Ternyata Aku Sendiri...

Ternyata Aku Sendiri...
Bab 19 : Kesempatan


__ADS_3

"Bukankah kemarin aku sudah mengatakannya kepadamu, bahwa aku tidak suka dengan orang yang terlalu menindas orang lain."


"Jadi, jika kakak tidak menyukai Vania. Apa kakak akan menyukai aku?"


"Jangan bicara omong kosong." Ucap Bara.


"Kalau begitu, apa kakak mau menjadi kekasih ku?" ucap Naura sambil tersenyum dan memegang tangan Bara, lalu menarik tangan itu agar menyentuh pipinya.


Naura melakukan itu bukan tanpa alasan, Dia tidak sengaja melihat mahasiswa yang biasa merekam momen apa saja yang terjadi di lingkungan kampus.


Melihat, Bara menyentuh pipi Naura, tentu saja menarik perhatian mahasiswa tadi.


"Aku menyukai kak Bara." ucap Naura yang kemudian sengaja menjatuhkan diri pada Bara sehingga terlihat seolah-olah mereka sedang berpelukan.


Mahasiswa itu segera pergi setelah mendapatkan momen di mana Bara memegang pipi Naura dan berpelukan.


"Maaf, aku tidak sengaja." ucap Naura sambil tersenyum setelah menyadari bahwa mahasiswa tadi sudah pergi.


"Maaf juga, karena tadi aku sudah lancar mengatakan bahwa aku menyukai kak Bara."


"Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiranmu, yang jelas aku akan menegaskan sekali lagi kepadamu. Aku tidak menyukai Vania terutama aku juga tidak menyukai mu. Aku hanya ingin setelah ini kamu berhenti mengganggu Vania."


Setelah mengatakan itu, Bara segera pergi meninggalkan Naura.


"Kak Bara, sebentar lagi kamu pasti akan menjadi milikku.." pekik Naura sambil tersenyum.


...----------------...


Erin pulang ke rumah dalam keadaan kesal karena Johnson terus aja memperingatkan dia.


"Johnson itu, masih saja sama seperti dulu. Pelit. Seandainya saja, dia itu mengerti bahwa apa yang aku lakukan itu bukan semata-mataku menghambur-hamburkan uang, tapi aku sedang mencoba untuk menjernihkan pikiran setelah aku sibuk mengurus rumah tangga. Memangnya salah jika aku melakukan sesuatu yang membuat diriku senang."


Erin segera masuk ke dalam rumah untuk mencari dan menghitung berapa sisa uang dari hasil penjualan berlian.


"Huft, tinggal 10 juta." pekik Angelina.


"Ya sudah lah, tidak apa-apa. Lagi pula, sebentar lagi Salsa akan magang, itu akan membuat pengeluaran untuk biaya kuliahnya akan semakin minim."


Erin lalu menelpon teman-temannya dan menanyakan keberadaannya, setelah mengetahui bahwa teman-temannya sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan. Angelina bergegas pergi ke sana dan bersenang-senang bersama dengan teman-temannya.


Sementara itu, Vania yang baru saja akan meninggalkan kampus. Terkejut saat melihat suami dari ibunya. Pak Wisnu.


"Sudah mau pulang ya?" tanya Pak Wisnu.


Vania hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Jujur, ada sedikit rasa trauma pada Vania ketika melihat wajah Pak Wisnu.

__ADS_1


"Kenapa kamu tegang begitu, aku datang ke sini dengan baik."


"Apa ada sesuatu yang berkaitan denganku, sehingga Anda datang menemuiku?" tanya Vania dengan hati hati.


"Ya, ibumu sakit dan dia ingin aku membawamu datang."


Vania terdiam. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Aku akan meluangkan waktu untuk datang menjenguknya hari ini setelah aku bekerja."


"Baiklah, aku akan menunggumu di rumah."


Vania sedikit merinding ketika Pak Wisnu mengatakan bahwa dia akan menunggu Vania di rumah.


Vania segera menepis pikiran negatif, dan melajukan motornya untuk pulang.


Sesampainya di mess..


Vania menceritakan pertemuannya dengan Pak Wisnu juga tentang ibunya yang sakit kepada Puput.


