
(Maaf Tante, untuk saat ini Vania tidak mempunyai uang. Sekali lagi maaf).
Vania dengan berani mengirimkan pesan tersebut untuk Erin.
Vania kemudian memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya dan memilih untuk beristirahat.
Sementara di toilet restoran, tempat di mana sebelumnya Erin menghubungi Vania. Terlihat Erin marah-marah karena ponsel Vania tidak dapat dihubungi.
"Mom..."
"Salsa.."
"Mom sedang apa di sini dan kenapa Mama terlihat marah-marah. Mama pada siapa?"Pekik Salsa.
"Itu lo, anu..."
"Kak Abimanyu sudah membayar tagihan makanan kita, lebih baik sekarang kita pulang"
"Maafkan Mama ya, Mama itu lupa kalau ternyata uang mama itu dipinjam sama si Ratih. Jadi, Mama menghubunginya dan meminta uang mama untuk membayar tagihan makanan kita. Tapi...."
"Ma, bukankah aku dan kak Abimanyu sudah mengatakan kepada Mama bahwa kita harus menghemat pengeluaran dan mulai menata kehidupan kita kembali."
"Salsa tahu kehidupan kita berat sejak Mama dan Papa memutuskan untuk berpisah. Tapi, Salsa ingin Mama meninggalkan kebiasaan mama yang selalu berfoya-foya dan berpesta ria bersama teman-teman Mama, yang sebenarnya itu tidak bermanfaat sama sekali."
"Haduh Salsa, kamu itu masih anak bau kencur mana ngerti sih urusan orang dewasa. Udah lah, sebaiknya kita pulang." Ucap Erin.
Salsa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, belakangan Salsa mengetahui bahwa alasan dari Papanya bercerai dengan Mama karena Mama selalu menghabiskan uang.
Sebenarnya, Pak Johnson bukanlah orang yang terbilang pelit pada keluarga. Hanya saja, perusahaan sedang mengalami masalah yang mengakibatkan keuntungan menurun hingga 70% persen.
Setelah ditelusuri ternyata, Erin dengan sengaja mengambil keuntungan itu untuk kepentingan pribadi.
Awalnya, Pak Johnson memberikan nasehat. Satu, dua kali kesalahan masih bisa dimaafkan tapi untuk yang terakhir benar-benar membuat hati Pak Johnson kecewa.
Erin bukan tanpa alasan meminta Abimanyu dan Salsa untuk ikut dengannya.
Abimanyu adalah satu dari empat bersaudara yang sudah memiliki pekerjaan. Sementara Salsa, adalah mahasiswa kedokteran semester akhir yang hanya tinggal menunggu wisuda.
Hal itu membuat Erin tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk pendidikan mereka.
Erin yang sudah terbiasa dengan kehidupan glamour dan berfoya-foya, saat harus berpisah dengan suami yang bisa dibilang sultan, Tentu saja tidak serta-merta membuat Erin langsung menghentikan kebiasaannya itu.
Gengsi.
Karena itulah Erin selalu mencari cara untuk tetap bisa tampil glamor dan pergi bersama teman-temannya. Salah satunya adalah meminta uang dari Vania dengan alasan sebagai balas.
Erin tidak mungkin meminta uang kepada Abimanyu untuk kepentingan pribadi, karena Abimanyu sudah bersedia menghidupi biaya dari ibu dan adiknya itu.
__ADS_1
Abimanyu tidak tahu bahwa Erin masih tetap dengan gaya hidupnya yang glamor setelah dia berjanji akan merubah sikap.
Mobil Avanza adalah satu-satunya kendaraan milik Abimanyu.
Dan rumah modern berlantai 2 adalah rumah yang dibeli dari hasil pembagian penjualan mansion.
Salsa langsung masuk ke dalam kamar tanpa mempedulikan panggilan dari Erin.
"Salsa, apa kamu marah kepada Mama?" Tanya Erin sambil ikut masuk ke dalam kamar Salsa.
"Tidak, Salsa tidak marah Salsa hanya kecewa kepada Mama karena nyatanya Mama masih belum meninggalkan kebiasaan Mama."
"Terus kamu minta Mama melakukan apa?"
"Ma, jangan karena Kak Abimanyu sudah bekerja jadi Mama tidak mau berusaha untuk membantu menunjang kehidupan kita."
