
Pagi hari di rumah Andika yang tengah sibuk dengan laptop miliknya. Pak Andika yang terkenal dengan orang yang pekerja keras dan disiplin kerja. Tak heran jika pagi itu sudah mulai terlihat di ruang kerjanya duduk didepan laptopnya.
Tak lama dari itu sang istri tercinta pun datang untuk mengantarkan secangkir kopi dan pisang goreng kipas kesukaannya.
"Pa, ini kopinya." Sambil meletakkan kopinya di meja tempat kerja suaminya.
"Iya Ma, terimakasih ya Ma." Sahut Pak Andika yang masih sibuk dengan laptopnya.
Setelah selesai meletakkan minumannya, Bu Ayu duduk menemani sang suami yang begitu sibuk. Sampai-sampai tak memperhatikan istrinya yang duduk berada di kursi yang ada di belakangnya.
Jika sudah didepan laptopnya, Pak Andika sampai tak sempat untuk membuka pesan yang masuk di ponselnya. Sang istri yang masih setia menemaninya, sesekali mencoba untuk mengingatkan suaminya untuk membuka ponselnya yang terus berbunyi.
Terlihat sebuah notifikasi yang muncul dilayar ponselnya. Ponsel yang kebetulan sedang di charger didekat kursi dimana sang istri sedang duduk. Tanpa sengaja sang istri melihat isi pesan dari notifikasinya.
"Pa, ini ponselnya dari tadi bunyi terus lho. Coba Papa lihat dulu. Barangkali ada chat yang penting. Mungkin dari kantor," ucap Bu Ayu sambil mengintip ponsel suaminya yang ada didekatnya.
"Nanti saja Ma, kerjaan Papa kurang sedikit lagi. Coba lihat Ma, siapa yang chat Papa. Sebutin namanya saja," Sahut suaminya yang masih fokus dengan laptopnya.
Istrinya menuruti perkataan sang suami, satu persatu nama-nama orang yang chat di ponsel suaminya dibacakan. Karena kebetulan ponsel suaminya tidak dikunci dengan sandi.
"Ada Pak Joko kantor, Deta sekretaris, Wiwid, dan yang terbaru namanya Bang Kohar." Ucap Bu Ayu membacakan nama orang yang mengirim chat pada Pak Andika.
Seketika Pak Andika beranjak dari depan laptopnya ketika mendengar istrinya menyebutkan nama Bang Kohar. Dengan sigap Pak Andika mengambil ponsel yang dibawa istrinya. Meskipun masih banyak chat yang lain, sengaja sang istri membaca chat baru masuk.
Melihat tingkah yang aneh membuat Bu Ayu semakin menaruh curiga kepada sang suami.
__ADS_1
"Papa kenapa? Kan bisa pelan-pelan minta ponselnya. Sebenarnya siapa Bang Kohar itu Pa?" tanya Bu Ayu.
"Bu-bukan siapa-siapa kok Ma, itu hanya teman lama Papa." Jawab Pak Andika mencoba untuk mencari alasan.
Akan tetapi karena Bu Ayu bukan tipe orang yang mudah ditipu. Bu Ayu terus mendesak suaminya untuk berkata jujur. Namun suaminya tetap bersikukuh bahwa orang yang bernama Kohar itu hanya temannya. Namun tidak dengan mudah Bu Ayu mempercayainya.
"Mama tidak masalah! Kalau Papa memang tidak mau berkata jujur apa adanya. Biar Mama cari tahu sendiri siapa Kohar itu." Ucapnya sambil bergegas berjalan meninggalkan suaminya.
Tentu Andika tidak membiarkan istrinya pergi begitu saja. Andika mencoba meraih tangan istrinya untuk menahannya agar tidak pergi. Sekuat tenaga istrinya melawan, namun karena sang istri yang berbadan lebih kecil dari Andika, Bu Ayu akhirnya kalah, bahkan suaminya mengancam akan membongkar semua rahasia yang selama ini disimpan dari Michi.
Sambil mencengkram lengan istrinya Pak Andika berkata, "Mama tidak perlu ikut campur dengan urusan Papa. Kalau Mama berani macam-macam, Papa pastikan semua rahasia Mama akan Papa bongkar didepan Michi."
