
Cuaca siang hari yang begitu panas, Adrian tak kenal kata lelah. Dalam perjalanan menuju tempat Pak Jafar, Adrian tiba-tiba teringat dengan kata-kata hinaan yang dilontarkan oleh Pak Andika.
Meskipun keluarganya mendapatkan bantuan dana dari Andika, tak membuatnya merasa berhutang budi dengan keluarga Andika. Justru dengan hinaannya, Adrian semakin optimis untuk berusaha menunjukan bahwa dirinya bisa sukses.
"Aku harus mendapatkan pekerjaan ini, entah bagaimana caranya. Aku harus bisa!" ucapnya dalam hati.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya sampailah Adrian di depan toko milik Pak Jafar. Dari luar toko, terlihat seseorang yang duduk didekat meja. Yang ternyata itu adalah Pak Jafar yang sedang memeriksa barang pesanan.
"Assalamualaikum."
Sambil memarkirkan sepeda motornya didepan toko pertanian miliknya.
"Wa'alaikumsalam, eh Adrian. Sini masuk, duduk sini." Ucap Pak Jafar dengan ramahnya menyambut kedatangan Adrian.
Mereka berdua saling berjabat tangan, Pak Jafar mempersilahkan Adrian duduk dikursi yang ada di depan toko.
"Silahkan duduk Mas Adrian," ucap Pak Jafar menunjuk ke kursi yang ada didepannya.
"Iya Pak, terimakasih." Jawab Adrian sambil berjalan ke arah kursi yang ada.
Pak Jafar pun tanpa basa-basi segera menanyakan maksud dari kedatangan Adrian, namun tak lupa Pak Jafar kembali mengucapkan terimakasih atas pertolongan yang diberi oleh Adrian.
"Terimakasih ya Mas Adrian untuk bantuan tadi. Oh ya, ngomong-ngomong ada keperluan apa sampai Mas Adrian datang kesini." Tanya Pak Jafar.
"Iya sama-sama Pak, sebelumnya saya minta maaf Pak. Sudah mengganggu waktu istirahat Pak Jafar. Saya kesini sebenarnya mau bertanya sama Bapak. Apa disini ada lowongan pekerjaan Pak. Tapi saya hanya lulusan SMA." Terang Adrian dengan jujur.
"Apa kamu serius ingin bekerja disini, kebetulan saya butuh karyawan, tapi tidak untuk disini. Tapi, kalau Mas Adrian ingin bekerja disini disini sudah penuh Mas. Kalau Mas Adrian mau saya tempatkan di luar kota, mungkin hari juga saya terima Mas Adrian dan hari ini juga akan saya antar kesana," ucap Pak Jafar.
Sejenak Adrian berfikir, meski sempat ada keraguan, namun Adrian tak ingin melewatkan peluang ini, setelah dipikir-pikir beberapa saat akhirnya, Adrian bersedia untuk ditempatkan diluar kota. Karena ternyata usaha sayuran ini tak hanya di Wonosobo saja.
"Saya bersedia untuk ditempatkan dimana saja Pak, kalau boleh tahu saya mau ditempatkan dimana ya Pak?" tanya Adrian dengan sangat tegasnya.
"Kalau Mas Adrian setuju untuk ditempatkan diluar kota, Mas Adrian akan saya tempatkan di Boyolali. Disana Mas Adrian bisa sekalian belajar untuk belajar bertani sayur." Ucap Pak Jafar yang seketika membuat Adrian lebih bersemangat.
Dengan mengucap rasa syukur, akhirnya Adrian mendapatkan pekerjaan. Akan tetapi, sebelum berangkat ke Boyolali Adrian terlebih dulu meminta ijin kepada Pak Jafar untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Maaf Pak, kalau saya pamit ibu dan bapak saya dulu apa boleh?" tanya Adrian.
"Oh tidak masalah, memangnya Mas Adrian rumahnya mana? Biar bapak antar sekalian silaturahmi sama orang tua Mas Adrian." Ucapnya.
"Apa tidak merepotkan Pak, rumah Adrian lumayan jauh dari sini Pak. Bapak tunggu disini saja tidak apa-apa, lagipula Adrian bawa sepeda motor sendiri Pak." Balas Adrian.
Pak Jafar tak menghiraukan perkataan Adrian. Dengan segera Pak Jafar mengambil kunci mobilnya dan meminta Adrian menjadi petunjuk jalan ke rumahnya.
"Ayo Mas Adrian, saya berjalan dibelakang mengikuti Mas Adrian saja." Ucapnya sambil melangkah berjalan menuju mobilnya.
Tak ada penolakan sedikitpun dari Adrian, akhirnya mereka pun bergegas berjalan menuju rumah Adrian.
