Terlambat

Terlambat
Pilihan yang sangat sulit


__ADS_3

Adrian yang masih dengan kesibukannya, tidak disia-siakan Siska yang saat ini hanya berdua dengan sang ayah. Karena kebimbangan didalam hatinya, Siska bertanya kepada sang ayah.


"Ayah," panggil Siska lirih berjalan menghampiri ayahnya. Sembari melihat sekitarnya.


"Iya sayang, ada apa?" tanya sang ayah yang sangat menyayangi Siska. Meski sudah duduk di bangku kuliah. Tak lantas membuat dirinya jauh dari sang Ayah.


"Siska mau ngobrol sama ayah sebentar, tapi jangan bilang siapa-siapa ya Yah. Jujur saja, sepertinya Siska sudah mulai suka dengan Mas Adrian. Tapi..." tiba-tiba Siska menghentikan ucapannya.


"Tapi apa Siska, cerita saja sama Ayah. Siapa tahu ayah bisa bantuin Siska. Sebelum semua terlambat, karena jika sampai itu terjadi denganmu. Ayah tidak bisa apa-apa. Sekarang cerita sama Ayah, sebelum Bundamu yang lebih dulu bertanya nanti. Pasti panjang lebar kalau sampai bundamu tahu." Ujar si Ayah.


Siska sedikit ragu untuk bercerita kepada sang ayah, namun sepertinya tak ada pilihan lain, selain bercerita semuanya kepada sang Ayah.


"Yah, sebenarnya... Mas Adrian itu sudah ada wanita pilihannya. Dan wanita itu tak lain sahabat Siska sendiri. Siska tidak mau persahabatan kami hancur hanya karena salah faham Yah." Dengan kepala tertunduk lesu dihadapan sang ayah.


"Apa benar karena itu yang menjadi alasanmu tidak mau Ayah jodohkan dengan Adrian. Atau memang hanya alasanmu saja?" tanya sang ayah.


Siska pun dengan berat menjawabnya, "Benar Ayah... itulah yang sekarang membuat Siska bingung." Sambil terus memutar-mutar ponsel yang ada didepannya.


Siska yang saat ini duduk dikursi yang dihadapannya terdapat sebuah meja besar. Sesekali ponsel yang ada didepannya diambil dan diletakkan kembali di atas meja. Sedari tadi memang Siska berniat untuk menghubungi Michi sahabatnya.


Akan tetapi Adrian sudah berpesan untuk tidak memberitahu Michi jika dirinya sedang berada di Boyolali bersama dengannya.


"Sekarang Siska harus bagaimana Yah, apa sebaiknya telepon Michi agar ikut kesini ya Yah." Tanya Siska pada ayahnya.


Sang ayah jelas tidak menyetujuinya, apalagi jika Michi diminta untuk datang ke Boyolali. Karena tujuan sebenarnya adalah menyatukan Adrian dan Siska putrinya.


"Siska! Kamu itu bagaimana sih? Kamu bilang mereka pacaran, baru juga pacaran. Tidak menutup kemungkinan Adrian memang jodohmu. Ayah lihat, Adrian itu juga mulai menaruh hati padamu, ayah yakin itu." Sahut pak Sholeh.


"Tapi ayah... sekarang Siska harus bagaimana Yah, haruskah Siska lanjut untuk mengejar cintanya Mas Adrian. Atau lebih baik mulai sekarang Siska menjauhinya sebelum rasa ini semakin besar." Ucapnya.


"Ini sungguh pilihan yang sangat sulit, Ayah sendiri berharap Siska bisa bersanding dengan Adrian. Tapi, disatu sisi persahabatan itu juga penting. Ayah tidak bisa memaksamu menuruti egoku, Nak." Sahut sang ayah yang terlihat cukup sedih. Mengingat apa yang telah diharapkan oleh sang ayah untuk menjadikan Adrian pendamping putrinya. Namun sepertinya semua itu akan sirna.


Sang Ayah yang sedikit tampak lesu, keluar dari kantor itu untuk menghampiri Adrian yang mulai akrab dengan pekerja-pekerja yang lainnya.

__ADS_1


Siska yang masih berada di dalam kantor, duduk termenung sembari memperhatikan Adrian dari kejauhan.


"Mas Adrian, maafkan aku... Sepertinya aku tak lagi bisa menutupi perasaan ini, sikapmu benar-benar meluluhkan hatiku. Mungkin aku butuh sahabat, akan tetapi aku juga butuh sosok laki-laki sepertimu Mas," Ucapnya lirih.


Meskipun dalam keadaan yang masih sangat bingung, Siska mencoba untuk mencari cara, agar bisa terus bersama dengan Adrian.


