Terlambat

Terlambat
Jodoh gue, pacar sahabat gue.


__ADS_3

Didalam perjalanan menuju rumah Pak Sholeh, Adrian tampak sangat murung. Bahkan tak banyak perkataan sepanjang perjalanan. Pak Sholeh yang melihatnya pun merasa tak enak dengan Adrian. Karena Pak Sholeh berfikir, Adrian seperti itu karena perjodohan.


"Mas Adrian, bapak perhatikan dari tadi kok murung seperti itu. Masalah rencana perjodohan itu tadi tidak usah terlalu difikirkan. Anggap saja itu hanya obrolan biasa." Mencoba untuk menenangkan hati Adrian yang sepertinya sedang tidak mood.


"Maaf Pak sebelumnya. Jujur, memang hari ini Adrian memang sedang banyak pikiran. Tapi yang saya bingung, mengapa Pak Sholeh bisa secepat ini berniat menjodohkan putri bapak dengan saya. Sedangkan saya..." ucap Adrian yang tak melanjutkan ucapannya.


Pak Sholeh yang sedang mengemudi, segera menepikan mobilnya. Dan memberi jawaban, alasan mengapa dirinya bisa secepat itu menjodohkan putrinya.


"Sedangkan apa? Mas Adrian minder, karena hanya lulusan SMA, terus belum memiliki pekerjaan. Itu kan yang ingin mas Adrian ucapkan tadi. Bagiku itu semua itu nomer sekian-sekian. Tapi mencari lelaki dengan kepribadianmu ini sangat jarang ditemui. Saya suka dengan orang sepertimu. Dan saya yakin, putri saya mau." Jelas Pak Sholeh, kembali men starter mobilnya untuk melanjutkan perjalanan.


Akhirnya setelah beberapa menit perjalanan sampailah Adrian dirumah Pak Sholeh. Yang ternyata rumah yang dituju bukanlah alamat yang dituju sebelumnya.


Jalanan menuju rumah itu tidaklah asing bagi Adrian, yang ternyata setelah diingat- ingat rumah Pak Sholeh memang searah dengan rumah Michi.


"Adrian, ayo masuk dulu. Sepertinya putri bapak sudah pulang. Jadi bisa sekalian kenalan dengan Mas Adrian. Apa Mas Adrian keberatan?" tanya Pak Sholeh.


"Iya, baik Pak,tidak apa-apa kok Pak." Jawab Adrian yang tampak grogi berjalan menuju teras rumah dan duduk disana menunggu putrinya datang menemui.


Pak Sholeh mempersilahkan Adrian duduk di kursi teras rumah. Sedangkan Pak Sholeh masuk kedalam rumah untuk memanggil putrinya.


"Assalamualaikum."


"Sayang... Bunda..."


Terus memanggil istri dan anaknya yang tak kunjung keluar menghampiri. "Pada kemana sih?" batinnya.


"Sayang... Bunda..." panggilnya lagi.

__ADS_1


"Iya Ayah," jawab seorang wanita yang keluar dari kamar yang tak lain adalah putri Pak Sholeh.


"Bundamu mana? Dari tadi ayah panggil-panggil kok tidak jawab. Lagi ngapain memang. Sibuk ngerjain tugas atau cuma mainan handphone." Tanya Pak Sholeh.


"Kurang tahu juga yah, dari tadi sepi kok. Memangnya ada apa yah? Tumben nyariin bunda. Kangen ya..." goda si anak perempuan pada ayahnya.


Lagi-lagi acara pergi ke Boyolali kembali terhambat, karena ternyata istri Pak Sholeh tidak ada di rumah. Untuk menunggu sang istri kembali, Pak Sholeh meminta putrinya untuk membuat dua cangkir teh.


"Sayang, tolong buatin minum dua ya. Tapi gulanya sedikit saja, jangan banyak-banyak. Oh ya, didepan ada seseorang yang mau ayah kenalin sama kamu. Semoga kamu suka yan sayang." Ucap sang ayah yang bergegas kedepan untuk menemani Adrian.


"Apa jangan-jangan ayah beneran menjodohkan ku. Hanya gara-gara sejak sekolah sampai sekarang tidak pernah ada temen cowok yang datang kerumah." Ucapnya lirih.


Maklum saja, dirumah selain sang bunda, dirinya termasuk anak gadis yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya. Sejak kecil mendapatkan kasih sayang yang tidak pernah kurang sedikitpun. Namun meski begitu, dirinya tidaklah memanjakan diri.