****
Michi bersama dengan Siska akhirnya sampai di kampus. Mereka sedikit berlari untuk masuk ke kelas. Karena dari kejauhan terlihat dosen pengajarnya sudah berjalan menuju kelas.
"Ayo Sis, buruan kita masuk. Kamu lama banget sih jalannya, keburu Mr.Bean sampai kelas." Ajak Michi.
"Iya bentar Michi, Lo buru-buru amat sih. Dah tenang aja, biar gue yang tanggungjawab sama Mr.Bean." Jawab Siska.
"Lo bener-bener gila ya Sis, ngajakin gue berantem Lo?" Dengan napas yang masih tersengal-sengal.
"Hahahaha, baru lari segitu aja Lo udah bengkek." Ledek Siska.
Tak lama dari itu dosen pengajarnya pun sudah memasuki kelas. Michi dan Siska mengatur nafasnya agar lebih rileks. Mereka terlihat cukup gugup. Bahkan Siska tak mampu menahan tawa saat sang dosen mulai mengajar.
"Eh Michi,itu dosen favorit Lo kan? Tuh dosen 'kan seneng banget godain Lo. Pantes aja Lo gak pernah dapet nilai jelek. Hahahaha." Ledek Siska.
"Apa sih Sis! Lo seneng banget ledekin gue. Lo jangan berisik, entar kita bisa kena skorsing." Pinta Michi pada Siska.
Siska yang masih terus berbicara, tanpa disadari ada sang dosen yang sudah berada didekatnya.
"Siska!!"
Panggil sang dosen, seketika membuat Siska tertunduk diam tanpa menjawab sepatah katapun.
__ADS_1
Sang dosen memberi pilihan kepada Siska, untuk memilih duduk berjauhan dari Michi atau keluar dari kelasnya. Siska pun dengan terpaksa memilih untuk menjauh dari tempat duduk Michi.
****
Pak Jafar dan Adrian akhirnya sampai juga di rumah. Pak Jafar awalnya sama sekali tidak tahu bahwa rumah yang dituju adalah rumah Pak Suryo.
Dari dalam rumah keluar seorang bapak-bapak yang tak asing bagi Pak Jafar. Begitu sampai dihalaman rumahnya, Pak Jafar terkejut melihat seseorang yang ada disana ternyata Pak Suryo.
"Lho? itu kan Pak Suryo! Mas Adrian ternyata tetanggaan sama Pak Suryo." Ucap Pak Jafar sambil menunjuk seseorang yang sedang berjalan didepan rumah Adrian.
"Pak Jafar kenal dengan Bapak saya?" tanya Adrian.
"Bapak!! Jadi Pak Suryo itu... "Pak Jafar tidak melanjutkan ucapannya.
Adrian melanjutkan ucapan Pak Jafar yang sempat terhenti.
"Pak Suryo itu bapak saya Pak?" Sahut Adrian.
"Kenapa Mas Adrian tidak bilang, kalau Mas Adrian ini putranya Pak Suryo. Beliau ini orang yang bapak temui, meski tadi terjadi kendala dijalan." Terang Pak Jafar.
"Oh, ternyata bapak sudah kenal dengan Pak Jafar. Sepertinya bapak sudah menjalin kerjasama dengan Pak Jafar." Batin Adrian.
Adrian hanya membalas dengan senyumannya. Karena dia juga sama sekali tidak tahu, jika ternyata sang bapak sudah lebih dulu mengenal Pak Jafar.
"Assalamualaikum Pak, Adrian pulang?" Ucap Adrian yang tak pernah lupa selalu mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam Nak, lho kok ada Pak Sholeh juga. Silahkan masuk sini Pak," pinta Pak Suryo yang langsung menyambut dengan saling berjabat tangan.
Pak Suryo mempersilahkan Pak Sholeh masuk kedalam rumah, mereka terlihat sudah sangat akrab. Bahkan mereka melanjutkan untuk mengobrol banyak hal.
"Saya baru tahu lho, kalau Pak Suryo itu punya anak laki-laki. Saya salut dengan putra bapak.Anaknya sopan, ramah, ganteng, selain itu juga pinter." Ucap Pak Jafar.
"Ah! Pak Sholeh terlalu berlebihan, Adrian ya gitu-gitu aja Pak. Hehehe." Sahut Pak Suryo.
Tanpa ada obrolan yang serius, tiba-tiba Pak Jafar berkata, "Saya punya anak perempuan lho Pak, sepertinya sama seumuran dengan putra Bapak, sepertinya lebih dari sekedar partner bisnis boleh juga Pak?"
__ADS_1
"Maksudnya bagaimana ya Pak Jafar, saya belum faham maksud dari ucapan Pak Jafar?" tanya Pak Suryo yang masih sedikit berpikir.