
Bara berjalan memasuki ruangan, dia melihat Riko yang terbaring lemah dengan seluruh alat terpasang ditubuhnya.
Tidak ada yang mengetahui bahwa Riko menderita tumor otak yang sudah memasuki stadium akhir..
Malam dimana Riko harus berpamitan kepada Vania. Dia sudah merasakan sakit yang luar biasa. Hanya saja, dia tidak ingin membuat Vania khawatir apalagi sampai mengetahui tentang penyakit yang sebenarnya dia derita.
Riko, adalah orang pertama yang jatuh cinta kepada Vania sejak pertama kali Vania melamar sebagai karyawan di toko roti itu.
Itulah yang membuat Riko memilih untuk bekerja sebagai karyawan di toko milik keluarganya sendiri.
Saat Riko berencana untuk memberitahukan perasaannya kepada Vania, saat itulah dia mengetahui bahwa dirinya mengidam tumor otak.
Makin lama, Riko yang terlalu fokus bekerja dan kurang beristirahat, serta tidak teratur memeriksakan sakit yang dia alami. Membuat tumor itu berkembang dengan sangat cepat.
Orang tua Riko, tidak ingin mengambil resiko atas keselamatan diri Riko. Mereka segera membawa Riko berobat ke luar negeri. Biaya yang harus dikeluarkan sangat besar mengingat kanker yang sudah diderita Riko memasuki stadium 4.
Semua harus mereka jual demi bisa mendapatkan pengobatan yang terbaik. Termasuk menjual toko roti dengan harga yang tinggi.
Riko berpesan agar tidak mengatakan yang sebenarnya kepada para karyawan toko termasuk Vania.
"Hai, bagaimana keadaan mu?" Tanya Bara.
"Aku baik, Bagaimana apakah kamu sudah menemukan keberadaan Vania?" Yang Riko.
"Sudah, dia bekerja di toko buku sekarang." Ucap Bara sambil tersenyum.
"Hmm, Aku sungguh merindukannya."
"Aku bisa membawanya ke mari jika kamu mau."
"Tidak, Aku tidak ingin dia mengetahui tentang keadaanku yang sebenarnya." Ucap Riko.
Maafkan aku Riko, aku terpaksa berbohong kepadamu demi membuat kamu merasa senang. Jika Aku mengatakan yang sebenarnya bahwa aku belum bisa menemukan keadaan Vania. Aku takut kondisimu semakin memburuk. Aku janji, setelah ini aku akan berusaha lebih keras lagi untuk menemukan Vania.
...----------------...
"Penting bagi Anda untuk mengetahui gejala dan penanganan kanker otak, terutama yang sudah memasuki stadium 4. Kanker otak stadium 4 yang tidak segera ditangani dapat mengancam nyawa penderitanya." Ucap dokter saat keluarga Riko berkonsultasi dengan penyakit yang sedang diderita oleh Riko.
__ADS_1
"Stadium atau tingkat keparahan kanker menjadi gambaran tentang pertumbuhan sel kanker dan sejauh mana penyebarannya. Pada kanker otak stadium 4, sel kanker tumbuh secara agresif dan masif, hampir semua sel nya sudah berbentuk abnormal, dan penyebarannya umumnya sudah cukup luas bahkan menyebar ke bagian di luar otak, seperti tulang belakang."
"Gejala yang bisa ditemukan pada kanker otak stadium 4 adalah sakit kepala hebat yang terjadi secara menetap atau berulang. Contohnya, penderita bisa mengalami sakit kepala yang begitu menyakitkan selama berminggu-minggu dan sulit hilang meski sudah mengonsumsi obat pereda nyeri, seperti parasetamol, aspirin, atau lainnya. Nyeri hebat ini tak jarang menyebabkan penderitanya meminta dilakukan tindakan euthanasia. Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter dan psikolog yang menangani untuk diberikan saran yang sesuai."
Mama Riko memegang tangan papa, seolah-olah ingin memberitahukan bahwa sebelum mereka memutuskan membawa Riko ke dokter. Riko sering mengalami gejala yang baru saja dikatakan dokter.
"Apa yang harus kita lakukan untuk kesembuhannya?" Tanya papa.
"Kanker otak stadium 4 umumnya akan sulit disembuhkan. Meski demikian, penanganan yang cepat dan tepat dapat mengurangi keluhan dan memperlambat pertumbuhan sel kanker."
