
Kedatangan Pak Jafar membuat Bu Murni sangatlah panik, karena Bu Murni belum tahu, jika suaminya sudah menjalin kerjasama dengannya.
"Pak, ini siapa Pak?" tanya Bu Murni dengan berbisik kepada Pak Suryo.
"Oh iya, bapak sampai lupa belum ngobrol sama ibu. Tadi itu semua bibit yang bapak bawa itu tidak beli Bu. Itu semua diberi sama Pak Sholeh. Sekarang bapak menjalin kerjasama dengan beliau."Jelas Pak Suryo.
"Iya Bu, jadi saya memang sengaja mencari orang-orang lokal yang memang ingin berkembang bersama Bu. Dan kebetulan beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan Pak Suryo, dan kami membuat kesepakatan, bisa dibilang kerjasama." imbuh Pak Jafar menjelaskan kepada Bu Murni.
Bu Murni terlihat sangat senang mendengarnya. Akhirnya usaha yang dijalankan oleh keluarganya tidak terhenti begitu saja.
"Alhamdulillah, terimakasih Pak Sholeh, sudah percaya dengan kami sehingga kami dapat mengembangkan usaha keluarga. Semoga saja kali ini usaha kami bisa berhasil." Ucap Bu Murni yang terlihat sangat bahagia.
Mengetahui orang yang datang adalah rekan bisnis sang Bapak, Bu Murni pun segera bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan air minum.
Diruang tamu, disana mereka terlihat sangat akrab. Canda dan tawa mengisi seluruh ruangan. Yang tak lama dari itu Adrian ikut duduk bersama dengan Pak Jafar dan sang Bapak.
"Baru kali ini saya melihat Bapak tertawa lepas seperti itu, apa sih yang membuat bapak bisa terlihat sebahagia itu." Batin Adrian sambil berjalan mendekat untuk ikut duduk bersama disana.
"Sini Adrian, bapak mau tanya serius sama kamu." Panggil Pak Suryo meminta agar Adrian duduk di sebelahnya.
Adrian pun dengan santai berjalan dan duduk disamping sang ayah. Yang tak lama Bu Murni juga berjalan sambil membawa minuman dengan nampannya yang sudah disiapkan.
"Ada apa bapak memanggil Adrian," tanya Adrian yang saat ini sudah duduk disamping sang Bapak.
Adrian sendiri sebenarnya juga ingin meminta ijin kepada kedua orang tuanya untuk pergi bekerja bersama dengan Pak Jafar.
"Sini ngobrol bareng, kebetulan ada beberapa hal yang akan kita bahas dengan Pak Sholeh." Dengan semangatnya Pak Suryo ingin anaknya ikut serta duduk bersama dengan ibunya juga.
__ADS_1
"Ini Pak silahkan diminum, mohon maaf cuma ada air minum dan singkong goreng saja." Ucap Bu Murni sambil meletakkan secangkir teh dan sepiring singkong goreng.
"Iya Bu , terimakasih. Jadi ngerepotin ini." Ucapnya.
Dikarenakan mereka hidup dalam kesederhanaan, Bu Murni hanya mampu menyuguhi secangkir teh panas dan singkong goreng yang kebetulan Pak Suryo mengambilnya dari kebun.
"Ayo silahkan diminum Pak Sholeh, maklum Pak, maaf adanya hasil kebun yang bisa kami sediakan." Dengan sedikit malu mempersilahkan Pak Sholeh untuk menyantap sajian yang ada.
"Pak Suryo jangan seperti itu, meski pekerjaan berkebun. Tapi Alhamdulillah masih ada rejeki 'kan Pak? Justru saya suka makanan tradisional seperti ini. Di Kota jarang saya temukan Pak."
Dengan lahapnya Pak Sholeh menikmati singkong goreng yang di sajikan oleh Bu Murni. Tak lupa Pak Sholeh pun mulai membicarakan perihal tentang Adrian yang akan bekerja, sambil menikmati hidangan yang ada.
"Oh ya Pak Suryo, sambil kita melanjutkan obrolan yang tadi. Sebenarnya kedatangan saya kesini bertujuan untuk memintakan ijin Mas Adrian. Hari ini rencana saya mau melihat kebun yang ada di Boyolali." Ucap Pak Sholeh yang mengawali pembicaraan.