"Lah, bukan salah Mama dong toh Abimanyu sendiri kan yang berkata bahwa dia yang akan menunjang kebutuhan kita. Kamu juga sebentar lagi jadi dokter, jika kamu meminta Mama untuk bekerja untuk apa?"
Salsa menghela nafas panjang karena dia tidak mengerti jalan pikiran dari mamanya itu.
"Salsa mau istirahat ma."
"Baiklah, selamat tidur Putri cantik Mama." Erin mencium pipi Salsa sebelum akhirnya dia keluar dari kamar. Sementara Salsa hanya tersenyum.
Erin masuk ke dalam kamarnya dan terus mencoba menghubungi ponsel Vania yang tidak aktif.
...----------------...
Pagi harinya....
Vania terbangun setelah diam dengan suara ketukan pintu.
"Puput?" Pekik Vania.
"Riko membawakan makanan untuk kita berdua jadi sebaiknya kita makan bersama."
Vania tersenyum lalu membiarkan Puput masuk, sementara dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
"Vania, untuk sementara kamu tidak perlu pergi kuliah. Istirahat saja."
"Ya, kamu benar karena tidak mungkin juga aku pergi ke kampus dalam keadaan seperti ini." Ucap Vania sambil tersenyum.
"Aku sudah kenyang, habiskan makanannya dan aku harus bersiap-siap karena aku masuk pagi hari ini."
"Terima kasih karena sudah mau membawakan makanan ini kepada ku."
"Terima kasihnya kepada Riko, aku hanya membawakannya untuk mu."
__ADS_1
Vania hanya tersenyum sebelum akhirnya dia melihat Puput keluar dari dalam kamarnya.
Vania memutuskan untuk menghabiskan hari dengan mengerjakan tugas-tugas kuliah yang sempat terbengkalai karena Vania lebih fokus mengerjakan tugas dari dua saudara tirinya.
Vania memutuskan untuk mengerjakan tugas kuliahnya di luar kamar, sambil menikmati udara segar agar dirinya merasa jauh lebih baik.
Tiba tiba, seseorang mendatangi Vania.
"Untung kamu ada disini." Pekik Erin.
"Mama, ah, maksud ku Tante."
"Berani-beraninya ya kamu tidak memberikan aku uang, padahal sebelumnya saat kamu tinggal bersama denganku, aku tidak pernah telat untuk memberikan kamu uang."
"Maaf Tante, tapi Vania memang tidak memiliki uang. Vania belum bekerja."
"Ya, itu bukan urusan aku. Yang menjadi urusan aku adalah saat aku meminta uang kamu harus memilikinya. Kamu harus ingat ketika kamu meminta uang kepada suamiku dulu, dia selalu memberikannya kepadamu."
Vania terdiam, ingin sekali rasanya dia mengatakan bahwa dia tidak pernah meminta duluan. Pak Johnson lah yang selalu memberikan uang setiap bulannya kepada Vania.
"Maaf Tante, untuk sekarang Vania benar-benar tidak memiliki uang." Ucap Vania sambil menunduk dan tidak berani melihat Erin.
"Heh..." Erin menarik wajah Vania dan dia sedikit terkejut melihat luka lebam yang ada padanya.
"Vania.."
Vania langsung menunduk dan menata rambutnya agar luka lebam itu tidak terlihat.
Mata Erin kemudian melihat amplop yang berada di tas Vania.
Erin mengambil amplop itu dan menghitung uangnya, jumlahnya 2 juta.
"Apa yang terjadi padamu?" Ucap Erin saat dia baru saja selesai menghitung jumlah uang yang ada di dalam amplop.
"Aku tidak yakin jika tante ingin tahu apa yang terjadi padaku." Ucap Vania.
"Ya, kamu memang benar aku sudah tidak peduli tentang dirimu. Dan ya, sebenarnya aku mempedulikan uang ini. Tapi, karena sepertinya kamu mengalami musibah jadi aku hanya akan meminta setengahnya saja."
Erin mengambil sejumlah uang dan meletakkan kembali amplop itu di atas meja.
"Lain kali, jangan membuat aku datang menemuimu untuk mengambil uang. itu membuatku terlihat seperti seorang pengemis saja." Ucap Erin sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Vania.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Tidak ada kah di dunia ini yang mau peduli terhadap aku.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...