Terlambat

Terlambat
Papa gue bilang gitu?


__ADS_3

Akhirnya selesai sudah materi Michi dan Siska hari itu. Michi yang teringat akan chat yang diterimanya dari Siska. Sebelum mereka pulang, mereka berdua mengobrol bersama di kantin yang ada di sekitar kampus tempat mereka menuntut ilmu.


"Sis, nanti kita ke kantin dulu yuk! Tadi Lo bilang, kalau Lo mau cerita ke gue kan?" Sambil terus mendesak Siska agar mau bercerita.


"Tapi kan gue tadi gak janji sama Lo Michi?" Kilahnya sambil berjalan keluar dari kelas.


Namun tak dibiarkan sedikitpun oleh Michi yang terus mengejar Siska yang terus berjalan.


"Jangan bikin gue penasaran dong Sis, Lo kan tahu kalau gue tuh gak suka di bikin kayak gini. Mau ya, cerita sama gue. Gini aja dech, gimana kalau Lo gue traktir makanan kesukaan Lo, tapi cerita sama gue. Gimana, setuju gak?" Tawar Michi demi mengorek informasi yang sampai sekarang membuatnya penasaran.


Dengan gaya sok imutnya, Siska sejenak berpikir tentang tawaran Michi. Dan setelah dipikir-pikir beberapa saat, Siska akhirnya menyetujui tawaran Michi. Karena ini kesempatan bagus untuknya makan gratis.


"Oke!! Deal ya? Tapi bener lho ini makanan kesukaan gue. Kalau gitu gue mau makan Bakso beranak Pak Man. Boleh 'kan?" Sambil tertunduk lesu, Michi pun berjalan menuju kantin milik Pak Man yang tak jauh dari kampus mereka.


Siska sengaja meminta makan bakso itu karena memang itu makanan favorit Siska, namun lain halnya dengan Michi yang bertolak belakang dengan Siska. Michi sama sekali tak menyukainya.


Tak lama dari itu mereka pun sampai di kantin milik Pak Man. Siska pun segera memesan satu porsi Bakso dan dua gelas es jeruk. Dan mereka berdua duduk di lantai yang beralaskan tikar. Sengaja mereka mencari tempat duduk yang sedikit dipojok . Alasannya tak lain agar orang-orang disana tidak mendengarkan obrolan mereka.


"Kita duduknya jauh amat Sis, gak sekalian Lo bawa pulang aja sekalian itu bakso." Ucap Michi sambil terus berjalan menuju meja yang ditunjuk oleh Siska.


"Entar kalo boleh, gue bungkus juga dech." sahut Siska sambil tertawa kecil.


Mereka pun duduk berdua di sudut ruangan itu. Sampai mereka dikira memiliki hubungan khusus karena saking dekatnya. Karena selain dekat, tak pernah sekalipun mereka berdua terlihat memiliki pasangan.


Sambil menunggu pesanannya, Siska pun memulai pembicaraan mengenai chat yang dikirimnya kepada Michi.

__ADS_1


"Sebelumnya gue minta maaf sama Lo, tapi gue juga masih cari informasi yang lain. Gue chat kayak gitu sama Lo. Karena tanpa sengaja gue kemarin denger Papa Lo baru telponan sama seseorang. Tapi, gue gak tahu pasti itu siapa?


"Emang Lo ketemu Papa gue dimana? Kok Lo bisa tahu kalau Papa gue telponan sama orang. Emang ngobrolin apaan?" Desak Michi terus menerus bertanya pada Siska.


Siska sebenarnya tak enak hati untuk menceritakan ini semua kepada Michi. Karena takut Michi akan tersinggung dan menjauhi dirinya.


"Chi, Lo janji jangan marah sama gue ya, kalau gue cerita ini ke Lo. Soalnya gue gak punya bukti kuat, ini cuma gue dengerin doang kemarin, gak gue rekam." Ucap Siska.


"Iya Sis, gue janji gak akan marah. Sekarang Lo jelasin ke gue, sedetail mungkin." Pinta Michi yang tak sabar mendengar penjelasan sahabatnya itu.


Tak lama dari itu, saat Siska mau bercerita tiba-tiba seorang pelayan datang membawakan seporsi bakso dan dua gelas es jeruk.


"Silahkan mbak," ucap pelayan itu dengan begitu ramahnya.