Kedua orang tua Adrian yang mendengarnya pun berpikir sejenak sambil melihat ke arah Adrian yang duduk disamping sang bapak.
"Apa yang dikatakan Pak Sholeh ini benar, Nak?" tanya Pak Suryo kepada Adrian yang sepertinya ada sesuatu yang ingin diucapkan oleh Adrian.
Meskipun dengan berat hati untuk meninggalkan kedua orang tuanya. Namun keputusan Adrian sudah sangat bulat. Karena ingin membuktikan kepada keluarga Michi. Bahwa dirinya akan sukses dan akan meminang Michi.
Melihat semangat yang dimiliki Adrian, Pak Suryo tak ingin menghalangi keinginan putranya. Apalagi mengingat anaknya yang dihina kala itu. Pak Suryo hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk putranya.
"Apa kamu yakin, Nak?" Tanya Bu Murni memastikan lagi kepada Adrian.
Sebenarnya, Adrian tak tega juga ketika melihat sang Ibu yang tampak sedih mendengar anaknya yang akan pergi untuk bekerja.
"Apa tidak membantu bapak saja Nak," pinta Bu Murni dengan harapan anaknya mau membantu Pak Suryo mengelola kebun miliknya.
__ADS_1
"Sebenarnya Adrian mau membantu bapak, tapi Adrian ingin mencoba mencari pengalaman Bu, semoga dengan bekerja di tempat Pak Jafar, Adrian memiliki banyak ilmu yang bermanfaat Bu."
Dengan raut wajah yang tampak begitu sedih, Adrian menjelaskan niatnya kepada sang ibu. Didepan sang ibu Adrian mencoba untuk tetap tegar, karena tak ingin melihat ibunya bersedih.
Wajar saja sang ibu sedih mendengar putranya yang akan pergi merantau untuk bekerja. Namun karena sang ibu juga tak ingin menjadi penghalang kesuksesan putranya, Bu Murni mencoba untuk mengijinkan putranya untuk pergi merantau.
"Maaf ya Bu, Adrian hanya tidak ingin melihat keluarga kita di remehkan dan selalu direndahkan orang lain." Batin Adrian.
"Jadi bagaimana Pak, Bu. Apa Adrian diijinkan untuk pergi bersama dengan saya siang ini?" tanya Pak Sholeh kepada kedua orang tua Adrian.
"Apa ini tidak terlalu cepat Pak," jawab Bu Murni yang tampak terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Pak Sholeh.
Pak Sholeh hendak menjelaskan semuanya kepada kedua orang tua Adrian, hari ini Adrian diajak pergi bareng karena sekalian Pak Sholeh yang ingin pergi meninjau lokasi yang ada di Boyolali.
Dikarenakan Pak Suryo sudah menjalin kerjasama dengan Pak Sholeh. Kemungkinan penempatan kerja Adrian akan disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
"Mungkin di Boyolali Mas Adrian tidak terlalu lama Bu, Pak. Mungkin hanya belajar dasar saja disana. Kurang lebih paling cepat 3 bulan, dan paling lama 6 bulan untuk belajar dasar perkebunan." Terang Pak Sholeh agar Bu Murni tidak terlalu menghawatirkan Adrian.
"Waktu segitu sebenarnya juga lumayan lama juga Pak. Pasti nanti kami akan sangat kangen sama Adrian. Tapi, demi kesuksesan Adrian, kami akan belajar ikhlas melalui hari-hari tanpa Adrian."
Bu Murni menjawab dengan sedikit mengiba, dengan harapan putranya tak melanjutkan untuk pergi bersama Pak Sholeh.
Akan tetapi, semua itu hanyalah sia-sia. Karena Adrian nampaknya bertekad untuk menjadi orang yang sukses. Terlebih teringat dengan kata-kata yang diucapkan oleh keluarga Andika.
Dan akhirnya setelah beberapa saat mereka mengobrol dengan kedua orang tuanya. Mereka menyetujui permintaan Adrian untuk pergi ke Boyolali.
"Nanti setelah Dzuhur kita berangkat ya Mas Adrian," ajak Pak Sholeh.
__ADS_1
Adrian menganggukkan kepalanya yang menandakan dirinya bersedia untuk pergi bersama. Namun hal mengejutkan terjadi, saat Pak Sholeh menanyakan tentang perjodohan Adrian dengan putrinya.
Seketika Bu Murni dan Adrian pun tercengang mendengarnya.