"Apa gue nyatain perasaan gue ke Mas Adrian ya?"ucapnya lirih sambil melihat langit-langit kantornya.


Disaat setengah melamun, tiba-tiba ponselnya berdering. Sontak Siska pun tersadar dari lamunannya itu.Diraihnya ponsel yang ada didepannya. Dan ternyata Michi yang menelepon.


"Bagaimana ini, gue harus jawab apa? Gak mungkin kan gue bilang kalau gue lagi pergi sama ayah. Pasti Michi bakal banyak tanya. Apa gue angkat dulu aja kali ya?" Bermonolog dengan dirinya sendiri.


Terlihat Siska sangat kebingungan, ketika melihat Michi meneleponnya. Siska mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terlalu terlihat gugup. Perlahan Siska menarik nafas dalam-dalam, menahannya sebentar dan membuang melalui hidungnya.


Beberapa kali Siska lakukan, untuk menjaga agar tetap tenang hatinya. Ponsel yang terus menyala, tanda ada panggilan masuk di ponselnya. Siska pun mengangkat telepon dari Michi.


"[Hallo, Bestie....]"


Siska lebih dulu menyapanya dengan gaya centilnya.


"Mampus gue," ucapnya lirih.


"[Apa Lo bilang Sis? Mampus?]"


"[Empus Michi, ini ada empus tetangga main ketempat gue.]"


Siska mencoba berkilah, agar Michi tidak curiga.


"[Halo... Sis...]"


"[Iya halo Michi, kayaknya kalau hari ini gue ada acara keluarga. Kata ayah mau berkunjung ke rumah saudara. Maaf ya....]"


"[Ya udah deh kalau gitu gak apa-apa Sis. Lain kali aja gue ke rumah Lo.]"

__ADS_1


"[Maaf ya bestie, bye bye]"


"[Oke, bye....]"


Ponselnya pun segera dimatikan, Siska membuang nafas setelah selesai obrolannya. Ada sesal dalam hatinya, tapi apa boleh buat. Tekadnya untuk mengejar cinta Adrian sepertinya sangat besar.


Terlebih melihat wajah kecewa sang ayah, sosok ayah yang selama ini sangat baik, Siska tak ingin melihatnya bersedih karena keinginannya yang tak tercapai.


Tak terasa hari yang semakin siang, jam istirahat pun tiba. Terlihat para pekerja yang mulai berjalan menuju gubuk karena sudah terdengar suara adzan Dzuhur.


Siska yang melihat Adrian berjalan bersama sang ayah, namun setelah diperhatikan disana tidak terlihat Dicky diantara mereka.


Kesempatan yang sangat bagus untuk Siska menunjukkan kepedulian terhadap Adrian. Dengan sigap semua bekal yang dibawa dari rumah pun dipersiapkan di meja yang ada di dalam kantor.


Semua pekerja terlihat sudah berada di dalam gubug untuk beristirahat. Yang tak lama dari itu Pak Sholeh masuk kedalam kantor, diikuti oleh Adrian di belakangnya.


"Wah... tumbenan anak ayah siapin makanan, tahu aja kalau sudah jam istirahat. Belajar jadi istri idaman ya Nak." Ledek sang ayah yang membuat Siska tersipu malu.


Pipinya yang mirip bakpao kini memerah seketika, karena menahan malu. Setelah sang ayah meledeknya.


"Ayah, sukanya gitu kan? Kuliah juga belum selesai, Siska belum mikirin soal itu, Yah. Siska masih mau fokus dengan kuliah, biar Ayah sama bunda bangga dengan Siska." Sambung Siska sambil melirik kearah Adrian yang berjalan disampingnya.


"Masa sih!! Gak takut kalau nanti diambil orang." Ledek Sang Ayah yang terkekeh melihat putrinya semakin salah tingkah di saat Adrian berjalan disamping Siska untuk cuci tangan di wastafel yang ada di dekat kamar mandi yang tak jauh dari meja disana.


Semua makanan yang disajikan adalah bekal yang dibawa dari rumah. Sengaja Siska membawanya karena dikantor tidak tersedia alat masak.


"Yah, Mas Dicky tidak ikut makan bareng disini," tanya Siska.


"Oh Dicky, dia biasa pulang kalau jam istirahat seperti ini. Kan rumahnya tidak jauh dari sini. Kenapa tanya Dicky, apa kamu suka sama Dicky?" tanya Pak Sholeh.


"Cuma tanya aja ayah..." jawab Siska.


Mereka bertiga sudah berkumpul di depan meja yang sudah tersedia makanan. Dengan lahapnya mereka bertiga menikmati hidangan yang sudah disajikan oleh Siska.

__ADS_1


Bersambung....


*** Mohon maaf ya, up terlambat.***


__ADS_2