"Apa maksud Papa bicara seperti itu, Mama janji tidak akan ikut campur lagi dengan urusan Papa. Tapi, Mama mohon jangan ceritakan kepada Michi." Kata Bu ayu yang terus memohon kepada Andika suaminya.
"Papa tidak akan mengatakan semuanya kepada Michi, tapi Mama juga harus tandatangan berkas-berkas ini." Sambil menyodorkan beberapa lembar kertas yang diatasnya sudah tertempel materai.
Namun karena terus dipaksa, akhirnya tanpa membaca apa isi dari lembaran kertas itu, dengan terpaksa Bu Ayu menandatangani.
"Hahaha! Akhirnya, kini semua aset milik Mama sudah berpindah menjadi milikku. Mama tenang saja, setiap bulan Mama masih mendapatkan bagian keuntungan dari perusahaan ini. Sesuai dengan isi dari surat pernyataan yang sudah Mama sepakati dalam kertas ini," Tandasnya sambil terus tertawa dengan kertas yang dipegangnya.
"Apa!! Jadi maksud Papa..." berhenti sejenak karena tak kuasa menahan tangisnya.
"Iya! Semua aset Mama mulai sekarang sudah menjadi milikku. Jadi Mama tidak lagi memiliki hak milik aset perusahaan." Sahutnya sambil terus melihat kearah sang istri yang terduduk lesu dengan berlinangan air mata.
Bu Ayu tak pernah menyangka, ternyata selama ini suaminya memiliki rencana yang sangat jahat. Tak pernah sedikitpun terbesit dalam pikirannya jika suaminya akan tega berbuat seperti ini.
__ADS_1
"Bagiamana pun caranya, aku harus bisa mendapatkan kembali semua aset yang sudah Papa ambil secara paksa." Ucapnya dalam hati.
Tak lama dari itu Bu Ayu keluar dari ruang kerja suaminya. Dengan mata yang sembab, Bu Ayu terus berjalan menuju kamarnya.
Sebelum menuju kamar, Bu Ayu melihat ke kamar putrinya. Dari ruang kerja terlihat pintu kamar sedikit terbuka. Perlahan Bu Ayu berjalan untuk melihatnya.
"Kenapa pintu kamar Michi terbuka ya? Semoga saja dugaanku ini salah. Semoga Michi tidak mendengar apa yang Papa katakan tadi." Sambil terus berjalan dan perlahan pintu kamar dibukanya.
Begitu terkejutnya Bu Ayu yang melihat isi dikamar yang ternyata tidak ada siapapun didalamnya. Bu Ayu semakin panik, berfikir jika putrinya pergi dari rumah lantaran mendengar perkataan orang tuanya.
"Michi. Michi sayang.... Kamu dimana Nak?" Sambil terus melihat di seluruh ruang kamarnya.
Melihat putrinya tidak ada didalam kamar, sambil berjalan menuju teras rumah, Bu Ayu memanggil Inem, Ijah, dan juga Handoko. Dengan cepat mereka datang dihadapan Bu Ayu. Satu per satu mereka ditanya.
"Iya Nyonya, ada apa Nyonya memanggil saya?" tanya Inem sambil tertunduk diam dihadapan Bu Ayu.
Tak lama dari itu Ijah dan Handoko yang datang bersamaan.
"Maaf, ada apa ya Nyonya memanggil saya," ucap mereka berdua secara bersamaan.
"Apa kalian semua tahu, kemana Michi pergi. Baru saja saya dari kamar Michi. Tapi di dalam sama sekali tidak ada Michi. Apa diantara kalian ada yang tahu kemana perginya Michi?" Tanya Bu Ayu yang tampak sangat khawatir.
Mereka bertiga tidak satupun berani menjawab. Hanya sesekali mereka mendongak melihat Bu Ayu.
Bu Ayu meminta Ijah dan Inem untuk mencari di seluruh sudut rumahnya. Karena sangat terlihat Bu Ayu begitu menghawatirkan putrinya.
__ADS_1
"Bi Ijah, inem saya minta kalian cari Michi di semua isi rumah ini." Perintah Bu Ayu yang membuat kedua wanita itu bergegas pergi dari hadapan Bu Ayu.
"Pak Handoko, saya pinta bapak jawab dengan jujur. Bapak orang yang selalu berada di depan rumah. Apa bapak tahu Michi sekarang ada dimana?" Desak Bu Ayu pada Pak Handoko.