"Tidak adakah jenis pengobatan atau tindakan medis yang bisa dilakukan untuk menyembunyikan penyakit yang sedang diderita anak saya?" Tanya Mama dengan berlinang air mata.
"Beberapa jenis penanganan medis yang bisa dilakukan untuk mengatasi kanker otak stadium 4 adalah...."
Dokter kemudian menjelaskan beberapa penanganan yang dapat dilakukan, seperti operasi, kemoterapi, Radioterapi dan target terapi.
Pada beberapa kasus, tindakan operasi bisa dilakukan untuk menangani kanker otak stadium 4. Prosedur pembedahan dilakukan dengan cara membuka tengkorak kepala (kraniotomi) dan dilakukan pengangkatan tumor ganas yang bersarang di otak.
Riko sudah menjalani operasi pertamanya, namun operasi itu tidak membuat keadaannya semakin baik.
Tumor itu rupanya sudah menggerogoti seluruh tubuhnya.
Radioterapi bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker yang mungkin masih tersisa, serta memperlambat pertumbuhan sel kanker yang tidak bisa diangkat dalam tindakan bedah.
Hari ini, tepat 3 bulan Riko menjalani perawatan.
"Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa rasa sakit, tawa tanpa kesedihan, atau matahari tanpa hujan, tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari ini, penghiburan untuk air mata, dan terang untuk jalan." Ucap Riko saat dia mengatakan bahwa dia ingin berhenti dari segala pengobatan yang menyiksanya.
"Nak, kenapa kamu menginginkan hal itu. Apa kamu tidak ingin sembuh? bukankah kamu mengatakan jika kamu ingin membahagiakan Vania?" Tanya Mama sambil menahan air matanya agar tidak terjatuh di hadapan Riko.
"Waktu makin singkat. Tapi, setiap hari aku menantang kanker ini dan bertahan hidup adalah kemenangan bagiku. Namun, Aku sudah lelah menentang kanker ini dan rasanya ingin menyerah saja."
"Riko, kamu harus bertahan. Kamu harus kuat.."
...----------------...
Beberapa hari setelah itu, Riko dinyatakan kritis. Hal itu tentu saja membuat sedih kedua orang tua Riko.
__ADS_1
Bara yang mendengar kabar itu dari kedua orang tua Riko. Memutuskan untuk meminta bantuan dari teman-temannya mencari keberadaan Vania.
Bara tahu, Riko sangat merindukan Vania.
Hingga akhirnya, Bara berhasil menemukan Vania. Vania dan Bella mempunyai stand berjualan kue sendiri di salah satu mall besar yang ada di kota itu.
Vania dan Bella memutuskan menggunakan uang tabungan masing-masing untuk berjualan kue.
Kedatangan Bara tentu saja mengejutkan Vania.
Selama 2 bulan terakhir ini, Vania benar-benar seperti hilang dari orang-orang yang pernah mengenalnya.
Walaupun Vania berulang kali menerima email dari kampus dan juga dari Johnson, Vania memilih untuk tidak menanggapinya dan justru menjual laptop itu sebagai tambahan biaya usaha yang akan mereka lakukan.
"Bara..."
"Vania, jelas saja aku tidak dapat menemukanmu. Ternyata kamu berada di bagian yang berlawanan dari tempat di mana dulu kamu berada."
"Bara, ada apa kamu mencariku?. Aku mohon, aku sudah mendapatkan hidup yang jauh lebih baik. Jika kamu menemukanku di sini, itu artinya keberadaanku akan diketahui oleh yang lainnya juga."
"Vania, jika ini tidak menyangkut tentang Riko. Aku pasti akan membiarkanmu menjalani kehidupan seperti yang kamu inginkan."
"Riko? ada apa dengan nya?"
Bara kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Riko, dan alasan di balik kepergian Riko.
"Pergilah, biarkan aku yang mengurus stand kita selama kamu pergi." Ucap Bella yang saat itu juga menyimak apa yang Bara katakan.
Malam itu juga, Vania dan Bara pergi ke luar negeri untuk menemui Riko.
Dengan perlahan, Vania berjalan menuju ruangan tempat di mana Riko terbaring lemah.
Air mata nya tidak mampu lagi dia tahan, dia menangis sambil terus melangkahkan kakinya mendekati Riko.
"Riko..."
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...