Akan tetapi karena rasa penasaran, si anak gadis itu pun segera pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman. Dan setelah minuman itu selesai dibuatnya, si anak gadis hendak membawakan minuman ke teras rumah.


Perlahan-lahan si anak gadis berjalan mengantarkan minumannya. Sesampainya di sana dengan senyum manisnya si anak gadis itu menyajikan minumannya diatas meja.


Awalnya putri Pak Sholeh tidak begitu memperhatikan laki-laki yang duduk bersama sang Ayah. Setelah meletakkan minuman, putri Pak Sholeh sedikit melihat kearah laki-laki yang sedang duduk bersama ayahnya.


Disaat melihat putri Pak Sholeh, awalnya Adrian tak begitu memperhatikannya. Namun setelah melihatnya, Adrian merasa tidak asing dengan anak gadis yang ada di depannya.


Adrian mengingat-ingatnya, dan barulah Adrian sadar jika ternyata dia adalah Siska teman kuliah Michi.


"Kamu duduk disini sebentar Nak, ada yang mau ayah bicarakan denganmu." Pinta Pak Sholeh.


"Iya Yah," jawabnya menuruti perintah sang Ayah dengan wajah yang tampak malu. Namun tak dimungkiri Siska juga sesekali curi-curi pandang padanya.

__ADS_1


Tanpa basa-basi lagi, Pak Sholeh dengan santainya berbicara pada Siska tentang rencana perjodohannya dengan Adrian.


Siska yang mendengarnya pun sangat terkejut, bagaimana bisa sang Ayah membuat keputusan seperti itu tanpa ada pembicaraan apapun sebelumnya.


Memang dari tampilan Adrian hampir sempurna, berbadan tinggi, kulit putih, pinter, apalagi hidungnya yang begitu mancung.


"Kalau dari awal tahu dijodohin sama nih cowok, gue gak bakal nolak." Batin Siska.


"Ini namanya Mas Adrian, orang yang pernah bantuin Ayah waktu mobil ayah mogok. Dan kebetulan ayahnya Mas Adrian ini partner bisnis Ayah." Terang Pak Sholeh pada Siska.


Adrian masih tak menyangka jika orang yang dijodohkan dengan dirinya ternyata sahabat Michi. Sahabat dari orang yang sangat dia harapkan untuk menjadi pendamping hidupnya


Yang tak lama dari itu, sang ayah meminta ijin untuk kebelakang. Mereka berdua terlihat sangat canggung. Mereka berdua hanya duduk mematung tanpa ada pembicaraan apapun sampai sang ayah kembali duduk bersama mereka.


"Kalian kenapa? Kok ayah perhatikan dari tadi kalian diam-diam saja. Ngobrol dong, biar kalian bisa lebih akrab." Ucap sang ayah.


"Yah, Siska masuk kedalam dulu ya. Masih ada tugas kuliah yang belum selesai. Mari Mas Adrian," ucap Siska dengan segera beranjak dari duduknya dan bergegas masuk kedalam rumahnya.


Adrian hanya menganggukkan kepalanya. Karena masih tak menyangka, ternyata anak Pak Sholeh itu Siska.


"Maaf ya Mas Adrian, Siska memang pemalu, apalagi dengan orang yang baru saja dikenal. Jadi bagaimana menurut Mas Adrian, semoga setelah ini Mas Adrian bisa segera memberi keputusan ya?" Ucap Pak Sholeh.


"I-iya Pak, insyaallah ya Pak." Jawab Adrian yang sebenarnya masih bingung.


Siska yang saat ini berada didalam kamarnya. Masih tak menyangka, laki-laki yang dikenalkan oleh ayahnya adalah pacar sahabatnya sendiri. Siska berjalan kesana-kemari memikirkan apa yang harus dia lakukan. Tapi dalam hati kecilnya, Siska tidak menolak jika memang Adrian yang dipilih oleh Tuhan untuk dirinya.


"Sekarang gue harus bagaimana? Apa sebaiknya gue ngomong sama Michi. Tapi, kalau gue ngomong soal ini ke Michi. Pasti disangkanya gue menikung sahabat gue sendiri. Tapi kalau dipikir-pikir ganteng juga tuh cowok. Pantesan Michi gak bisa ninggalin dia. Masa iya, jodoh gue pacar sahabat gue." Bermonolog dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sudahlah, aku mengikuti apa yang menjadi rencana Tuhan," imbuhnya.


__ADS_2