bu Murni dan Pak Suryo semakin bingung.
Akan tetapi, tak lama dari itu Michi pun perlahan melepas pelukannya dari Bu Murni. Dia mulai berbicara dengan Bu Murni.
"Bu, apa Michi boleh berbicara berdua saja dengan ibu." Ucap Michi.
"Tentu saja boleh Michi. Mau bicara disini, apa didalam." Tanya Bu Murni sambil menunjuk ruang tamu.
Dikarenakan Michi meminta untuk berbicara empat mata dengan Bu Murni, Pak Suryo pun kembali ke belakang rumah untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Bapak kebelakang dulu ya Bu, kasihan Darman seorang diri memilah bibit tanaman yang rusak," ucapnya sambil berjalan melewati samping mereka berdua.
Setelah Pak Suryo pergi, Michi dan Bu Murni kembali duduk untuk melanjutkan pembicaraan yang sempat terhenti.
"Bu, maaf sebelumnya. Kalau boleh tahu, sejak kapan Mas Adrian pergi, dan soal uang itu,Michi sendiri benar-benar tidak tahu jika Papa memberi uang kepada Mas Adrian." Ucap Michi yang masih tertunduk.
"Ibu sendiri juga kurang faham Nak, tapi ada kemungkinan uang itu diberikan kepada Adrian agar menjauhi mu. Apalagi saat itu kami butuh uang untuk modal dan operasional usaha." Sambung Bu Murni.
Mendengar jawaban dari Bu Murni, Michi sempat berfikir bahwa Adrian lebih mementingkan uang daripada perasaan Michi. Hanya karena uang, Adrian rela untuk menjauhi dirinya.
"Nak Michi jangan berburuk sangka dulu dengan Adrian. Dia rela sampai harus pergi dari rumah itu karena ingin mengembalikan uang yang dulu pernah diberikan oleh Papa Nak Michi." Jelas Bu Murni.
"Tapi Bu, sebenarnya kedatangan Michi kesini, ingin memberitahukan Mas Adrian. Sepertinya Papa sudah ada calon untuk Michi. Tapi Michi tidak mau perjodohan ini Bu. Michi berharapnya Mas Adrian yang datang untuk melamar Michi." Terang Michi yang kembali meneteskan air matanya.
Bu Murni tak bisa berkata-kata lagi, karena ini semua sangat sulit. Karena Adrian sendiri juga sebenarnya ingin dijodohkan.
__ADS_1