"Sebaiknya kamu datang, mana tahu ibumu memang benar-benar sakit ya ingin bertemu denganmu." Ucap Puput.


Vania menghela nafas panjang. Jujur saja, masih ada rasa takut dalam hatinya ketika harus bertemu kembali dengan Pak Wisnu yang hampir saja melecehkan dirinya.


"Vania..." panggil Puput saat melihat Vania hanya diam.


"Emm, begini saja bagaimana kalau aku ikut kamu mengunjungi Ibu kandungmu."


"Apa kamu tidak keberatan?" tanya Vania.


"Tentu saja tidak."


"Baiklah, kalau begitu setelah ini aku akan meminta izin kepada Riko untuk lebih awal menyelesaikan pekerjaanku." ucap Vania.


"Lakukan lah, soal aku kamu tidak perlu meminta izin karena sebenarnya hari ini adalah hari liburku." ucap Puput.


"Baiklah, kalau begitu kita akan berkunjung ke rumah Ibu kandungku setelah pukul 19.00."


"Baiklah."


Pukul 19:00...


Vania dan Puput melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah ibu kandung Kania yang jaraknya sekitar 1 jam dari mess tempat di mana Vania.


Sesampainya di rumah, rumah itu terlihat sepi. Vania menekan bel pintu dan tidak lama kemudian pintu terbuka.

__ADS_1


"Vania, aku pikir kamu tidak datang." ucap orang yang membukakan pintu. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Wisnu sendiri.


"Saya sudah mengatakan akan meluangkan waktu setelah jam kerja saya untuk mengunjungi ibu." ucap Vania sambil tersenyum dan berusaha untuk mengontrol dirinya yang ketakutan.


"Kalau begitu segera masuk saja ke dalam kamarnya, ibumu sedang istirahat." ucap Pak Wisnu sambil berjalan dan diikuti oleh Vania serta Puput.


Vania sedikit bingung kenapa Pak Wisnu tidak bertanya tentang siapa yang datang bersamanya.


Vania memilih untuk tidak bertanya karena saat itu mereka sudah sampai di kamar Angelina.


Vania melihat Angelina terbaring lemah.


"Ibu..."


"Vania..." pekik Angelina yang berusaha untuk bangun.


"Kalian mengobrol saja aku ada urusan penting yang harus diselesaikan malam ini." ucap Pak Wisnu.


"Ibu sakit apa?" tanya Vania beberapa saat setelah Pak Wisnu pergi.


"Ibu mungkin hanya terlalu lelah."


"Dimana Cantika dan Kanaya?"


"Mereka sedang melakukan tugas kuliah dan katanya mereka akan menginap selama 3 hari. Karena itu, Ibu meminta Pak Wisnu untuk menemuimu dan memintamu untuk datang agar bisa menemani Ibu selama Cantika dan Kanaya tidak ada di sini."


"Maaf, saat itu Ibu langsung mengusir kamu karena Ibu merasa emosi."


Vania terdiam, sebenarnya ingin sekali Dia bercerita bahwa dia tidak bersalah. Tapi percuma saja menjelaskan karena Vania yakin ibunya akan lebih percaya pada apa yang disampaikan oleh anak dan juga suaminya.


"Suamiku juga akan pergi keluar kota jadi aku bisa memintamu untuk tinggal di sini, dan aku tidak perlu khawatir kamu akan menggoda suamiku lagi."


Puput terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Angelina. Puput langsung memainkan mata kepada Vania, seolah-olah meminta Vania untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


"Vania, kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya, jika bukan kamu yang merayu Pak Wisnu tapi Pak Wisnu yang akan melecehkan kamu." ucap Puput saat Vania keluar kamar untuk membuatkan Angelina makanan hangat.


"Biarkan saja, satu pendapatku akan kalah dengan tiga pendapat yang mendukung bahwa akulah yang sudah merayu Pak Wisnu."


"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran dari ibu kandung. Dia sudah mengusir kamu dengan tuduhan kamu mencoba merayu suaminya, dan sekarang dia mengharapkan kamu untuk tinggal di sini dan merawatnya."


"Vania, aku harap kamu tidak akan pernah mau tinggal di sini."


"Siapa kamu yang berani menghasut Vania agar dia tidak tinggal di sini."


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2