Setelah pelayan itu pergi, Siska melanjutkan obrolannya. Karena sepertinya Michi sudah tak sabar untuk menunggu.


"Jadi gini, kemarin gue pas pergi ke minimarket. Gak sengaja pas gue mau pulang, di cafe depan minimarket itu ada bapak-bapak duduk disitu. Pas gue intipin ternyata itu Papa Lo. Tapi, Papa Lo baru asyik telponan. Pas gue mau lanjut jalan,gue denger Papa Lo bilang gini."


"Saya minta kalian selesaikan perintah saya, jangan sampai gagal. Saya mau kalian rusak semua sayuran di kebun milik keluarga Suryo."


"Papa gue bilang gitu? Lo gak salah denger kan Sis, kenapa Papa gue bisa sejahat itu ya." Sambil tertunduk lesu memikirkan apa yang sudah dilakukan oleh Papanya.


"Gue yakin, gak mungkin salah denger, orang gue duduk dibelakang Papa Lo. Tapi Papa Lo gak lihat gue. Tadi kan gue dah bilang, Papa Lo sibuk telponan." Sahut Siska sambil melahap bakso pesanannya.


Michi terus melamun memikirkan jika semua apa yang dikatakan oleh Siska itu benar adanya. Sampai beberapa kali Siska memanggil Michi namun tak ada respon darinya.

__ADS_1


"Michi!! Lo kok diem aja. Lo kepikiran soal Papa Lo ya? Kalau boleh tahu, emang kenapa sampai gitu sih bisnis Papa Lo. Padahal setahu gue, dari cerita Ayah gue sih lebih tepatnya. Itu perusahaan 'kan punya Mama Lo? Tapi, kenapa Papa Lo yang sangat ambisius ya. Sampai segitunya sama pesaing bisnis." Ucap Siska, yang semakin membuat Michi merasa malu sama Siska.


"Gue juga gak tahu Sis, sebaiknya gue sekarang gimana ya, Sis? Apa gue ngomong sama Mama aja kali ya? Menurut Lo gimana, Sis?" Sahut Michi meminta saran kepada Siska.


Siska yang menikmati baksonya hampir saja tersedak, saat dimintain saran oleh Michi. Siska pun pura-pura tidak mendengarnya, karena dirinya sendiri bingung ingin berkata apa.


"Siska... ih, dimintain saran aja pura-pura gak denger Lo. Sengaja ya! Lo bilangnya bestie sama gue. Giliran dimintain saran aja, malah menghindar."


Dengan sedikit kesal, Michi ingin beranjak dari tempat duduknya. Namun Siska menahan Michi agar tidak meninggalkan dia dengan memegang tangannya.


"Lo mau kemana, gitu aja ngambeg kan? Gue bukan gak mau bantuin Lo Michi. Tapi kan Lo tahu sendirilah. Gue kan gak ngerti sama sekali soal kayak ginian." Terang Siska yang mencoba memberi pemahaman kepada Michi.


"Abisnya Lo gak mau bantuin gue, sekarang tuh gue minta Lo kasih saran sama gue. Gue harus gimana sekarang?"


Michi tak menyangka Papanya bisa Setega itu kepada keluarga Pak Suryo. Yang ternyata sayuran yang gagal panen itu ternyata ulah dari Papanya.


Dalam hatinya berkata, " Bagaimana jika Mas Adrian tahu, jika kebun sayur miliknya itu rusak karena Papa. Pasti Mas Adrian akan sangat membenciku."


"Michi, Lo mikirin apaan. Lo tadi minta gue kasih saran ke Lo 'kan? Kalau gue sih nyaranin Lo, buat cari tahu dulu siapa yang Papa Lo suruh. Atau, kalau gak Lo tanya aja sama Mama Lo dulu." Ucap Siska dengan yakinnya.


Michi sejenak terdiam mempertimbangkan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Dan setelah dipikir pikir Michi pun akan mencoba untuk mengobrol dengan sang Mama.


"Ya udah Sis, mumpung Papa jam segini belum pulang dari kantor, sekarang aja kita pulang." Ajak Michi yang segera menyudahi obrolannya.


Michi pergi ke kasir untuk membayar bakso dan minuman yang dipesannya. Yang tak lama dari itu diikuti oleh Siska dibelakangnya. Mereka pun bergegas pulang.

__ADS_1


__ADS_2